9 Tanda Anak Menjadi Korban Bullying

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by redaction team, read our quality control guidelance for more info

Bullying bisa terjadi di mana saja tanpa memandang status dan gender dan terjadi terutama pada anak sekolah. Biasanya, anak yang tidak terkenal menjadi sasaran para pembully. Ciri-ciri anak yang biasanya jadi korban bully diantaranya anak dengan fisik yang berbeda dari yang lain, terlihat lemah dan tak berdaya serta memiliki sedikit teman[1].

Bullying merupakan kejadian yang tidak menyenangkan jika diterima oleh anak. Hati korban akan terluka dan dapat menyebabkan perubahan emosianal di dalam diri sang anak[2].

Centers for Disease Control and Department of Education telah memberikan tiga elemen yang mencakup tindakan bullying yaitu diberikan perilaku yang tidak diinginkan secara agresif, ketidakseimbangan kekuatan yang dirasakan dan terjadi pengulangan perilaku bullying[3].

Bullying melibatkan kekerasan antara korban dan pelaku. Misalnya, terjadi tindakan memukul, mendorong, mengancam atau mengejek terhadap korban. Menggertak ingin menyebarkan hal pribadi korban atau memeras uang juga termasuk ke dalam tindakan bullying[2].

Berdasarkan hal tersebut, perilaku bullying dibagi menjadi beberapa macam.

Pertama ada verbal bullying. Tindakan yang dianggap melakukan bully secara verbal jika korban mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakan melalui kata-kata atau tulisan. Misalnya seseorang melabelkan panggilan aneh kepada seseorang seperti “si kutu buku” atau “si anak berkacamata”, mengejek fisik, mengancam, dan memberikan komentar tindak pantas[4].

Selanjutnya ada social bullying. Menyebarkan gosip, memerintah orang lain untuk menjauhi seseorang, meninggalkan dan mempermalukan seseorang di depan umum adalah contoh dari tindakan yang mengacu pada social bullying. Social bullying akan berdampak pada reputasi seseorang[4].

Ada juga tindakan bullying yang melibatkan kekerasan fisik atau perusakan benda milik seseorang. Ini disebut dengan physical bullying. Contohnya korban akan dipukuli, ditendang, didorong bagian fisiknya atau diambil dan dirusak benda pribadi yang milik korban[4].

Terakhir adalah cyber bullying. Tindakan bullying dilakukan dengan jarak jauh dengan menggunakan perangkat elektronik seperti telepon, komputer, atau teknologi lainnya. Dari perangkat keras itulah nanti tindakan bullying diberikan kepada seseorang melalu website, media sosial, platform online, dan media lainnya yang dapat diakses secara online. [5]

Para pembully melakukan tindak bullying ketika menyebarkan gosip secara sengaja, meniru orang lain secara orang lain, dan memberikan komentar yang kasar dan menyakitkan hati kepada korban[5].

Anak korban bullying mungkin akan tertekan dan takut untuk mengungkapkan hal yang terjadi. Jika terjadi luka atau memar pada fisik mungkin akan memudahkan memastikan apa yang terjadi. Namun, akan menjadi sulit ketika tidak ada tanda yang dapat dilihat dengan mata.

Untuk itu, beberapa perilaku yang jika dilakukan anak di bawah ini dapat di identifikasikan bahwa anak merupakan korban bullying.

1. Menolak untuk Pergi Sekolah

Anak yang menjadi korban bullying enggan untuk pergi ke sekolah. Mereka juga takut mengikuti kegiatan organisasi sekolah yang anggotanya terdiri dari teman sebaya. [6]

Mereka juga enggan naik bis sekolah yang biasa dipakai usia sebayanya untuk berpergian ke sekolah bahkan merubah rute perjalanan yang biasa dia lewati[6].

Di sekolah juga, anak yang menjadi korban bullying cenderung menghindari untuk pergi ke wc sekolah. Hal ini dikarenakan wc sekolah merupakan tempat yang sering kali digunakan untuk membully seseorang karena sangat jarang diawasi oleh petugas sekolah. Bisa jadi, mereka menunggu waktu pulang sekolah tiba untuk pergi ke wc sekolah[7].

2. Terjadi Penurunan Minat pada Sekolah

Tentunya akbiat dari enggannya anak untuk pergi sekolah akan berdampak pada kinerja sekolah. Anak yang memilih bolos sekolah tentu akan ketinggalan pelajaran. Kemudian, bullying juga dapat mengurangi konsentrasi pada anak[7].

3. Fisik Sering Terasa Sakit

Anak korban bullying biasanya akan sering mengeluh tentang sakit kepala atau perut yang dideritanya. Sakit ini bisa disebabkan karena rasa cemas dan stress akibat perilaku bullying yang diterimanya[7].

4. Tiba-tiba Kehilangan Teman

Anda mungkin pernah melihat anak membawa beberapa teman ke rumah untuk mengerjakan tugas kelompok atau sekadar bermain saja. Bisa juga, anda sering melihatnya saling berkomunikasi dengan menggunakan telepon. [7]

Namun, secara tiba-tiba teman anak anda sudah jarang atau bahkan tidak pernah lagi ke rumah atau melihat anak Anda juga tak pernah menelpon temannya lagi. Hal ini bisa jadi salah satu tanda anak dijadikan target bullying[7].

5. Terjadi Perubahan Kebiasaan Makan

Stress dapat membuat pola makan seseorang berubah. Bisa menjadi kurang atau bertambah. Stress yang diakibatkan oleh bullying membuat anak akan mengubah kebiasaan makan anak. [7]

Saat di rumah, jika melihat anak begitu kelaparan dan makan sangat banyak bisa jadi karena di sekolah dia memilih untuk tidak makan dan menahan rasa laparnya. Hal ini dikarenakan kantin sering dijadikan tempat untuk melakukan pembulian selain wc sekolah[7].

6. Terjadi Perubahan Fisik dan Terdapat Baju yang Robek

Jika ditemukan robek pada pakaian anak pada saat sepulang sekolah itu bisa jadi tanda anak merupakan korban bullying. Apalagi jika ditemukan memar, goresan, atau luka tubuh pada anak dan dia hanya diam saja. Hilangnya barang-barang pribadi memperkuat terjadinya perlakuan bullying[6].

7. Terjadi Perubahan Emosi dalam Menggunakan Media Sosial

Saat jarak jauh sekalipun, pembulian tidak dapat dihindari. Melalui media sosial, bullying dapat dilakukan atau yang disebut dengan cyber bullying. Salah satu tanda telah terjadinya cyber bullying adalah perilaku anak yang tampak emosi ketika berhadapan dengan media sosial. Korban kemudian akan mengurangi pengurangan perangkat elektronik secara tiba-tiba untuk menghindari bullying[7].

8. Penurunan Minat Terhadap Sesuatu

Anak memiliki minat dan hobi masing-masing. Namun, anak yang terkena dampak bullying tiba-tiba akan merasa kehilangan minat pada aktivitas yang disukainya untuk menghindari pembulian. Pasalnya, pembulian memang tidak hanya terjadi di sekolah saja karena bisa terjadi di tempat suatu organisasi atau pelatihan[7].

9. Terjadi Perubahan Kebiasaan Tidur

Dampak dari bullying akan berpengaruh pada anak secara emosional. Mereka bisa menjadi takut dan tertekan. Hal ini dapat menyebabkan anak sulit tidur, sering bermimpi buruk, bahkan mengompol di celana[7].

Perilaku bullying tidak boleh ditoleransi karena berdampak buruk pada kondisi anak baik fisik dan rohani. Maka dari itu, sebagai orang tua harus selalu memperhatikan betul kondisi anak. Jika terdapat tanda-tanda terdampak bullying segeralah bertanya kepada anak dengan hati-hati atau menghubungi gurunya karena bullying pada anak memang sering terjadi di lingkungan sekolah.

fbWhatsappTwitterLinkedIn

Add Comment