Bolehkah Pasien Covid-19 Berpuasa?

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by redaction team, read our quality control guidelance for more info

Dalam panduannya mengenai berpuasa Ramadan dengan aman di tengah pandemi, WHO menyebutkan bahwa orang-orang yang sehat bisa tetap berpuasa di bulan suci ini seperti pada tahun-tahun sebelumnya. [2]

Namun, mereka yang sudah positif terinfeksi Covid-19 dan menjadi pasien, harus mempertimbangkan kondisinya dan berkonsultasi dengan dokter serta memperhatikan batasan agama yang memperbolehkan orang sakit untuk tidak berpuasa. [1]

Pasien Covid-19 yang Boleh Berpuasa

Pasien yang sudah terinfeksi virus corona tapi tidak menunjukkan gejala atau hanya menunjukkan gejala ringan saja, boleh tetap berpuasa di bulan Ramadan, selama mereka terus memperhatikan kondisi kesehatan mereka. [1, 3, 4]

Pasien yang disarankan untuk mengisolasi diri secara mandiri di rumah, juga harus segera lapor jika terjadi perubahan pada tubuh mereka atau bila gejala semakin memburuk saat menjalankan puasa. [1]

Pasien Covid-19 yang Tidak Boleh Berpuasa

Sebagian besar infeksi Covid-19 tidak menunjukkan gejala atau lebih mirip seperti flu, sementara sekitar 20% bisa menyebabkan penyakit yang parah atau kritis. Banyak gejala klinis seperti demam, sakit yang berkepanjangan, sakit kepala, kehilangan perasa dan penciuman, serta kelelahan yang sangat bisa menyebabkan kurangnya asupan cairan dan dehidrasi. Bila pasien sudah mengalami demam dan masalah pernafasan, maka dehidrasi bisa memperburuk kondisi dengan cepat – dalam hitungan jam, terutama di minggu kedua infeksi. [3]

Berpuasa di bulan Ramadan berarti tidak minum cairan apapun di siang hari. Dehidrasi saat puasa umum terjadi, namun bila terjadi pada pasien dengan gejala-gejala infeksi Covid-19 seperti demam dan kelelahan maka risiko akibat dehidrasi akan semakin meningkat. [3]

Selain itu, pasien Covid-19 dengan gejala sedang hingga parah pasti akan diisolasi di rumah sakit dan harus menjalani pengobatan yang intensif, sehingga sudah pasti tidak bisa berpuasa. [1]

Sebuah panduan dari The British Islamic Medical Association menyebutkan bahwa pasien dengan dua penyakit atau lebih (co-morbid) sebaiknya tidak berpuasa bila: [3]

  • Kondisi kesehatannya semakin memburuk akibat tidak makan dan minum
  • Pemulihannya terhambat karena berpuasa
  • Muncul kemungkinan terjadinya satu atau dua poin diatas

Telah diketahui bahwa pasien Covid-19 yang kondisinya berisiko menjadi parah dengan cepat adalah mereka dengan penyakit bawaan sebelumnya (diabetes, penyakit pernafasan, penyakit jantung, dsb.) dan itu adalah co-morbidity, sehingga tidak disarankan untuk berpuasa. [3]

Panduan Berpuasa Dalam Kondisi Terinfeksi Covid-19

Panduan ini hanya untuk mereka yang positif namun tidak menunjukkan gejala atau hanya mengalami gejala ringan saja, serta menjalankan isolasi mandiri di rumah: [1]

1. Jaga gaya hidup sehat

Pasien harus menerapkan gaya hidup sehat untuk memperkuat imunitas, terutama karena Covid-19 adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dan senjata utama untuk mengalahkannya adalah kekebalan tubuh.

Ini termasuk makan makanan bergizi, dengan banyak asupan sayuran hijau, makanan tanpa pengawet, serta minum cukup air putih di antara waktu berbuka dan sahur. Semua ini perlu dilakukan supaya sistem imun pasien bisa bekerja secara optimal bahkan di bulan Ramadan.

2. Jaga asupan cairan

Sangat penting bagi orang yang sedang sakit, bukan hanya karena Covid-19, untuk selalu terhidrasi karena ini adalah salah satu hal yang bisa menjaga imunitas seseorang tetap tinggi.

Air putih bisa membantu membuang racun dari dalam tubuh dan menjaga organ-organ tubuh berfungsi dengan baik. Selain minum cukup air putih, pasien juga harus menghindari minuman manis dan bersoda. Saat buka puasa, kebanyakan orang memilih untuk minum minuman manis, dan ini sebaiknya dihindari

3. Cukup tidur

Pasien Covid-19 tanpa gejala tetap harus mendapatkan waktu tidur yang cukup selama berpuasa. Kurangnya tidur seringkali menjadi penyebab orang menjadi sakit di bulan puasa, karena mereka cenderung terjaga semalaman hingga menjelang sahur.

Tidur bisa meningkatkan imunitas karena memberi waktu bagi tubuh untuk melepaskan protein yang disebut cytokine. Zat ini bisa membantu mengatasi infeksi dan mengendalikan peradangan di tubuh. Ketika tubuh melawan suatu infeksi, kadar cytokine yang dikeluarkan oleh sistem kekebalan tubuh harus ada dalam jumlah yang cukup.

Penelitian telah membuktikan bahwa orang-orang yang tidak cukup mendapat tidur yang berkualitas cenderung lebih mudah sakit bila terpapar virus.

Pasien Covid-19 tanpa gejala harus tidur setidaknya tujuh jam setiap hari, karena ini adalah waktu bagi tubuh untuk memperbaiki diri dan sangat penting bila tubuh sedang melawan virus.

Kesimpulan

Pasien yang mengalami demam dan penyakit penyerta selain Covid-19 bisa mengalami dehidrasi berat dan kondisi tubuhnya berisiko untuk memburuk dengan cepat dan tiba-tiba. Karena itu, pasien pada tingkat ini sebaiknya tidak berpuasa dulu selama Ramadan agar asupan cairan bisa terjaga.

Peraturan dalam agama Islam memperbolehkan orang-orang yang sedang sakit untuk makan dan minum sebagaimana yang dibutuhkan di siang hari untuk kemudian mengganti hari-hari dimana mereka tidak berpuasa diluar bulan Ramadan ketika sudah sehat.

Namun, terjadinya pandemi Covid-19 saat ini bukanlah alasan bagi mereka yang sehat untuk tidak berpuasa. Bahkan pasien tanpa gejala atau hanya menunjukkan gejala ringan bisa tetap berpuasa dengan tetap memperhatikan asupan cairan dan makanan bergizi di antara waktu berbuka dan sahur, serta istirahat yang cukup.

fbWhatsappTwitterLinkedIn

Add Comment