Retraksi Interkostal : Penyebab – Gejala dan Pengobatan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by redaction team, read our quality control guidelance for more info

Tinjauan Medis : dr. Maria Arlene, Sp.Ak
Retraksi interkostal terjadi ketika otot antara tulang rusuk tertarik ke dalam. Hal ini pada umumnya adalah tanda bahwa seseorang memiliki masalah pernapasan. Retraksi interkostal merupakan sebuah situasi... kegawatan, terjadi pada kondisi sperti anafilaksis, asma, bronkiolitis, croup, adanya benda asing pada saluran pernasapan, pneumonia, sindrom distres pernapasan pada bayi, dan abses pada tenggorokan. Konsultasikan kepada dokter sesegera mungkin jika hal in terjadi. Retraksi interkostal merupakan tanda adanya sumbatan pada saluran pernapasan, yang dapat menjadi kondisi yang membahayakan nyawa. Read more

Apa Itu Retraksi Interkostal?

Retraksi interkostal adalah ketika saluran udara mengalami penyempitan atau penyumbatan di mana hal ini kerap disebabkan oleh penyakit-penyakit seperti pneumonia maupun asma [1,3,5,10,11].

Setiap tubuh manusia memiliki yang namanya otot interkostal di mana otot ini ada pada sela tulang rusuk.

Fungsi utama dari otot-otot interkostal adalah sebagai pendukung kembang-kempisnya dada pada proses pernapasan [1].

Pada proses pernapasan yang normal, otot diafragma memang berperan besar, yaitu lapisan otot pemisah antara rongga perut dan rongga dada [1].

Namun ketika seseorang tidak dalam kondisi tubuh yang baik, hal ini berpotensi mengganggu fungsi optimal otot diafragma.

Jika otot diafragma tak berfungsi sebagaimana mestinga, terdapat otot-otot interkostal yang membantu secara ekstra.

Ketika otot interkostal bekerja lebih keras, hal ini akan nampak dari sela iga yang terbentuk lebih dalam.

Kondisi ini juga diketahui dengan istilah retraksi otot atau otot-otot di sela rusuk yang tertarik.

Tinjauan
Retraksi interkostal merupakan sebuah kondisi saat saluran pernapasan mengalami penyempitan atau penyumbatan yang umumnya dapat disebabkan oleh beberapa penyakit pernapasan.

Penyebab Retraksi Interkostal

Retraksi interkostal merupakan sebuah gangguan tubuh yang dapat terjadi pada anak-anak maupun orang dewasa.

Retraksi interkostal dapat disebabkan utamanya oleh sumbatan pada saluran udara dan berikut ini adalah sejumlah penyakit yang mampu menjadi alasan terjadinya retraksi interkostal.

Penyakit Pernapasan Penyebab Retraksi Interkostal pada Anak

Penyakit pernapasan penyebab retraksi interkostal berbeda antara yang terjadi pada anak maupun orang dewasa.

Beberapa kondisi penyakit pernapasan pada anak yang mampu memicu retraksi interkostal adalah :

  • Aspirasi Benda Asing

Menelan benda asing secara tidak sengaja kerap terjadi pada anak-anak di mana kemudian masalah pernapasan pun terjadi karena adanya penyumbatan di saluran napas [2].

Seperti halnya benda asing yang ada di tenggorokan dan menyumbat saluran organ tersebut.

Hal ini berpotensi besar menyebabkan retraksi interkostal pada anak.

  • Croup

Radang tenggorokan akibat infeksi bakteri ataupun virus yang disebut dengan istilah croup sangat umum dialami anak-anak [3].

Anak penderita croup biasanya ditandai dengan tenggorokan yang kering serta batuk seperti menggonggong.

Retraksi interkostal dapat terjadi karena croup, namun kasus seperti ini sangat jarang dijumpai.

Bila anak mengalami croup dan retraksi interkostal karenanya, segera periksakan dan dapatkan penanganan medis agar tidak berbahaya bagi kesehatan anak.

  • Abses Retrofaring

Abses retrofaring merupakan sebuah kondisi akumulasi nanah akibat infeksi yang terjadi di pangkal tenggorokan [4].

Anak penderita retraksi interkostal yang disebabkan oleh abses retrofaring ditandai dengan sulit bernapas karena kumpulan nanah menghambat saluran napas atas.

Sindrom gangguan pernapasan ini pun tergolong banyak dijumpai pada anak, khususnya bayi yang baru lahir [5].

Pada kondisi ini, bayi yang baru lahir memiliki kondisi paru-paru yang kolaps.

Hal ini ditandai dengan bayi yang sulit bernapas dan risiko sindrom ini lebih tinggi terjadi pada bayi lahir prematur.

  • Bronkiolitis

Bronkiolitis atau peradangan saluran napas yang terjadi di bronkiolus atau bagian dalam paru-paru adalah suatu kondisi yang cukup umum dialami bayi berusia kurang dari 6 bulan [6].

Bronkiolitis juga jauh lebih berpotensi terjadi selama musim dingin berlangsung dan kondisi ini pun mampu memicu retraksi interkostal.

Meski bronkiolitis dapat hilang dengan cepat, tetap bawa anak ke dokter untuk memperoleh perawatan medis secepatnya.

Penyakit Pernapasan Penyebab Retraksi Interkostal pada Orang Dewasa

Walau anak-anak rentan mengalami penyakit pernapasan, orang dewasa memiliki tingkat kerentanan lebih tinggi.

Berikut adalah deretan penyakit pernapasan pada orang dewasa yang berpotensi memicu retraksi interkostal :

Epiglotitis adalah sebuah kondisi di mana peradangan menyerang tulang rawan penutup atas batang tenggorokan [7].

Karena kemunculan radang ini, udara pun tak bisa menjangkau paru-paru sehingga kondisi ini memerlukan penanganan medis darurat agar jiwa penderita terselamatkan.

  • Asma

Penyakit asma di mana saluran pernapasan mengalami penyempitan dan peradangan adalah penyebab umum retraksi interkostal [1,8].

Kondisi asma sendiri kerap ditandai dengan sesak napas, mengi, dan tekanan di bagian dada.

  • Anafilaksis

Anafilaksis adalah sebuah kondisi alergi parah yang umumnya dialami seseorang kurang lebih setengah jam usai terpapar alergen [1,5].

Ketika anafilaksis terjadi, saluran udara akan menyempit di dalam tubuh sebagai reaksinya.

Karena penyempitan ini, masalah pernapasan pun terjadi dan bersifat serius sehingga harus segera diatasi secara medis.

Anafilaksis yang tak segera mendapatkan penanganan akan mengakibatkan kondisi yang fatal pada penderitanya.

  • Pneumonia

Peradangan yang menyerang paru akibat infeksi juga dapat memicu retraksi interkostal [1,5].

Untuk kasus pneumonia, khususnya lansia, komplikasi serius dapat terjadi terutama karena sistem imun yang tak sekuat dulu.

Tinjauan
- Pada anak, penyakit seperti aspirasi benda asing, croup, abses retrofaring dan respiratory distress syndrome dapat menjadi penyebab retraksi interkostal.
- Pada orang dewasa, penyakit seperti asma, bronkiolitis, pneumonia dan epiglotitis dapat menjadi penyebab retraksi interkostal.

Gejala Retraksi Interkostal

Gangguan pernapasan seperti halnya tekanan di dada atau kesulitan bernapas bukan satu-satunya gejala retraksi interkostal.

Sulit untuk benar-benar melihat gejala retraksi interkostal karena tulang rusuk tidak selalu nampak, terutama saat sesak napas terjadi.

Untuk itu, beberapa gejala lain yang perlu diperhatikan dan diwaspadai adalah [1,2] :

  • Batuk yang cukup sering atau batuk jangka panjang yang tak kunjung sembuh.
  • Mengi yang menyertai sesak napas.
  • Otot leher tampak digunakan penderita untuk bisa bernapas.
  • Bibir dan kulit wajah berubah warna menjadi kebiruan atau keabuan.
  • Hidung melebar yang mungkin terjadi karena sulitnya bernapas.

Gejala retraksi interkostal pada anak lebih sulit untuk terdeteksi karena biasanya kesulitan bernapas pada anak tidak terlalu nampak [5].

Namun, para orang tua sebaiknya memerhatikan dengan seksama kondisi tubuh anak.

Jika anak mengalami sesak napas padahal tidak ada riwayat penyakit pernapasan, segera bawa ke dokter untuk pemeriksaan.

Kapan sebaiknya memeriksakan diri ke dokter?

Ketika tanda-tanda retraksi interkostal mulai timbul, yaitu gangguan atau terhambatnya saluran napas, pastikan untuk memeriksakan diri segera ke dokter.

Gejala-gejala yang berhubungan dengan terhambatnya pernapasan mampu berakibat fatal bila tak secepatnya mendapatkan penanganan medis.

Tak hanya itu, ke dokter dan lakukan pemeriksaan bila kuku, bibir dan kulit mulai berubah warna menjadi kebiruan [1].

Termasuk juga saat seseorang mengalami kebingungan, rasa kantuk terus-menerus dan sulit dibangunkan dari tidurnya, hal ini memerlukan penanganan medis segera.

Bila tak memiliki riwayat penyakit pernapasan apapun, kondisi ini juga lebih berbahaya sehingga perlu ditangani dengan cepat dan tepat.

Tinjauan
Gejala utama retraksi interkostak meliputi sulit bernapas, batuk yang tak kunjung membaik, mengi yang menyertai sesak napas, otot leher tampak digunakan penderita untuk bisa bernapas, bibir dan kulit membiru, hingga hidung melebar.

Pemeriksaan Retraksi Interkostal

Ketika memeriksakan diri ke dokter, beberapa metode diagnosa yang diterapkan oleh dokter kepada pasien antara lain adalah :

  • Pemeriksaan Fisik dan Riwayat Kesehatan

Dokter akan memulai pemeriksaan dengan memeriksa fisik pasien untuk mengetahui apa saja gejala fisik yang selama ini dialami [1,9].

Selain itu, dokter akan menanyakan kapan gejala mulai dirasakan oleh pasien dan apakah keluhan pernah membaik atau justru semakin memburuk.

Dokter juga perlu tahu apakah gejala selalu terjadi setiap saat atau hanya di waktu tertentu.

Dokter mungkin akan bertanya pula mengenai apakah seingat pasien terdapat sesuatu yang menghambat pernapasannya.

Pertanyaan tersebut untuk memastikan apakah benda asing pada esofagus menjadi penyebab utama gejala retraksi interkostal.

Tes darah lengkap atau tes laboratorium perlu ditempuh pasien untuk dokter memastikan adanya infeksi dalam tubuh pasien [1].

Penyebab infeksi juga dapat teridentifikasi melalui pemeriksaan ini.

Rontgen dada adalah metode pemeriksaan yang umum diterapkan untuk mengetahui kondisi paru, saluran napas, nodus limpa, pembuluh darah, dan jantung pasien [1,9].

Dokter memanfaatkan radiasi gelombang elektromagnetik pada prosedur ini agar gambar hasil pemeriksaan dada pasien maksimal.

Metode tes penunjang ini dilakukan oleh dokter dengan mengambil darah pasien melalui pembuluh arteri [1,5].

Lalu kemudian, kadar oksigen, tingkat asam basa, serta kadar karbon dioksida dapat diukur.

  • Oksimetri Nadi

Metode diagnosa penunjang ini bertujuan utama untuk dokter bisa mengetahui rinci kadar oksigen dalam darah [1,10].

Pengukuran kadar oksigen dalam darah ini bersifat noninvasif dan tak akan menyebabkan efek sakit pada pasien.

Tinjauan
Metode diagnosa yang digunakan dalam memastikan retraksi interkostal dan menentukan penanganan yang tepat adalah pemeriksaan fisik, pemeriksaan riwayat kesehatan, tes darah lengkap, oksimetri nadi, analisa gas darah, dan rontgen dada.

Pengobatan Retraksi Interkostal

Pertolongan pertama yang paling dibutuhkan oleh pasien adalah mengamankan saluran pernapasan yang mengalami sumbatan ataupun penyempitan.

Membuat pasien dapat bernapas lega kembali adalah penanganan utama, sehingga beberapa langkah berikut biasanya dilakukan oleh ahli medis [1,3,5,10] :

  • Memberikan oksigen bagi pasien.
  • Memberikan obat-obatan pelancar pernapasan maupun pereda pembengkakan.
  • Membebaskan sumbatan, seperti misalnya mengeluarkan benda yang menyumbat saluran napas pada anak-anak.

Kondisi retraksi interkostal tidak sebaiknya ditangani secara mandiri di rumah apalagi tanpa bantuan ahli medis.

Jika proses pernapasan pasien sudah dipastikan stabil, dokter baru akan menangani penyebab retraksi interkostal.

Bentuk perawatan yang diberikan oleh dokter menyesuaikan dengan penyakit penyebabnya.

Tinjauan
Pemberian oksigen, obat-obatan pereda bengkak dan pelancar pernapasan, hingga mengeluarkan benda asing (apabila terkait benda asing di esofagus) merupakan penanganan utama yang diberikan agar proses pernapasan pasien kembali lancar.

Komplikasi Retraksi Interkostal

Sumbatan pada saluran pernapasan sendiri adalah sebuah kondisi yang berbahaya bagi penderita [3,5].

Jika tidak segera mendapatkan pertolongan medis, maka kondisi ini berakibat fatal, seperti berujung pada kematian.

Oleh karena itu, penanganan darurat biasanya dibutuhkan oleh penderita gejala agar tidak terlalu lama mengalami kesulitan bernapas yang nantinya bisa berakibat fatal.

Meski begitu, kasus sumbatan total di saluran napas hingga kematian hanya terjadi tak sampai 2% [11].

Pencegahan Retraksi Interkostal

Retraksi interkostal tak dapat dicegah, namun meminimalisir risiko penyebabnya dapat dilakukan.

  • Menghindari kontak langsung dengan orang-orang penderita infeksi dapat mencegah infeksi virus yang berkaitan dengan retraksi interkostal.
  • Mencuci tangan dengan bersih dan sesering mungkin juga menghindarkan diri dari serangan infeksi virus maupun bakteri.
  • Membersihkan benda-benda di sekitar kita, terutama yang ada di rumah juga merupakan salah satu cara agar terhindar dari serangan infeksi bakteri maupun virus, terutama bila terdapat kerabat atau teman di rumah yang sedang sakit.
  • Menghindari alergen apabila memiliki riwayat alergi agar anafilaksis tidak terjadi.
  • Para orang tua dapat menjauhkan benda-benda berukuran kecil yang dapat masuk ke mulut atau hidung anak dari jangkauan mereka. Hal ini agar tidak tertelan dan menimbulkan sumbatan di saluran pernapasan.
Tinjauan
Menjaga kebersihan diri, menghindari alergen serta mengatasi penyakit yang mampu menyebabkan retraksi interkostal adalah beberapa upaya mencegah kondisi tersebut.
fbWhatsappTwitterLinkedIn

Add Comment