Kolesistektomi Laparoskopik: Fungsi, Prosedur dan Risikonya

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by redaction team, read our quality control guidelance for more info

Fungsi Kolesistektomi Laparoskopik

Kolesistektomi Laparoskopik

Kolesistektomi laparoskopik adalah prosedur pembedahan untuk mengangkat kantong empedu melalui beberapa sayatan kecil dan menggunakan alat yang disebut laparoskop.

Laparoskop adalah sebuah tabung tipis dan panjang yang dilengkapi dengan kamera di ujungnya untuk memungkinkan dokter melihat area operasi di layar monitor selama pengangkatan kandung empedu.[1]

Kantung empedu adalah organ berbentuk buah pir yang berada tepat di bawah hati, di sisi kanan atas perut dan berfungsi untuk mengumpulkan dan menyimpan empedu (cairan pencernaan yang diproduksi di hati).[2]

Dokter akan merekomendasikan tindakan kolesistektomi laparoskopik untuk mengobati:[1]

  • Kolesistitis, yaitu radang kandung empedu yang mengakibatkan nyeri hebat yang disebut kolik bilier.
  • Choledocholithiasis, yaitu batu empedu yang bergerak menuju saluran empedu. Dalam beberapa kasus, batu empedu akan lewat dengan sendirinya. Jika tersangkut di saluran empedu, dapat menyebabkan radang kandung empedu dan mungkin pankreas.
  • Cholelithiasis (batu empedu) di kantong empedu, kondisi ini menyebabkan pasien sering merasa nyeri akut.
  • Massa kandung empedu, yang dapat disebabkan oleh kanker kandung empedu atau dari tumor jinak (bukan kanker)
  • Pankreatitis batu empedu, yaitu peradangan pada pankreas yang disebabkan oleh batu empedu yang tersangkut atau melewati saluran empedu. Batu empedu di saluran empedu juga dapat menyumbat saluran pankreas.
  • Kantung empedu berlubang, bocor atau pecah.
  • Diskinesia bilier, terjadi bila kantong empedu tidak mengosongkan empedu dengan benar. Kondisi ini dapat menyebabkan gejala yang mirip dengan kolesistitis.

Persiapan Kolesistektomi Laparoskopik

Terdapat beberapa persiapan yang perlu dilakukan pasien sebelum menjalani prosedur, seperti:[2,3]

  • Menjalani tes pra-operasi seperti rontgen dada, EKG (elektrokardiogram), tes darah, dan tes lain sesuai kebutuhan. Tes lain mungkin termasuk tes untuk tanda-tanda infeksi, obstruksi bilier, pankreatitis, atau penyakit kuning (kulit dan mata menguning).
  • Memberitahu dokter mengenai obat-obatan, vitamin, dan suplemen yang sedang dikonsumsi.
  • Bagi pasien yang memiliki berat badan berlebih, dianjurkan untuk menguranginya dengan diet dan olahraga.
  • Berhenti merokok selama beberapa hari atau minggu sebelum prosedur
  • Berhenti makan dan minum selama empat sebelum operasi.
  • Berhenti mengonsumsi antiinflamasi dan obat pengencer darah seperti ibuprofen atau aspirin.
  • Pastikan ada keluarga atau kerabat yang menemani selama prosedur.
  • Mandi menggunakan sabun khusus antibakteri pada malam sebelum atau pada hari operasi.

Prosedur Kolesistektomi Laparoskopik

Secara umum rangkaian prosedur kolesistektomi laparoskopik adalah:[4]

  • Pasien akan berganti pakaian dengan gaun khusus pasien dan menanggalkan seluruh perhiasannya
  • Tim medis akan memasang jarum infus untuk mengalirkan anestesi total pada pasien sehingga selama prosedur pasien akan tertidur dan tidak akan merasakan apapun.
  • Sebuah selang akan dimasukkan ke tenggorokan pasien untuk membantu pasien bernapas. Dokter anestesi akan memeriksa detak jantung, tekanan darah, pernapasan, dan kadar oksigen darah selama operasi.
  • Jika ada banyak rambut di lokasi pembedahan, dokter mungkin akan mencukurnya.
  • Kulit di permukaan lokasi pembedahan akan dibersihkan dengan larutan steril (antiseptik).
  • Kemudian dokter akan membuat sekitar 3 atau 4 sayatan kecil akan dibuat di perut pasien. Gas karbondioksida akan dimasukkan ke dalam perut sehingga perut akan membesar. Tindakan ini memungkinkan kantong empedu dan organ di sekitarnya lebih mudah dilihat.
  • Dokter akan memasukkan laparoskop dan alat bedah melalui sayatan lain untuk mengangkat kantong empedu .
  • Saat operasi selesai, laparoskop dan alat-alatnya diangkat. Gas karbon dioksida dikeluarkan melalui sayatan. Namun, sebagian besar akan diserap kembali oleh tubuh pasien.

Setelah operasi pasien mungkin akan mengalami diare meskipun hal ini jarang terjadi. Selain itu, pasien dianjurkan untuk latihan berjalan segera setelah merasa lebih baik.

Waktu pemulihan yang dibutuhkan untuk menjalani aktivitas normal dapat berminggu-minggu.[3]

Segera hubungi dokter jika pasien mengalami salah satu tanda infeksi berikut:[4]

  • Demam atau kedinginan
  • Kemerahan, bengkak, berdarah, atau keluar cairan dari tempat sayatan
  • Sering nyeri di sekitar lokasi sayatan
  • Menguningnya kulit atau bagian putih mata pasien (penyakit kuning)
  • Sakit perut, kram, atau bengkak
  • Tidak buang air besar atau gas selama 3 hari
  • Sakit di belakang tulang dada

Risiko Kolesistektomi Laparoskopik

Risiko umum dari tindakan operasi adalah:[1]

  • Reaksi anestesi, seperti reaksi alergi dan masalah pernapasan
  • Pendarahan
  • Pembekuan darah, yang dapat menyebabkan gumpalan darah dari tungkai atau kaki berjalan ke paru-paru Anda dan mengakibatkan emboli paru
  • Infeksi
  • Pneumonia, yang merupakan infeksi paru-paru

Risiko khusus dari kolesistektomi laparoskopi meliputi:[1,3]

  • Adhesi perut, yaitu pembentukan jaringan parut di perut
  • Kerusakan pada organ di sekitarnya, seperti saluran empedu dan usus kecil
  • Kebocoran empedu ke perut
  • Batu empedu tertinggal di saluran empedu
  • masalah jantung, seperti detak jantung yang cepat

Hal-hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi potensi risiko yaitu:

  • Mengikuti aktivitas, pantangan dan gaya hidup serta rekomendasi sebelum prosedur dan selama pemulihan
  • Memberi tahu dokter atau ahli radiologi jika pasien sedang menyusui atau jika ada kemungkinan hamil
  • Minum obat secara teratur
fbWhatsappTwitterLinkedIn

Add Comment