Xenophobia : Penyebab – Gejala dan Penanganan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by redaction team, read our quality control guidelance for more info

Apa Itu Xenophobia?

Xenophobia merupakan sebuah kondisi di mana seseorang memiliki ketakutan berlebih terhadap orang-orang asing atau orang yang tak familiar baginya dan berbeda [1,7,19,21].

Jika pun terjadi atau timbul permusuhan terhadap orang luar, maka hal ini dianggap sebagai reaksi efek dari rasa takut yang dirasakan penderita xenophobia.

Xenophobia walau kerap diduga dan dikaitkan dengan homofobia dan rasisme, kondisi ini berbeda dari keduanya.

Xenophobia adalah rasa takut yang timbul karena seseorang tidak memiliki informasi apapun mengenai orang asing atau orang baru tersebut.

Ketika rasa cemas dan kesal timbul terutama saat menghadapi situasi atau seseorang yang tak terlalu dikenali, maka intoleransi ketidakpastian akan muncul dalam pikiran.

Penderita dapat berpikir bahwa adanya ketidakpastian tersebut dapat membahayakan dirinya sendiri.

Seperti apa sejarah xenophobia?

Selama ribuan tahun, xenophobia memiliki peran cukup besar dalam terbentuknya sejarah manusia yang terutama dapat terlihat dari orang-orang Romawi dan Yunani kuno.

Mereka memiliki keyakinan bahwa budaya mereka memiliki keunggulan daripada budaya orang lain sehingga menjadikan itu sebagai alasan untuk pembenaran dari tindakan perbudakan.

Xenophobia menjadi hal sangat umum dari zaman dulu karena di seluruh dunia sebenarnya terdapat banyak negara dengan sejarah yang berkaitan dengan sikap xenophobia.

Ketakutan dan penolakan kuat biasanya mereka tunjukkan terutama pada imigran maupun orang-orang asing.

Diskriminasi merupakan salah satu bentuk xenophobia, tak terkecuali genosida dan kekerasan, seperti pada holokaus Perang Dunia II, genosida Kambodia, genosida Holodomor di Ukraina, genosida Rwanda, dan penahanan orang-orang Jepang-Amerika selama Perang Dunia II berlangsung [2,3,4,5,6].

Contoh bentuk xenophobia baru-baru ini adalah diskriminasi yang terjadi di Amerika Serikat terhadap keturunan Timur Tengah.

Situasi dan kondisi diskriminasi tersebut juga kerap dikenal dengan istilah Islamophobia.

Selain itu, xenophobia dengan contoh lainnya adalah diskriminasi terhadap imigran Latin dan Meksiko.

Tinjauan
Xenophobia adalah sebuah kondisi seseorang yang memiliki rasa cemas dan takut berlebihan terhadap orang asing, orang baru, orang yang tak familiar dengannya, terutama yang berbeda budaya dan latar belakang.

Jenis Xenophobia

Xenophobia terbagi menjadi dua jenis kondisi primer, yaitu sebagai berikut [7] :

Xenophobia Kultural

Xenophobia jenis ini adalah bentuk rasa takut dan penolakan terhadap suatu simbol, tradisi, dan obyek tertentu yang berhubungan dengan kebangsaan atau kelompok lain.

Itu artinya, penderita xenophobia kultural akan merasa takut dan melakukan penolakan terhadap musik, pakaian adat, hingga kemungkinan bahasa dan tradisi terkait budaya tertentu.

Xenophobia Imigran

Xenophobia jenis ini adalah ketika seseorang merasa takut lalu menolak orang lain karena memiliki perbedaan keyakinan dan kebangsaan.

Penderita xenophobia imigran dapat melakukan hal-hal yang berkaitan dengan tindak kekerasan dan permusuhan pada orang-orang yang berbeda kewarganegaraan dan agama.

Penyebab Xenophobia

Xenophobia adalah sebuah kondisi yang didasari oleh sejumlah faktor, yaitu :

  • Kurang atau Tidak Adanya Pengendalian

Ketakutan terhadap orang asing atau situasi baru adalah sebuah kondisi tak jelas dan tak pasti yang membuat rasa cemas timbul dalam kadar tertentu [14].

Ketidakpastian akan suatu hal hanya dapat dikurangi dengan cara menganalisa sekitar dan membuat rencana sehingga semuanya dapat berada di bawah pengawasan dan kendali kita.

  • Kurang atau Tidak Adanya Prediktabilitas

Prediktabilitas ada ketika kita memiliki informasi cukup mengenai seseorang, obyek, atau situasi tertentu [14].

Ketika tak memiliki informasi, prediktabilitas cenderung kurang atau justru tidak ada sehingga ketakutan dan kecemasan berlebih mulai timbul di dalam diri sendiri.

Seperti halnya saat pertama kali masuk sekolah, pindah sekolah, atau pindah rumah dan lingkungan baru, diperlukan adanya waktu untuk melihat-lihat wilayah tempat itu dan sekitarnya.

Ketidaktahuan mengenai suatu tempat, situasi atau bahkan seseorang, membuat diri kita menjadi lebih was-was dan takut untuk melangkah dan terlibat.

Faktor Risiko Xenophobia

Siapapun dapat mengalami xenophobia, namun terdapat sejumlah faktor yang mampu meningkatkan risiko xenophobia, yaitu :

  • Hoarding Disorder

Kondisi hoarding disorder adalah ketika seseorang memiliki kesenangan menimbun benda-benda yang sama sekali tak ia butuhkan [8].

Seseorang menimbun benda dan menyimpannya karena adanya ketakutan berlebih jika akan terjadi hal negatif bila sampai membuang barang tersebut.

Gangguan ini pun timbul ketika seseorang merasa tak memiliki kepastian (intoleransi ketidakpastian).

  • Gangguan Obsesif Kompulsif

OCD atau obsessive compulsive disorder juga merupakan salah satu bentuk kecemasan karena intoleransi ketidakpastian [9].

Hal ini memicu seseorang untuk menghindari kontaminasi, mencuci tangan terlalu sering, mengecek berulang kali suatu hal, serta mengatur dan mengorganisir hal-hal yang sebenarnya tidak perlu lagi ditangani.

  • Gangguan Makan

Keterkaitan antara gangguan makan dengan intoleransi ketidakpastian diyakini oleh para psikolog [10].

Seseorang dengan kondisi gangguan makan dapat meningkatkan risiko mengalami xenophobia, terutama seseorang dengan pribadi introvert dan tak percaya diri dengan kemampuan sosial mereka.

Penderita depresi akan lebih mudah mengalami kecemasan, terutama dalam hal intoleransi ketidakpastian lebih dari orang-orang yang tidak memiliki depresi [11].

Depresi menyebabkan timbulnya rasa putus asa dan tak ada harapan sehingga merasa bahwa tak ada sesuatu yang baik dalam segala hal.

Seseorang dengan kondisi kecemasan berlebih akan lebih mudah mengidap xenophobia karena kekhawatiran terhadap seseorang maupun situasi yang asing baginya [11].

Risiko ini jauh lebih besar terjadi pada usia anak-anak.

Penggunaan alkohol berlebihan berpotensi menimbulkan suatu rasa takut terhadap hal-hal yang tak pasti, termasuk kondisi seperti xenophobia [12].

Sebuah penelitian tahun 2016 menunjukkan bahwa para pengguna alkohol diketahui ekstra sensitif terhadap ketidakpastian [13].

Hal ini mampu membuat orang tersebut mengembangkan rasa takut bahkan terhadap orang asing.

Tinjauan
Terjadinya xenophobia dikaitkan dengan sejumlah kondisi, seperti kurang/tidak adanya pengendalian dan prediktibilitas. Namun,  hoarding disorder, depresi, penyalahgunaan alkohol, gangguan kecemasan, gangguan obsesif kompulsif, dan gangguan makan dapat menjadi faktor risikonya. Orang-orang dengan riwayat kondisi psikologis tersebut akan lebih berpotensi mengalami xenophobia.

Gejala Xenophobia

Tanda seseorang memiliki kondisi xenophobia dapat ditunjukkan melalui banyak hal, namun gejala khas dari xenophobia sendiri antara lain adalah [19,20] :

  • Merasa tak nyaman ketika harus berada di tengah orang-orang yang berbeda kelompok.
  • Kesulitan dalam bekerja sama dengan orang-orang yang berbeda budaya, ras dan agama.
  • Enggan berteman dengan orang-orang yang berbeda cara berpakaiannya hingga warna kulit.
  • Menghindari beberapa wilayah tertentu, terutama daerah dengan orang asing yang lebih banyak.

Pada dasarnya, orang-orang dengan xenophobia tidak memiliki rasa takut yang sesungguhnya.

Xenophobia dapat diartikan lebih ke sebuah diskriminasi terhadap orang-orang imigran dan orang dari negara asing.

Xenophobia juga merupakan sebuah kondisi di mana seseorang meyakini bahwa budaya dan bangsanya jauh lebih unggul dari yang lain.

Meski tak sepenuhnya benar bahwa penderita xenophobia memiliki rasa takut, xenophobia tetap dianggap sebagai gangguan kesehatan mental.

Menurut sejumlah psikolog, rasisme dan kecurigaan berlebih terhadap orang asing adalah sebuah gangguan kesehatan mental terlepas dari fakta bahwa xenophobia tidak masuk golongan gangguan mental pada DSM-5 (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders-5) [15].

Tinjauan
Gejala utama yang nampak ketika mengalami xenophobia adalah timbul ketidaknyamanan saat berada di tengah orang-orang yang berbeda kelompok, kesulitan bekerja sama dengan orang-orang yang berbeda latar belakang dengannya, enggan berteman dengan orang-orang yang berbeda cara berpakaian hingga berbeda warna kulit, serta kemungkinan cenderung menghindari beberapa wilayah tertentu.

Penanganan Xenophobia

Xenophobia dapat diatasi dengan beberapa cara, yaitu :

  • Perhatikan Kapan Pikiran Xenophobic Timbul

Pastikan untuk mengetahui kapan saja pikiran-pikiran tanda xenophobia muncul.

Jika sudah mengetahui dan menyadarinya, maka akan lebih mudah untuk mengubah pikiran-pikiran tersebut dengan pikiran realistis.

Berusahalah untuk berpikir positif terhadap orang yang baru dikenal sekalipun itu orang asing yang kita tak tahu informasi apapun tentangnya.

  • Lawan Ketakutan

Intoleransi ketidakpastian merupakan sebuah kondisi yang memang sangat menakutkan, namun hal ini perlu dilawan [16,17].

Melawan dan menaklukkan rasa takut terhadap orang baru dan asing, terutama yang berbeda agama, ras dan budaya sebaiknya lawan dengan pengalaman pribadi lebih banyak.

  • Perluas Pengalaman dan Wawasan

Xenophobia dialami oleh orang-orang yang kemungkinan selama hidupnya jarang menemui hal-hal yang berbeda dari mereka [17].

Untuk membuka dan menambah wawasan sekaligus pengalaman, penting untuk seseorang berwisata ke beberapa bagian dunia.

Tak perlu terlalu jauh, bepergian dan berkunjung ke kota lain yang dekat dengan tempat tinggal itu cukup atau bahkan jika ingin lebih jauh lakukan perjalanan ke kota yang lebih jauh atau bahkan luar negeri.

Hal ini akan membantu menghadapi rasa takut terhadap orang baru, terutama yang berbeda budaya, ras dan agama.

  • Tempuh Psikoterapi

Menempuh psikoterapi adalah cara dalam menghadapi xenophobia apabila dengan cara mandiri tak dapat dilakukan [11].

Mendatangi terapis dengan pikiran terbuka jauh lebih dianjurkan agar terapi dapat yang penderita xenophobia jalani dapat memberikan kemajuan yang positif.

Tinjauan
Dalam menangani xenophobia, penting untuk berupaya melawan ketakutan yang ada, menambah wawasan dan memperluas pengalaman dengan banyak orang yang berbeda latar belakang serta budayanya, bahkan psikoterapi pun perlu ditempuh jika memang sangat dibutuhkan.

Dampak Xenophobia

Xenophobia dapat memengaruhi orang-orang secara pribadi maupun memengaruhi masyarakat.

Karena xenophobia bukanlah hal baru, melainkan sudah ada sejak zaman dahulu kala, maka tentu sudah dapat diketahui bahwa xenophobia dapat berpengaruh pada sejarah, politik, ekonomi dan sikap budaya.

Beberapa dampak negatif yang berkaitan erat dengan xenophobia antara lain [11,16,18] :

  • Favoritisme terhadap anggota atau orang-orang yang bukan dari kelompok atau budaya yang sama.
  • Diskriminasi
  • Penyebaran ujaran kebencian
  • Genosida dan perang
  • Perebutan posisi di bidang politik
  • Isolasi
  • Kesempatan untuk orang-orang dari budaya dan kelompok berbeda akan berkurang, terutama dalam hal ekonomi dan sosial
  • Permusuhan terhadap orang-orang dari latar belakang yang berbeda (agama, budaya maupun kebangsaan)

Pencegahan Xenophobia

Xenophobia dapat dicegah dengan sejumlah upaya, seperti di bawah ini [16] :

  • Berani melawan ujaran kebencian dan tindakan kefanatikan adalah salah satu upaya dalam meminimalisir xenophobia dan rasisme di manapun ketika hal ini terjadi.
  • Memberi dukungan terhadap organisasi-organisasi yang memperjuangan hak asasi manusia.
  • Berani membela orang-orang yang dilecehkan atau diserang secara fisik karena perbedaan yang dimiliki.
  • Para orang tua dan tenaga pendidik perlu mengajarkan anak-anak tentang kebaikan dan menerima perbedaan yang ada ketika bersosialisasi.
  • Membicarakan perbedaan dan mengajarkan anak-anak sejak dini bagaimana harus menghargainya adalah cara terbaik meminimalisir bentuk xenophobia dan rasisme.
  • Menghargai dan ikut merayakan hal-hal penting pada budaya lain.
Tinjauan
Xenophobia dapat diminimalisir dengan berpartisipasi dalam memberikan pembelaan serta dukungan terhadap orang-orang yang berbeda kelompok dan budaya dengan kita. Para orang tua serta tenaga pendidik juga penting dalam mengajarkan perbedaan kepada anak-anak serta cara menghargainya.
fbWhatsappTwitterLinkedIn

Add Comment