6 Cara Terapi Anak Autis di Rumah

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by redaction team, read our quality control guidelance for more info

Anak autis memiliki kebutuhan unik dan sering kali memerlukan program terapi di rumah untuk mengatasi gejala dan meningkatkan keterampilan. Melakukan terapi sejak dini dapat meningkatkan kemungkinan keberhasilan anak[1].

American Academy of Pediatrics (AAP) menganjurkan untuk memulai mencari terapi sesegera setelah anak diduga memiliki autisme, daripada menunggu diagnosis formal[1].

Berikut beberapa jenis terapi untuk anak autis yang dapat dilakukan oleh orang tua di rumah:

1. Terapi Bermain

Anak autis sering kali bermain dengan cara berbeda dari anak lain. Anak autis lebih fokus pada bagian tertentu mainan (misalnya roda) daripada mainan itu secara utuh. Anak autis dapat pura-pura bermain seperti anak lain, tapi mereka tidak ingin bermain dengan anak-anak lain[1].

Terapi bermain ialah terapi yang dilakukan melalui permainan. Bagi anak autis, bermain dapat menjadi cara mengekspresikan diri. Bermain juga dapat membantu anak autis untuk belajar dan berhubungan dengan orang lain[1, 2].

Terapi bermain bertujuan untuk membangun kemampuan interaksi sosial dan komunikasi anak autis. Selain itu, terapi bermain juga membantu meningkatkan kemampuan anak untuk melakukan aktivitas jangka panjang dan permainan simbolis[2].

Terapi dapat dilakukan dengan mengajak anak memainkan permainan tangkap dan gelitik, meniup gelembung, atau aktivitas sensorik seperti bermain ayunan atau seluncuran[2].

2. Terapi Floortime

Floortime merupakan terapi autis di rumah yang berfokus pada anak kecil usia 22-48 bulan. Terapi floortime dikembangkan berdasarkan pemikiran bahwa anak autis memerlukan jenis interaksi sosial spesifik untuk meningkatkan kemampuan komunikasi verbal dan nonverbal mereka[3].

Floortime termasuk terapi bermain yang umum dilakukan. Untuk melakukan terapi ini, orang tua dapat ikut duduk di lantai untuk bermain bersama anak. Orang tua dapat mengikuti bermain dengan cara yang dilakukan anak kemudian menambahkan sesuatu dalam permainan[1].

Misalnya dengan menambahkan mainan lain atau beberapa kata untuk meningkatkan kemampuan bahasa anak. Orang tua hendaknya membuat permainan yang melibatkan interaksi antara anak dan dengan orang tua untuk meningkatkan komunikasi[1].

Terapi ini dapat membantu anak berkembang secara emosional dan belajar bagaimana cara memfokuskan pikiran[1].

Spesialis floortime menganjurkan terapi ini lebih baik selama 20 menit sebanyak 6-10 kali per hari, daripada dilakukan dalam beberapa jam satu kali[3].

3. Terapi Bicara

Dalam terapi bicara diajarkan kemampuan verbal yang dapat membantu anak autis untuk berkomunikasi dengan lebih baik. Anak kecil yang didiagnosa dengan autisme level 2 atau 3 dapat memerlukan bantuan terapi bicara sejak dini[3, 4].

Terapi bicara membantu anak memperbaiki kecepatan dan ritme bicara, serta kemampuan penggunaan kata yang tepat[4].

Orang tua dapat mengajarkan atau melatih artikulasi, kosakata, analogi, dan penyusunan kata pada anak autis[5].

Terapi anak autis yang masih balita biasanya berfokus pada keterikatan, permainan yang bermakna, bahasa tubuh, dan interaksi. Terapi dapat dilakukan sebagai bagian dari kegiatan sehari-hari, misalnya mengajak anak bicara atau meniru suara hewan saat anak mengenakan baju atau mandi[6].

Terapi bicara juga dapat dilakukan sambil mengajak anak melakukan permainan, seperti rumah-rumahan atau dengan menyanyikan lagu yang disukai[6].

4. Applied Behaviour Analysis (ABA)

Applied behaviour analysis atau analisis perilaku terapan merupakan salah satu pilihan yang paling banyak digunakan baik untuk anak autis atau pun orang dewasa autis. Terapi ABA mengacu pada serangkaian teknik yang dirancang untuk meningkatkan perilaku positif menggunakan sistem reward (penghargaan)[2, 4].

Prinsip utama terapi ABA ialah penguatan positif. Anak akan diberikan penghargaan saat melakukan perilaku baik sehingga akan meningkatkan motivasi anak untuk melakukan hal positif[3].

Dalam terapi ABA, perilaku yang tidak sesuai yang dilakukan oleh anak autis biasanya diabaikan dan lebih berfokus untuk mendukung perubahan positif[3].

Orang tua dapat menggunakan konsep dasar dari ABA dalam berbagai setting tanpa memerlukan pelatihan formal. Konsep dasar ABA sangat sederhana dan intuitif, meliputi[2]:

  • memilih keterampilan yang hendak diajarkan, misalnya menggosok gigi
  • membagi keterampilan menjadi beberapa langkah yang sederhana
  • menunjukkan pada anak bagaimana langkah pertama dilakukan. Anak autis dapat diberikan contoh langsung mengenai keterampilan yang diajarkan. Setelah anak memahami caranya, minta ia untuk melakukannya sendiri
  • jika anak melakukan dengan baik, sebaiknya diberi pujian dan penghargaan sederhana. Jika anak tidak mematuhi, minta untuk mencobanya lagi. Jika diperlukan, latihan dapat diulang hingga yakin bahwa anak dapat menghubungkan dengan jelas kata yang digunakan dan tindakan yang diminta
  • Setelah anak berhasil melakukan langkah pertama, ajari langkah selanjutnya
  • jika anak memerlukan dukungan untuk menghubungkan langkah-langkah, dapat diberikan bantuan visual seperti grafik yang menunjukkan langkah dari keterampilan yang sedang diajarkan

5. Relationship Development Intervention (RDI)

RDI merupakan teknik terapi yang dikembangkan secara spesifik untuk orang tua. Seperti floortime, RDI menggunakan teori perkembangan untuk membantu orang tua dalam membantu anaknya membangun keterampilan komunikasi sosial[2].

Namun tidak seperti floortime, RDI memiliki serangkaian tujuan dan aktivitas tertentu, serta memerlukan orang tua yang bekerjasama dengan konsultan untuk memulai terapi[2].

Pendekatan terapi RDI menggunakan kecerdasan dinamik anak untuk meningkatkan kesadaran sosial, terutama melalui interaksi yang lebih alami di antara anggota keluarga. Orang tua perlu diarahkan oleh konsultan untuk membuat rencana perawatan berdasarkan usia anak, tingkat perkembangan, dan kemampuan saat ini[7].

RDI berupaya untuk mengubah cara berpikir yang tidak fleksibel yang mana merupakan salah satu tanda paling umum anak autis. Selain itu RDI mempengaruhi pengalaman berbagi, yang mana meningkatkan kemampuan anak untuk bersosialisasi dengan orang lain[7].

6. Parent Child Interaction Therapy (PCIT) untuk Perilaku Agresif

Beberapa anak autis memiliki perilaku agresif yang membuat mereka sulit keluar rumah atau berpartisipasi dalam aktivitas umum. PCIT dimaksudkan untuk anak dengan perilaku agresif. Terapi ini dilakukan oleh orang tua yang dilatih oleh konsultan[2].

Metode latihan PCIT dirancang khusus untuk membantu meningkatkan cara mengasuh anak dan keterampilan bahasa serta untuk membantu anak mempelajari cara mengendalikan emosi dengan lebih baik[8].

Masa penguatan hubungan dalam terapi PCIT ditujukan untuk meningkatkan dan memperkuat ikatan antara orang tua dan anak. Anak memilih kegiatan atau mainan yang digunakan untuk bermain bersama orang tua. Orang tua menggunakan keterampilan penguatan positif yang dipelajari dari terapis atau konsultan[8].

Berikut keterampilan yang digunakan dalam PCIT[8]:

  • Memuji: anak autis diberi pujian saat melakukan tindakan baik
  • Refleksi: perkataan anak diulangi dan diteruskan oleh orang tua, yang mana akan meningkatkan komunikasi
  • Imitasi: orang tua mengajarkan dan menunjukkan persetujuan dengan menirukan apa yang dilakukan oleh anak
  • Deskripsi: orang tua mendeskripsikan apa yang dilakukan anak untuk membantu anak membangun kosakata dan menunjukkan bahwa orang tua memperhatikan kegiatan anak
  • Kesenangan: orang tua menunjukkan antusias pada kegiatan anak
fbWhatsappTwitterLinkedIn

Add Comment