Turun Peranakan : Penyebab – Gejala dan Pengobatan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by redaction team, read our quality control guidelance for more info

Apa Itu Turun Peranakan?

Turun Peranakan
Turun Peranakan (img: KJK Hospital)

Turun peranakan disebut juga dengan istilah prolaps uteri, yaitu sebuah keadaan melemahnya jaringan ikat sekaligus otot dasar (ligamen) dari pelvis [1,2,3].

Ligamen dan otot dasar yang meregang otomatis sulit untuk menyangga rahim secara benar dan normal, hal inilah yang kemudian mengakibatkan turun peranakan.

Turunnya rahim karena tidak adanya penyangga memengaruhi kondisi jaringan ikat dan otot dasar pelvis yang kemudian menjadikan rahim menonjol sampai ke vagina.

Pelvis sendiri adalah lokasi beradanya uretra, rektum, usus, dan kandung kemih serta merupakan bagian dari tulang panggul.

Di dalam tulang panggul, terdapat rahim yang dapat berada di tempatnya secara normal karena berbagai ligamen dan otot yang menjadi penyangganya.

Tinjauan
Prolaps uteri adalah istilah lain untuk kondisi turun peranakan, yaitu rahim yang turun mencapai vagina karena melemahnya kondisi otot serta ligamen pelvis.

Fakta Tentang Turun Peranakan

  1. Prevalensi global kasus turun peranakan hingga kini belum diketahui jelas, namun sekitar 40% partisipan wanita pada studi WHI (Women’s Health Initiative) di Amerika Serikat menunjukkan kondisi turun peranakan [1].
  2. Di Amerika, diketahui bahwa 14% dari 27.342 perempuan yang menjalani studi WHI mengalami turun peranakan [1].
  3. Sementara itu, studi Amerika lain menunjukkan bahwa 11% dari 149.554 wanita memiliki risiko operasi seumur hidup untuk kondisi inkontinensia atau turun peranakan di Amerika [1].
  4. Di Amerika, prevalensi turun peranakan pada wanita usai melahirkan anak pertama adalah sekitar 52%, sementara prevalensinya di Indonesia antara 3,4% hingga 56,4% [2].
  5. Menurut data laporan RS Cipto Mangunkusumo, terdapat total 260 kasus turun peranakan dari tahun 2005 hingga 2010 yang diatasi dengan tindakan operasi di mana setiap tahunnya menunjukkan 47-67 kasus [2].
  6. Di RSUP Dr. Kariadi Semarang, selama tahun 2013-2014 terdapat 56 kasus turun peranakan yang lebih banyak terjadi pada wanita yang berlatar pendidikan SMA dan tidak bekerja [2].

Penyebab Turun Peranakan

Terjadinya turun peranakan adalah karena jaringan, ligamen serta otot yang berperan sebagai penyangga rahim di dalam rongga panggul mengalami kelemahan.

Ketiga bagian penting tersebut dapat menyebabkan rahim yang seharusnya tersangga dengan baik mengalami penurunan hingga ke vagina.

Namun selain itu, perlu diketahui bahwa terdapat beberapa faktor yang juga mampu meningkatkan risiko turun peranakan yaitu :

  • Faktor Genetik

Turunnya peranakan dapat berhubungan dengan faktor genetik [1,2].

Kondisi pelvis yang mudah lemah dapat terjadi karena merupakan keturunan dari keluarga, khususnya orang tua yang juga memiliki kondisi sama.

  • Menopause

Salah satu faktor yang mampu menyebabkan seorang wanita mengalami turun peranakan adalah berkurangnya kadar hormon estrogen saat sudah memasuki masa menopause [1,2,4].

Hormon estrogen akan menurun bila indung telur juga berhenti dalam menghasilkannya.

Karena hal ini, kekuatan otot pelvis juga menurun dan berdampak pada rahim.

  • Melahirkan Normal

Persalinan melalui vagina atau persalinan secara normal sangat berisiko pada turunnya peranakan [1].

Jika bayi yang dilahirkan juga memiliki berat badan di atas 4 kg, hal ini lebih meningkatkan risiko rahim turun.

  • Tekanan pada Perut

Tekanan berat pada perut dapat pula menjadikan rahim atau peranakan turun [1].

Faktor-faktor yang mampu berakibat pada timbulnya tekanan di perut adalah seperti batuk kronis, tumor pelvis, obesitas, akumulasi cairan pada perut, dan aktivitas mengejan saat buang air besar.

  • Faktor Lainnya

Faktor lainnya yang mampu memperbesar potensi seseorang dalam mengalami turun peranakan adalah faktor usia (usia yang sudah cukup tua), aktivitas fisik yang terlalu berlebihan, dan kebiasaan merokok [1,2,5].

Mengangkat beban berat terlalu sering adalah jenis aktivitas fisik yang mampu meningkatkan risiko peranakan turun.

Tinjauan
Penyebab turunnya peranakan adalah kondisi jaringan, ligamen serta otot yang berperan sebagai penyangga rahim di dalam rongga panggul mengalami kelemahan.
Namun beberapa faktor turut menjadi pemicu, yaitu faktor genetik, menopause, melahirkan normal, tekanan pada perut, kebiasaan merokok, aktivitas fisik berlebihan, faktor usia, serta obesitas.

Gejala Turun Peranakan

Pada tahap yang masih ringan, biasanya turun peranakan tidaklah menunjukkan gejala sama sekali.

Namun jika tahap kondisi yang dialami penderita sudah pada tahap sedang atau parah, maka sejumlah keluhan seperti berikut ini akan dirasakan [1,2,5] :

  • Punggung bagian bawah terasa nyeri.
  • Saat berdiri, batuk, atau bahkan mengangkat benda berat, bagian pelvis atau rongga panggul akan terasa penuh.
  • Perdarahan di bagian vagina.
  • Kesulitan dalam berjalan karena merasa tidak nyaman.
  • Sembelit
  • Inkotinensia urine atau kondisi keluarnya urine tanpa mampu mengendalikannya.
  • Infeksi kandung kemih yang terjadi berulang.
  • Retensi urine atau kesulitan dalam mengosongkan kandung kemih.
  • Terasa ada yang hendak keluar dari vagina (efek dari turunnya rahim hingga ke vagina).
  • Sulit dan tidak nyaman ketika harus berhubungan intim dengan pasangan karena turunnya rahim.

Umumnya, keluhan gejala justru tidak terlalu dirasakan pada pagi hari.

Hanya saja ketika hari telah siang atau malam, kondisi gejala akan memburuk dan sangat menganggu aktivitas yang sedang dikerjakan.

Tinjauan
Pada kondisi sedang hingga parah, gejala turun peranakan yang dapat dialami antara lain meliputi nyeri punggung bawah, rasa penuh di bagian pelvis, perdarahan dari vagina, sulit berjalan, sembelit, inkotinensia urine, infeksi kandung kemih berulang, retensi urine, serta gangguan aktivitas seksual.

Pemeriksaan Turun Peranakan

Saat menemui dokter untuk memeriksakan diri, biasanya dokter akan melakukan beberapa metode sebagai berikut untuk mendiagnosa pasien :

  • Pemeriksaan Fisik

Dokter perlu mengawali proses diagnosa dengan mengecek kondisi pelvis pasien menggunakan sebuah alat berupa spekulum [1,3].

Alat ini akan lebih dulu dokter masukkan melalui vagina dengan tujuan agar vagina melebar dan kondisi di dalamnya dapat diidentifikasi.

Dokter perlu mengecek adanya gangguan atau kelainan pada liang vagina maupun leher rahim.

Pada prosedur pemeriksaan ini, dokter biasanya akan minta pasien mengejan seperti saat sedang buang air besar.

Hal ini bertujuan utama untuk melihat rahim yang turun ke vagina sudah sejauh mana.

Dokter juga perlu tahu seberapa kuat otot pelvis pasien dengan meminta pasien bergerak seperti ketika menahan buang air kecil.

  • Pemeriksaan Riwayat Kesehatan

Pemeriksaan riwayat kesehatan adalah prosedur berikutnya yang dokter lakukan untuk memeriksa pasien [1,3].

Sejumlah pertanyaan mengenai apa saja riwayat medis pasien dan juga riwayat gejala yang dialami akan diajukan oleh dokter.

Meski demikian, informasi-informasi ini perlu didukung lebih dengan penerapan beberapa tes penunjang lainnya.

Untuk mengetahui secara detail kondisi pasien, maka rontgen saluran kemih harus dilakukan dengan kontras atau IVP (pielografi intravena) [3,6].

Tujuan prosedur pemeriksaan ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat gangguan saluran kemih.

Jika pun ada, maka dokter perlu tahu apakah hal tersebut terjadi akibat peranakan pasien yang turun.

  • USG Saluran Kemih dan Panggul

Tes penunjang ini bertujuan untuk membantu dokter dalam memastikan apakah di dalam tubuh pasien khususnya di bagian panggul dan saluran kemih terdapat masalah [7].

Selain memastikan adanya kondisi turun peranakan, dokter juga dapat mengecek keberadaan gangguan kesehatan lain.

  • Tes Urodinamik

Metode pemeriksaan ini dapat mendeteksi seberapa baik fungsi uretra dan kandung kemih pasien [1].

Jika penyimpanan dan pembuangan urine tidak berjalan dengan lancar, maka dokter biasanya akan meminta pasien menempuh tes penunjang ini.

Pada pasien dengan gejala inkontinensia urine yang sudah cukup serius dan mengganggu, maka tes ini perlu dijalani.

Tahap Kondisi Turun Peranakan

Kondisi turun peranakan dibagi menjadi empat tahap, yaitu sebagai berikut [1,8] :

  • Tahap I : Pada kondisi awal, leher rahim berada di dalam vagina.
  • Tahap II : Pada kondisi selanjutnya, terjadi sedikit penurunan leher rahim yang mencapai pintu vagina.
  • Tahap III : Pada kondisi ini, leher rahim telah terletak di luar vagina.
  • Tahap IV : Kondisi ini adalah yang paling serius karena telah terjadi turun peranakan, yaitu seluruh rahim ada di luar vagina (procidentia).
Tinjauan
Pemeriksaan fisik, riwayat kesehatan dan gejala adalah awal pemeriksaan. Namun sebagai tes penunjang, rontgen saluran kemih, USG, serta tes urodinamik akan direkomendasikan oleh dokter.

Pengobatan Turun Peranakan

Tingkat keparahan pasien menjadi pertimbangan dokter mengenai penanganan yang seharusnya diberikan.

Tahap kondisi turun peranakan sangat menentukan, sebab bila kondisi tergolong ringan maka biasanya dokter hanya memberikan solusi perawatan mandiri.

Namun bila perawatan mandiri tak terlalu efektif, maka biasanya dokter segera merekomendasikan tindakan medis.

Melalui Perawatan Mandiri

Solusi perawatan mandiri yang dianjurkan dokter bertujuan sebagai pereda gejala saja agar tidak berujung pada komplikasi berbahaya.

Pada beberapa kasus turun peranakan ringan, gejala sama sekali tidak nampak atau hanya beberapa saja yang dialami penderita.

Jika demikian, biasanya dokter segera memberikan anjuran perawatan mandiri sebagai berikut [9,10] :

  • Mengatasi masalah sembelit yang menyebabkan pasien harus sering mengejan saat buang air besar.
  • Meminta pasien menurunkan berat badan jika masalah utama terletak pada kondisi obesitasnya.
  • Mempelajari dan memraktekkan gerakan senam Kegel supaya otot pelvis yang melemah dapat menjadi kuat kembali.

Melalui Perawatan Medis

Bila menurut dokter kondisi pasien memang sudah terlampau serius untuk ditangani menggunakan cara mandiri, maka dokter akan memberikan rekomendasi beberapa prosedur medis.

  • Pessarium

Dokter kemungkinan akan menganjurkan pasien untuk menempuh prosedur pemasangan cincin penyangga vagina [1,3].

Proses yang disebut dengan pessarium ini adalah penopang jaringan yang turun hingga ke vagina.

Jika pasien tak dapat menjalani operasi, maka opsi tindakan medis ini akan direkomendasikan, namun tentu saja setelahnya cincin penyangga harus teratur dibersihkan.

  • Operasi Perbaikan Posisi Rahim

Pada pasien turun peranakan yang telah sampai pada tahap serius atau berat, tindakan operasi menjadi opsi utama yang dokter tawarkan [1].

Salah satu metode operasi yang dianjurkan dokter adalah operasi yang bertujuan untuk memperbaiki posisi rahim.

Dokter kandungan adalah yang paling tepat untuk melakukan tindakan ini.

Prosedur operasi ini bertujuan utama mengganti jaringan dasar panggul penyangga rahim dengan jaringan baru.

Jaringan pengganti yang biasanya digunakan dokter pada prosedur ini adalah jaringan donor atau jaringan dari tubuh pasien sendiri.

Meski begitu, ada pula kasus di mana dokter lebih memilih menggunakan bahan sintetis untuk dijadikan jaringan pengganti.

  • Histerektomi

Operasi ini adalah operasi pengangkatan rahim di mana hanya akan direkomendasikan bila kondisi posisi rahim tidak memiliki kemungkinan untuk diperbaiki [1,2,3,8].

Pada pasien dengan turun peranakan yang lebih dan sangat berat, operasi ini paling tepat.

Apakah operasi dianjurkan bagi wanita yang berencana hamil?

Langkah operasi umumnya memiliki efektivitas cukup tinggi dalam memulihkan pasien turun peranakan.

Hanya saja untuk para pasien wanita yang masih memiliki keinginan untuk hamil lagi di kemudian hari, operasi adalah tindakan medis yang sama sekali tidak dianjurkan.

Proses hamil 9 bulan dan juga persalinannya dapat memengaruhi otot pelvis.

Jika menjalani operasi perbaikan posisi rahim sebelumnya, maka posisi yang sudah baik dapat kembali rusa karena otot pelvis yang memperoleh tekanan berat.

Tinjauan
Metode penanganan turun peranakan meliputi perawatan mandiri (senam kegel, mengatasi sembelit, serta menurunkan berat badan) dan perawatan medis (pessarium, operasi pengangkatan rahim, dan operasi perbaikan posisi rahim). 

Komplikasi Turun Peranakan

Turun peranakan yang tidak segera mendapat penanganan akan berakibat pada timbulnya sejumlah komplikasi, yaitu antara lain [10] :

  • Menonjolnya dinding vagina keluar sebagai akibat dari sebagian dinding vagina yang pindah posisi.
  • Timbul infeksi dari luka yang terjadi ketika jaringan menonjol terus-menerus dibiarkan bergesekan dengan pakaian.
  • Melemahnya jaringan ikat pemisah vagina dan rektum yang kemudian berakibat pada menonjolnya rektum dari vagina yang disebut dengan rektokel.
  • Menonjolnya kandung kemih keluar vagina atau sistokel karena jaringan ikat pemisah antara vagina dan kandung kemih melemah.

Pencegahan Turun Peranakan

Jika telah mengetahui berbagai faktor yang mampu menyebabkan turun peranakan, maka lebih mudah untuk berupaya meminimalisir risikonya.

Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menghindari kondisi turun peranakan adalah [1,9,10] :

  • Mengatasi sembelit agar tidak terlalu sering mengejan saat buang air besar.
  • Mengonsumsi air putih banyak setiap hari dan mengasup makanan berserat tinggi.
  • Melakukan olahraga rutin, termasuk mempelajari senam kegel dan melakukannya dengan benar.
  • Menjaga berat badan untuk menghindari obesitas.
  • Mengatasi kondisi batuk.
Tinjauan
Pencegahan atau upaya meminimalisir risiko turun peranakan dapat dilakukan dengan mengatasi faktor-faktor risikonya serta mengatasi segera kondisi medis yang memicunya.
fbWhatsappTwitterLinkedIn

Add Comment