Amputasi: Prosedur – Perawatan – Risiko

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by redaction team, read our quality control guidelance for more info

Tinjauan Medis : dr. Fendria Suwangsana
Amputasi adalah prosedur memotong secara bedah anggota gerak tubuh yang rusak dikarenakan berbagai penyebab. Penyebab rusaknya anggota gerak bisa berupa trauma baik trauma tumpul maupun trauma tajam,... atau bagian tubuh tersebut rusak dikarenakan insufisiensi pembuluh darah baik arteri maupun vena. Kaidah dasar amputasi adalah, bahwa anggota tubuh yang terkena diyakinkan sudah mati secara jaringan maupun perdarahan dan persarafan, dan bila terjadi proses pembusukan, proses tersebut dapat mengancam jiwa pasien. Level amputasi diusahakan se ujung mungkin (menyisakan bagian yang sehat sebanyak mungkin) tetapi juga mempertimbangkan kemudahan prostesa yang akan diterapkan pada pasien. Satu hal yang juga harus diperhatikan adalah konseling kejiwaan setelah amputasi disebabkan kehilangan anggota gerak dan menyesuaikan kehidupan dengan disabilitas bisa menjadi suatu masalah kejiwaan yang besar. Read more

Tindakan operasi untuk mengambil (memotong) seluruh atau sebagian dari tangan atau kaki disebut amputasi. Prosedur ini bisa dilakukan untuk mengatasi luka, penyakit, atau infeksi yang tidak bisa diobati dengan cara lain. [1, 2]

Pada beberapa kasus, amputasi juga dianggap perlu dilakukan untuk mengambil tumor dari tulang dan otot. [1, 2, 5, 6]

Jenis-Jenis Amputasi

jenis amputasi
lokasi amputasi (src physio-pedia com)

1. Amputasi Tubuh Bagian Bawah

Prosedur ini termasuk amputasi mulai dari jari hingga seluruh bagian kaki dan sebagian panggul.[5]

  • Amputasi sebagian kaki – biasanya pengambilan atau pemotongan satu atau beberapa jari kaki. Amputasi jenis ini akan mempengaruhi cara berjalan pasien dan juga keseimbangannya.
  • Disartikulasi pergelangan kaki – yaitu pemotongan kaki sebatas mata kaki, sehingga pasien masih bisa berjalan dan beraktivitas tanpa bantuan prosthesis atau kaki palsu.
  • Amputasi bawah lutut (transtibial) – pemotongan kaki dibawah lutut yang masih mempertahankan fungsi sendi lutut.
  • Amputasi lutut – pemotongan kaki bagian bawah dan sendi lutut. Bagian kaki yang tersisa masih bisa menahan beban tubuh karena seluruh tulang paha masih dipertahankan.
  • Amputasi atas lutut (transfemoral) – pemotongan kaki diatas sendi lutut.
  • Disartikulasi panggul – pemotongan seluruh bagian kaki termasuk tulang paha. Variasi dari amputasi jenis ini masih menyisakan tulang paha bagian atas juga sendi panggul agar posisi duduk masih terasa nyaman.
  • Transpelvic – pemotongan seluruh bagian kaki serta sebagian panggul

2. Amputasi Tubuh Bagian Atas

Prosedur jenis ini beragam mulai dari pemotongan sebagian jari hingga seluruh lengan dan sebagian dari bahu.[5]

  • Amputasi sebagian tangan – mencakup ujung jari hingga seluruh bagian jari. Ibu jari adalah yang paling sering diambil dan bisa mengakibatkan kesulitan menggenggam serta menggunakan atau mengambil objek. Jika jari lain yang diamputasi, tangan masih bisa menggenggam tapi dengan presisi yang menurun.
  • Amputasi metacarpal – yaitu pemotongan seluruh bagian tangan, namun pergelangan masih dipertahankan.
  • Disartikulasi pergelangan tangan – pemotongan seluruh tangan dan sendi pergelangan.
  • Amputasi bawah siku (transradial) – yaitu pengambilan lengan hingga bawah siku.
  • Disartikulasi siku – amputasi lengan sampai bagian siku.
  • Amputasi atas siku (transhumeral) – pemotongan lengan hingga batas atas siku.
  • Amputasi lengan dan disartikulasi bahu – pemotongan seluruh bagian lengan termasuk tulang belikat dan selangka pada bahu.

3. Amputasi Kongenital

Selain dua jenis amputasi di atas, ada juga yang disebut amputasi kongenital, yaitu hilangnya sebagian atau seluruh lengan atau kaki akibat bawaan yang sudah terjadi sejak lahir. [2]

Kondisi yang Membutuhkan Amputasi

Ada beberapa penyebab yang mengharuskan tindakan amputasi untuk dilakukan: [1, 2, 5, 6]

  • Penyakit yang menyebabkan buruknya aliran darah dalam tubuh

Hal ini bisa terjadi jika arteri menyempit atau bahkan rusak. Bila arteri yang terdampak ada di bagian lengan atau kaki, maka disebut peripheral arterial disease atau PAD.

PAD seringnya terjadi pada mereka yang berusia 50 hingga 75 tahun, dan diakibatkan oleh diabetes atau atherosclerosis, yaitu penyempitan pembuluh darah akibat plak yang menumpuk dari lemak atau kolesterol.

Aliran darah yang tersumbat bisa menyebabkan infeksi dan akhirnya jaringan tubuh akan mati dan membusuk sehingga harus dipotong karena sudah tidak bisa diselamatkan dan untuk mencegah infeksi menyebar ke bagian tubuh yang lain.

  • Penyakit yang menyerang tulang dan otot

Beberapa kondisi tulang dan otot yang memerlukan amputasi diantaranya infeksi pada tulang (Osteomyelitis), cedera atau luka parah seperti luka bakar atau akibat kecelakaan dan adanya kanker atau tumor yang menyerang tulang dan otot.

  • Infeksi yang tidak bisa diobati antibiotik

Infeksi tahap lanjut yang tidak bisa diobati oleh antibiotik atau pengobatan lainnya. Pada beberapa kasus, infeksi semacam ini terjadi akibat radang dingin (frostbite) atau neuroma, yaitu penebalan jaringan syaraf.

Prosedur Amputasi

Amputasi bisa dilakukan sebagai tindakan darurat yang harus segera dilakukan meskipun tanpa persetujuan pasien, misalnya pada kasus kecelakaan. Bila ini yang terjadi, maka tidak ada persiapan khusus yang bisa dilakukan pasien.

Namun, bila amputasi dilakukan dengan perencanaan, maka ada beberapa tahap yang harus dilalui. [1, 3, 6]

Persiapan Sebelum Amputasi

  1. Ahli bedah akan menjelaskan bagaimana prosedur amputasi akan berlangsung dan pasien boleh menanyakan hal-hal yang dianggap kurang jelas.
  2. Pasien akan diminta untuk menandatangani surat persetujuan dan formulir yang menyatakan ia memberikan ijin dilakukannya amputasi tersebut. Surat dan formulir ini harus dibaca dengan teliti.
  3. Berbekal riwayat kesehatan pasien, dokter bedah mungkin akan melakukan pemeriksaan fisik sebelum operasi untuk memastikan pasien berada dalam kondisi baik. Tes darah juga mungkin akan dilakukan.
  4. Pasien akan diminta untuk puasa selama 8 jam, biasanya setelah tengah malam.
  5. Pasien harus memberi tahu dokter bila memiliki alergi terhadap obat apapun, latex, atau bius lokal maupun total.
  6. Pasien harus memberi tahu dokter daftar obat dan suplemen yang sedang diminum, baik herbal maupun kimia.
  7. Pasien harus memberi tahu dokter bedah jika pernah mengalami pendarahan atau jika sedang mengonsumsi obat pengencer darah (antikoagulan), aspirin, atau obat-obatan lain yang bisa mempengaruhi penggumpalan darah. Pasien mungkin akan diminta untuk menghentikan konsumsi obat-obatan tersebut sebelum prosedur dilakukan.
  8. Dokter akan mengukur bagian tubuh yang akan diamputasi, jika kemudian kaki atau tangan palsu akan dipasang.
  9. Pasien mungkin akan diberi obat penenang.
  10. Berdasarkan kondisi kesehatan pasien, dokter mungkin akan melakukan persiapan-persiapan tambahan lainnya.

Selain itu, pasien juga disarankan untuk mempersiapkan rumah atau tempat yang akan ditinggali pasca operasi:

  • Rencanakan bantuan apa yang akan dibutuhkan begitu tiba di rumah setelah operasi.
  • Minta anggota keluarga, teman, atau tenaga bantuan medis dari rumah sakit untuk membantu di rumah saat masa pemulihan.
  • Pastikan kamar mandi dan seluruh bagian rumah aman untuk digunakan. Misalnya, singkirkan benda-benda yang mungkin bisa menyebabkan terpeleset atau tersandung.
  • Pastikan pasien bisa keluar dan masuk rumah dengan aman.

Saat Amputasi Berlangsung

Prosedur amputasi bisa berbeda tergantung pada jenis amputasi, kondisi pasien, dan metode pembedahan yang dilakukan oleh dokter.

Amputasi bisa dilakukan saat pasien tertidur dibawah bius total, atau bisa juga dalam keadaan pasien sadar namun dibawah bius tulang belakang.

Jika bius tulang belakang yang digunakan, maka pasien tidak akan merasakan apa-apa dari pinggang ke bawah. Dokter akan mendiskusikan tentang ini lebih dulu dengan pasien untuk melihat pilihan apa yang akan diambilnya. [1, 3]

Secara umum, prosedur amputasi berlangsung seperti berikut:

  1. Pasien akan diminta untuk melepaskan perhiasan dan benda lain yang mungkin akan mengganggu jalannya operasi.
  2. Pasien akan diminta untuk berganti baju menggunakan gaun operasi.
  3. Infus akan dipasang di lengan atau tangan.
  4. Pasien akan dibaringkan di meja operasi.
  5. Dokter anestesi akan memantau detak jantung, tekanan darah, pernafasan, dan kadar oksigen dalam darah selama operasi berlangsung.
  6. Selang kecil (kateter) mungkin akan dimasukkan ke kantung kemih untuk mengeluarkan urin.
  7. Kulit di bagian yang akan dibedah akan dibersihkan dengan cairan antiseptik.
  8. Untuk menentukan seberapa banyak jaringan yang harus diambil, dokter akan memeriksa denyut nadi di bagian terdekat dengan area yang akan diamputasi. Suhu kulit, warna, dan tingkat nyeri di bagian yang terdampak akan dibandingkan dengan bagian tubuh yang sehat.
  9. Setelah membuat sayatan, dokter akan menentukan apakah jaringan yang akan diambil perlu ditambah atau tidak. Dokter akan mempertahankan sebanyak mungkin bagian tubuh yang masih berfungsi juga kulit yang masih sehat untuk menutup bagian yang terpotong nantinya.
  10. Jika amputasi dilakukan karena cedera, maka tulang yang remuk akan dikeluarkan dan bagian yang tersisa akan dihaluskan ujung-ujungnya agar bisa dipasangi kaki atau tangan palsu kemudian. Jika dibutuhkan, selang untuk membuang darah dan cairan lain akan dipasang.
  11. Setelah seluruh jaringan yang mati diambil, dokter mungkin akan menutup bagian yang terpotong dengan jahitan atau membiarkannya terbuka – tergantung dari tingkat keparahan infeksi. Jika dibiarkan terbuka, berarti infeksi masih harus dibiarkan beberapa hari agar jaringan yang terinfeksi bisa dibersihkan. Jika sudah bersih dari infeksi, kulit akan dijahit menutupi bagian yang telah diamputasi sebelumnya.
  12. Perban steril akan dipasang menutupi bagian yang diamputasi.
  13. Dokter juga mungkin akan memasang stoking di bagian yang diamputasi untuk menahan selang pembuangan carian dan perban agar tidak bergeser, atau dipasangi belat.

Risiko Amputasi

Setiap tindakan operasi pasti memiliki risiko atau kemungkinan untuk mengalami komplikasi, meskipun dokter pasti akan berusaha semaksimal mungkin untuk menekan kemungkinan ini.

Pada prosedur amputasi, risiko yang mungkin terjadi adalah: [1, 2, 3, 5, 6]

  • Penggumpalan darah di kaki yang bisa menjalar ke paru-paru
  • Gangguan pernafasan
  • Pendarahan
  • Perasaan bahwa bagian tubuh yang telah diambil masih ada. Ini disebut phantom sensation. Kadang-kadang menimbulkan rasa nyeri yang sesungguhnya hanya ada dalam pikiran saja.
  • Sendi yang paling dekat dengan bagian yang diamputasi kehilangan kemampuan bergerak. Hal ini dikarenakan jaringan lunak di bagian tersebut kehilangan elastisitasnya sehingga tidak bisa meregang.
  • Infeksi kulit atau tulang.
  • Luka bekas amputasi tidak sembuh seperti seharusnya.

Perawatan Pasca Operasi

Di Rumah Sakit, Setelah Operasi

Setelah prosedur amputasi selesai, pasien akan dibawa ke ruang pemulihan. Waktu yang dibutuhkan tiap orang bisa berbeda-beda tergantung dari jenis operasi yang dilakukan dan bius yang digunakan.

Dokter dan perawat akan terus memantau kondisi pasien, jika sudah dianggap stabil, maka akan dipindahkan ke kamar perawatan umum.

Pasien masih harus tinggal di rumah sakit selama beberapa hari untuk dipantau kondisi bagian tubuhnya yang diamputasi. Pada saat ini juga pasien akan diberi beberapa obat termasuk antibiotik untuk mencegah terjadinya infeksi.

Tahap Rehabilitasi

Pasien akan memulai terapi fisik segera setelah operasi. Masa rehabilitasi ini penting dan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pasien; mulai dari peregangan ringan, latihan khusus, dan naik serta turun dari tempat tidur atau kursi roda.

Jika bagian kaki yang diamputasi, maka pasien akan berlatih dan belajar untuk bertumpu pada kaki yang tersisa untuk menahan berat tubuh.

Kehilangan bagian tubuh secara permanen bisa mempengaruhi kepercayaan diri pasien, caranya merawat diri, dan bagaimana ia bergerak.

Ini sebabnya tahap rehabilitasi harus dijalankan agar pasien amputasi bisa menerima dan beradaptasi dengan kondisinya yang baru baik secara fisik maupun mental.

Keberhasilan rehabilitasi ditentukan oleh beberapa faktor:

  • Tingkat dan jenis amputasi
  • Tingkat dan jenis disabilitas yang diakibatkan oleh amputasi tersebut
  • Kondisi kesehatan pasien secara umum
  • Dukungan keluarga dan orang-orang terdekat

Perawatan di Rumah

Begitu sampai di rumah, pasien harus mematuhi semua instruksi yang diberikan oleh dokter bedah.

Instruksi ini termasuk bagaimana cara merawat bagian yang diamputasi, mengganti perban, mandi, tingkat aktivitas yang boleh dilakukan, dan terapi fisik.

Jika terjadi hal-hal berikut, maka pasien harus segera menghubungi rumah sakit:

  • Demam atau menggigil
  • Bagian yang dibedah memerah, bengkak, berdarah, atau mengeluarkan cairan
  • Rasa nyeri yang meningkat di bagian yang diamputasi
  • Mati rasa atau berdenyut di bagian kaki atau tangan yang tersisa

Perawatan di rumah harus dimaksimalkan, terutama untuk menyemangati pasien agar mau dan bisa kembali beraktivitas bersama lingkungannya.

Dukungan yang positif akan membantu proses pemulihan dengan meningkatkan kepercayaan diri dan kemandirian pasien.

Perawatan Jangka Panjang

Jika amputasi dilakukan akibat penyakit yang berhubungan dengan penyempitan dan kerusakan pembuluh darah, maka perawatan lanjutan harus dilakukan untuk mencegah kondisi tersebut terulang lagi dan mempengaruhi bagian tubuh yang lain. [1]

Dokter mungkin akan meminta pasien untuk merubah gaya hidup untuk mencegah dan menghentikan penyebaran kerusakan pembuluh darah dengan cara:

  • Menjaga pola makan sehat yang tidak melebihi batas kalori harian serta rendah lemak jenuh dan kolesterol.
  • Berhenti merokok
  • Menjaga berat badan agar tetap ideal
  • Berolahraga secara teratur

Cara Mencegah Terjadinya Amputasi

Yang perlu dicatat, amputasi hanya bisa dihindari bila berhubungan dengan kondisi kesehatan dan penyakit, bukan karena akibat cedera atau kecelakaan. [7]

1. Perhatikan tubuh Anda

Keharusan menjalani amputasi tidak terjadi tiba-tiba, bila disebabkan oleh penyakit.

Bahkan, sebenarnya, ada tanda-tanda peringatan yang harus diperhatikan oleh mereka yang mengidap diabetes atau kerusakan pembuluh darah seperti mati rasa di bagian tangan atau kaki. Jika mulai terasa, harus segera diperiksakan.

2. Lindungi kaki Anda

Amputasi di tubuh bagian bawah adalah yang paling sering dilakukan. Ini sebabnya mengapa kaki harus selalu dijaga dan dirawat.

Cara paling mudah adalah dengan menggunakan alas kaki yang layak setiap saat agar kaki tidak cedera atau terpapar benda-benda asing yang bisa melukainya.

Jaga kebersihan kaki agar sel kulit mati terlepas dan terbebas dari bakteri yang berbahaya. Kemudian, gunting kuku kaki seminggu sekali untuk mencegah tumbuhnya jamur dan masalah akibat kuku yang tumbuh menusuk daging.

3. Tingkatkan aliran darah

Amputasi umumnya terjadi karena buruknya aliran darah ke salah satu bagian tubuh. Ini sebabnya kesehatan pembuluh darah serta kelancaran alirannya harus selalu diperhatikan.

Merokok adalah penyebab utama memburuknya aliran darah. Semua orang sebaiknya menghindari produk-produk yang mengandung tembakau, terutama bila mengidap diabetes atau penyempitan pembuluh darah.

Olahraga secara teratur juga bisa memperbaiki aliran darah, bahkan sesederhana berjalan kaki atau bersepeda secara rutin setiap hari.

4. Obati luka

Seperti yang sudah disebutkan di atas, penderita diabetes harus sangat berhati-hati bila mengalami luka terbuka. Karena kemungkinan untuk terkena infeksi jauh lebih tinggi dibanding orang yang sehat, penderita diabetes perlu mengobati luka mereka dengan obat khusus serta perawatan yang lebih lanjut daripada luka biasa.

Kisaran Biaya Amputasi di Indonesia

Saat ini biaya amputasi, mulai dari yang ringan hingga berat di Indonesia, berkisar antara 11 juta hingga 45 juta.

Kabar baiknya, tindakan medis ini termasuk yang ditanggung oleh asuransi BPJS sehingga bisa sangat meringankan bagi mereka yang membutuhkan namun terkendala masalah biaya. [8]

fbWhatsappTwitterLinkedIn

Add Comment