3 Perbedaan ADHD dan Sindrom Asperger

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by redaction team, read our quality control guidelance for more info

Dalam tumbuh kembang anak, prosesnya tidak selalu mulus dan normal; ini yang kerap dikhawatirkan oleh para orang tua.

Salah dua dari banyaknya kondisi yang dapat menimpa anak adalah ADHD dan sindrom Asperger [1,2,3].

ADHD atau attention deficit hyperactivity disorder merupakan jenis gangguan mental yang ditandai dengan kesulitan pada anak dalam berperilaku dan memusatkan perhatian [1].

Sindrom Asperger adalah kondisi gangguan perkembangan saraf serta mental anak dan masih tergolong sebagai gangguan spektrum autisme [2].

Kerap dianggap sebagai kondisi sama atau serupa karena adanya kesulitan dalam bersosialisasi serta perilaku impulsif [4], penting bagi orang tua untuk mengetahui dan memahami apa saja perbedaan ADHD dan sindrom Asperger sebagai berikut.

1. Penyebab

Sekalipun ADHD adalah jenis gangguan mental, kondisi ini juga masih termasuk gangguan perkembangan saraf, sama seperti sindrom Asperger [3].

Artinya, masalah yang terjadi pada gangguan perilaku dan interaksi anak berkaitan dengan adanya gangguan perkembangan otak [3].

Belum diketahui secara pasti dan jelas faktor utama penyebab keduanya, namun faktor risiko ADHD dan sindrom Asperger jelas berbeda [3].

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penyebab atau faktor risiko ADHD lebih kepada masalah di bagian neurotransmitter dalam tubuh anak, yakni norepinephrine dan dopamine [1,5].

Pembuktian tersebut didukung oleh pemberian obat yang mampu memengaruhi kadar norepinephrine dan dopamine terespon dengan baik oleh tubuh pasien [1,5].

Sementara itu, penyebab atau faktor risiko sindrom Asperger lebih kepada masalah jaringan pada otak [6].

Ketidaknormalan neurotransmitter serotonin juga dikaitkan erat dengan risiko berkembangnya sindrom Asperger pada anak [7].

2. Gejala

Walau terlihat serupa, ADHD dan sindrom Asperger pada dasarnya berbeda pula dalam hal gejala.

Keduanya mungkin tampak berbagi tanda, gejala atau karakteristik yang bisa orang tua perhatikan pada anak.

Namun jika diperhatikan lebih detail, anak-anak pengidap ADHD biasanya justru senang berinteraksi dengan orang lain [1,3].

Hanya saja dalam proses interaksi tersebut, anak-anak ADHD memiliki kesulitan dalam menjaga fokus dan konsentrasi mereka [1,3].

Mereka cenderung tidak bisa memerhatikan satu hal dalam waktu yang cukup lama, dan hal ini dikarenakan sisi hiperaktif dan impulsif mereka [1,3].

  • Anak dengan ADHD memiliki ketertarikan luas terhadap berbagai hal, maka ia cenderung suka berganti-ganti aktivitas.
  • Anak ADHD tidak menyukai rutinitas yang sama dan itu-itu saja, termasuk tidak melakukan perilaku sama secara berulang.
  • Anak ADHD sangat menyukai hal baru dan perubahan.
  • Anak ADHD tidak memiliki masalah atau kesulitan dalam koordinasi motorik.

Sementara itu, anak-anak dengan sindrom Asperger memiliki kesulitan dalam memahami dan memraktekkan interaksi sosial [2,3].

Anak-anak sindrom Asperger juga lebih nyaman dalam kesendirian mereka alih-alih mencari orang lain untuk diajak berinteraksi [2,3].

  • Anak dengan sindrom Asperger hanya memiliki ketertarikan terhadap sedikit aktivitas dan topik, tidak seluas anak-anak dengan ADHD.
  • Anak sindrom Asperger melakukan perilaku yang sama dan cenderung berulang.
  • Anak sindrom Asperger biasanya tidak suka perubahan dan selalu menyukai rutinitasnya yang itu-itu saja.
  • Anak sindrom Asperger memiliki masalah atau kesulitan koordinasi motorik.

3. Penanganan

Penanganan atau pengobatan ADHD maupun sindrom Asperger berbeda dan akan tepat apabila diagnosisnya akurat.

Pada kasus ADHD, penanganan yang umumnya diberikan kepada pasien adalah melalui pemberian obat-obatan sekaligus terapi perilaku [1,8].

Obat-obatan diperlukan untuk mengurangi gejala pada pasien, dan obat-obatan ini meliputi stimulan dan non-stimulan [1,8].

Terapi perilaku masih tergolong sebagai psikoterapi di mana anak perlu dibantu profesional untuk mengendalikan gejala mereka dan membuat kondisi jauh lebih baik [1,8].

Intervensi edukasi juga akan diberikan apabila perlu, yakni melalui kerja sama dengan para guru sekolah anak agar anak-anak pasien ADHD bisa belajar lebih baik di lingkungan sekolahnya [1,3].

Sementara untuk kasus sindrom Asperger, tidak terdapat penanganan khusus bagi pengidapnya untuk mengendalikan dan mengurangi gejala [2,9].

Meski demikian, anak-anak dengan sindrom ini biasanya perlu memperoleh terapi bicara, terapi perilaku, terapi untuk meningkatkan kemampuan sosial, serta terapi okupasi [2,3,9].

Karena anak dengan sindrom Asperger berpotensi mengalami kecemasan dan depresi, maka bila perlu mengonsumsi obat, maka dokter akan meresepkan obat untuk kedua kondisi tersebut [2,3,9].

Apakah ADHD dan sindrom Asperger bisa dicegah?

Belum ada cara pencegahan ADHD maupun sindrom Asperger secara pasti [3].

Hal ini dikarenakan penyebabnya pun belum diketahui jelas, sehingga pencegahannya tidak memungkinkan [1,2,3].

Meski demikian, pengenalan tanda atau gejala sejak awal membantu agar anak bisa memperoleh pengobatan atau terapi secara dini sehingga fungsi tubuh bisa berkembang baik dan gejala semakin berkurang [3].

Bagi para orang tua dengan anak-anak yang mengalami ADHD maupun sindrom Asperger, kesabaran adalah kunci dalam menghadapi sekaligus membantu kondisi anak lebih baik [3].

Orang tua juga perlu terlibat dalam memberi dukungan dalam hal interaksi sosial, rutinitas, perilaku positif dan pengaturan diri anak [3].

Para orang tua dapat terus menyemangati anak, termasuk melalui pemberian pujian apabila anak mengikuti instruksi dengan benar atau melakukan perilaku baik, serta memberi hukuman apabila anak berperilaku kasar atau buruk [3].

Para orang tua juga perlu mengetahui batas kemampuan anak sehingga dapat secara tepat memberi pengarahan kepada anak setiap melakukan aktivitas [3].

Demikian perbedaan ADHD dan sindrom Asperger yang perlu dipahami oleh orang tua dengan anak yang mengalami gejala serupa.

fbWhatsappTwitterLinkedIn

Add Comment