Tripofobia : Penyebab – Gejala dan Penanganan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by redaction team, read our quality control guidelance for more info

Apa Itu Tripofobia?

Tripofobia
Tripofobia ( img : Health & Wellness )

Tripofobia adalah sejenis rasa ketakutan berlebih atau fobia terhadap lubang-lubang yang berjumlah banyak serta padat [1,2,4,5].

Rasa ketakutan ini juga dapat disertai rasa jijik yang hebat terhadap banyaknya lubang pada permukaan benda, baik lubang berukuran besar atau kecil.

Jumlah lubang yang banyak dan saling berdekatan mampu membuat penderita tripofobia tidak nyaman.

Contoh benda dengan lubang banyak dan berdekatan adalah permukaan buah stroberi maupun kepala biji bunga lotus.

Fobia ini memang tidak banyak dijumpai kasusnya, namun sudah tergolong sebagai fobia yang cukup dikenal.

Tinjauan
Ketakutan berlebih, ketidaknyamanan serta rasa jijik terhadap permukaan benda yang penuh lubang kecil berdekatan disebut dengan tripofobia.

Fakta Tentang Tripofobia

  1. Tripofobia atau trypophobia berasal dari bahasa Yunani, trypa yang berarti lubang atau pengeboran [1].
  2. Terdapat sebuah laporan kasus seorang anak perempuan Kaukasia berusia 12 tahun yang mengalami ketidaknyamanan pada permukaan benda yang dipenuhi titik atau lubang; saat ia diminta menggambarkan ketakutannya pada sebuah kertas, terdapat sebuah pola titik-titik bulat berdekatan yang bersifat repetitif atau berulang [1].
  3. Prevalensi tripofobia belum diketahui secara jelas hingga saat ini meskipun beberapa penelitian telah membuktikan bahwa kasus ini tergolong cukup umum di seluruh dunia [1].
  4. Pada sebuah hasil studi yang dipublikasikan di jurnal Psychological Science tahun 2013, diketahui terdapat 16% partisipan yang mengalami rasa tak nyaman, takut serta jijik saat melihat sebuah gambar kepala biji bunga lotus [2].
  5. Di Indonesia walau kemungkinan terdapat beberapa kasus tripofobia, prevalensinya belum diketahui.

Penyebab Tripofobia

Penyebab pasti tripofobia hingga kini belum diketahui secara jelas dan penelitian mengenai kondisi ini pun masih sangat terbatas.

Hanya saja, beberapa teori berikut dikaitkan erat mengenai timbulnya tripofobia pada diri seseorang.

  • Reaksi Terhadap Karakteristik Visual

Menurut sebuah hasil studi yang dipublikasikan di Psychological Reports, orang-orang yang merasakan ketidaknyamanan saat melihat pola pemicu tripofobia murni karena tampilan pola dan bukan karena faktor lainnya [1,3].

Perasaan takut serta jijik yang muncul tidak berkaitan dengan ketakutan terhadap penyakit atau hewan tertentu, tapi karena pola itu sendiri.

  • Penyebab Evolusioner atau Reaksi Terhadap Penyakit Tertentu

Salah satu teori menyebutkan bahwa tripofobia merupakan sebuah bentuk respon terhadap segala hal yang berkaitan dengan kondisi bahaya atau penyakit [1,2].

Kondisi infeksi dan penyakit kulit dengan gejala berupa banyak benjolan atau lubang pada permukaan kulit adalah kondisi penyakit yang dimaksud.

Terdapat dasar evolusioner dari teori tersebut dan ditemukan adanya keterkaitan erat dengan rasa tak nyaman, takut serta jijik yang muncul ketika seseorang melihat obyek pemicunya.

  • Kaitan dengan Patogen Infeksi

Tripofobia juga dikaitkan dengan patogen infeksi menurut sebuah hasil studi pada tahun 2017 [4].

Partisipan pada studi tersebut menyebutkan bahwa partisipan mengalami ada sensasi gatal pada kulitnya dan ada seperti ada sesuatu yang merayapi kulitnya saat melihat pola penuh lubang.

  • Kaitan dengan Hewan Berbahaya

Teori lainnya menyebutkan bahwa tripofobia memiliki keterkaitan erat dengan hewan berbahaya [1,2,5].

Lubang-lubang berdekatan adalah pola yang memiliki kesamaan dengan pola kulit beberapa jenis hewan buas.

Beberapa orang penderita tripofobia dapat mengalami ketakutan dan rasa jijik berlebih ketika dihadapkan dengan pola berlubang karena mengingatkan mereka mengenai hewan buas tersebut.

Salah satu contoh adalah sarang lebah; ketika melihatnya, seseorang dapat membayangkan lebah di mana hewan ini menjadi cukup berbahaya karena sengatannya.

Pada beberapa orang, mereka secara tak sadar melihat sarang lebah saja dapat mengingatkan mereka pada jenis hewan berbahaya yang kemudian memunculkan perasaan takut dan merinding.

Selain lebah, ular berbisa pun dapat muncul di dalam benak seseorang ketika melihat pola lubang dengan jumlah banyak dan berdekatan.

  • Kaitan dengan Kelainan atau Penyakit Lainnya

Kondisi tripofobia juga diketahui memiliki keterkaitan dengan beberapa kondisi psikologis.

Para peneliti menemukan bahwa penderita tripofobia rata-rata juga mengalami gejala depresi dan gangguan kecemasan.

Faktor Risiko Tripofobia

Beberapa faktor yang mampu meningkatkan risiko ketidaknyamanan pada seseorang saat melihatnya (yang disebut dengan tripofobia) antara lain adalah :

  • Buah delima
  • Buah stroberi
  • Kepala biji bunga lotus
  • Buah blewah
  • Gelembung
  • Busa logam aluminum
  • Karang
  • Sarang lebah
  • Spons laut
  • Mata serangga
  • Lubang atau benjolan pada daging
  • Biji buah
  • Plastik gelembung / bubble wrap

Walau informasi tripofobia masih terlampau sedikit, namun yang jelas ketakutan timbul setiap seseorang mendapati sebuah benda atau motif yang berlubang-lubang.

Tinjauan
Belum diketahui pasti penyebab tripofobia, namun beberapa teori menyebutkan bahwa penyakit tertentu, infeksi tertentu, hewan buas, serta depresi dan gangguan kecemasan dapat menjadi pemicunya.

Gejala Tripofobia

Gejala akan timbul setiap kali seseorang melihat sebuah obyek atau benda yang permukaan atau bentuknya penuh dengan lubang-lubang berdekatan.

Benda-benda yang telah disebutkan sebelumnya mampu memicu rasa ketakutan berlebih, rasa jijik hingga tidak nyaman dan berikut ini adalah gejala-gejala lain tanda bahwa seseorang memiliki tripofobia [1,6] :

  • Tubuh gemetaran
  • Tubuh berkeringat
  • Tubuh merinding
  • Ketidaknyamanan pada penglihatan, seperti mata lelah, ilusi, atau distorsi
  • Mual
  • Serangan panik
  • Sesak nafas
  • Sensasi gatal pada kulit
  • Tekanan emosional

Pemeriksaan Tripofobia

Karena terdapat banyak macam kondisi fobia, maka dokter perlu memastikan bahwa gejala yang dialami pasien benar-benar mengarah pada tripofobia [5].

Untuk menegakkan diagnosa, dokter biasanya akan bertanya lebih dulu kepada pasien mengenai apa saja gejala yang dialami selama ini.

Selain itu, dokter akan melanjutkan dengan pertanyaan seputar riwayat kesehatan pasien dan keluarga pasien.

Dokter perlu tahu bagaimana kondisi kesehatan fisik dan mental pasien, tak terkecuali kehidupan sosial pasien.

DSM-5 adalah panduan yang umumnya digunakan oleh para dokter dalam proses diagnosa karena dengan mencocokkan apa yang dialami pasien dengan kriteria dari DSM-5 akan menghasilkan diagnosa yang lebih akurat [1,5,6].

Hanya saja perlu diketahui  bahwa tripofobia bukan sebuah kondisi yang dapat didiagnosa secara resmi karena merupakan gangguan kesehatan jiwa.

Tinjauan
Metode diagnosa yang diterapkan dokter adalah dengan memeriksa riwayat kesehatan dan gejala pasien menurut DSM-5.

Penanganan Tripofobia

Terdapat beberapa metode penanganan yang perlu pasien tripofobia tempuh, namun belum ada yang terbukti efektif dalam menyembuhkan total kondisi ini.

Meski demikian, berbagai perawatan di bawah ini mampu setidaknya meringankan gejala yang dialami pasien.

1. Obat-obatan

Dokter kemungkinan akan meresepkan obat-obaan jenis anticemas atau antidepresan, tergantung dari apakah pasien tripofobia mengalami gangguan kecemasan dan depresi atau tidak.

Selain antidepresan, beberapa jenis obat yang kemungkinan diberikan oleh dokter adalah [7] :

  • Beta-blockers
  • Benzodiazepines
  • SSRI (selective serotonin reuptake inhibitors

Umumnya obat-obatan ini perlu digunakan oleh pasien bersamaan dengan terapi paparan, terapi perilaku kognitif atau jenis psikoterapi lainnya.

2. Metode Relaksasi

Metode relaksasi perlu diterapkan ketika pasien mengalami kecemasan, ketakutan atau rasa jijik.

Dalam metode ini, terdapat beberapa cara untuk membantu kondisi pasien agar lebih baik, yaitu seperti relaksasi otot progresif, pernapasan dalam-dalam, hingga visualisasi [1,8].

Visualisasi merupakan teknik di mana seorang penderita tripofobia perlu membayangkan sesuatu yang indah menurut mereka setiap saat menghadapi atau melihat benda dengan jumlah lubang banyak.

Imajinasi atau visualisasi yang dapat digunakan misalnya seperti gambaran matahari terbenam yang indah atau taman bunga.

Cara lain yang juga bisa dilakukan dalam metode relaksasi ini adalah distraksi sederhana, yakni mengalihkan perhatian dan pandangan dari obyek yang memicu tripofobia.

Cari hal lain untuk dilihat dan diperhatikan sampai merasa lebih tenang dan gejala ketakutan serta ketidaknyamanan mereda.

3. Terapi Paparan/Eksposur

Terapi ini berfokus pada proses mengekspos pasien justru pada obyek yang membuatnya merasa takut [4].

Dengan prosedur pemaparan terhadap obyeknya langsung, hal ini diharapkan mampu membantu pasien dalam mengurangi rasa ketakutan tersebut.

Meredakan rasa takut dengan melawannya langsung dianggap efektif, terutama melalui 3 langkah berikut :

  • Mengimajinasi atau membayangkan apa yang ditakuti.
  • Melihat ke arah gambar obyek yang memicu ketakutan atau ke bendanya secara langsung.
  • Mendekati bahkan menyentuh benda yang menyebabkan ketakutan.

Sebagai contoh, penderita dapat membayangkan kepala biji bunga lotus atau sarang lebah dalam kondisi mata terpejam.

Terapi ini perlu terus diterapkan sampai pasien benar-benar merasa lebih baik dan gejala tripofobia mereda.

Pada beberapa kasus, pasien dapat membayangkan obyek pemicu tripofobia tanpa respon ketakutan sama sekali, bila hal ini sudah terjadi maka terapis akan membantu agar pasien dapat melihat bendanya secara langsung.

Jika melihat benda atau obyek berlubang-lubang sudah tidak masalah, maka selanjutnya pasien dapat mulai belajar mendekatinya.

Bahkan mungkin terapis juga akan membantu supaya pasien dapat menyentuh sumber ketakutan awalnya tersebut.

4. Terapi Perilaku Kognitif

Terapi ini bertujuan utama membantu pasien dalam mengubah perilakunya menjadi lebih positif [1,5].

Dalam proses terapi ini, pasien dibantu oleh terapis profesional melalui diskusi tentang pikiran-pikiran yang tidak nyata lalu berusaha menggantinya dengan pikiran-pikiran yang lebih realistis.

Perubahan cara pikir dan cara pandang pasien terhadap obyek yang mendasari ketakutannya akan berpengaruh pada cara berperilakunya.

Ini karena gejala fobia timbul pada diri seseorang sebenarnya disebabkan oleh suatu kepercayaan bahwa benda atau faktor pemicu rasa takutnya itu mampu mengancam nyawa atau membahayakan dirinya.

Pikiran negatif seperti ini jika diteruskan maka akan membuat gejala dapat semakin parah setiap kali pasien menjumpai obyek pemicu ketakutannya.

Oleh sebab itu, terapi perilaku kognitif diperlukan agar pikiran terhadap benda yang menimbulkan fobia dapat menjadi lebih positif.

5. Perawatan Mandiri

Untuk kondisi yang lebih baik, pasien juga sebaiknya menjaga kesehatan diri dengan melakukan beberapa perubahan gaya hidup menjadi lebih sehat ini :

  • Menghindari kafein atau zat-zat lainnya yang mampu memicu gangguan kecemasan.
  • Makan makanan bernutrisi tinggi.
  • Menjalani diet yang sehat dan seimbang.
  • Mendapatkan istirahat cukup dan kualitas tidur yang baik.
  • Menghubungi keluarga atau teman dekat untuk berbagi ketika mengalami masalah atau ketika setidaknya ingin bertukar pikiran.
Tinjauan
Penanganan tripofobia biasanya dengan pemberian obat antidepresan (bila pasien mengalami depresi dan kecemasan), terapi eksposur, terapi perilaku kognitif, teknik relaksasi, dan perawatan mandiri (perubahan gaya hidup dan pola diet).

Pencegahan Tripofobia

Tidak diketahui bagaimana mencegah supaya tripofobia sama sekali tidak terjadi, namun untuk mencegah supaya gejala tidak dialami, maka hindari penyebabnya.

Karena gejala dapat menghambat aktivitas penderita sehari-hari, penting untuk menghindari obyek atau benda pemicu tripofobia.

Segera konsultasikan juga ketakutan berlebih ini dengan dokter atau psikolog agar dapat mengendalikan serta mengurangi gejalanya.

Tinjauan
Menghindari pemicu tripofobia merupakan cara mencegah supaya gejala tidak timbul. Namun bila gejala mulai dialami, segera konsultasikan dengan dokter/psikolog untuk mengatasi gejalanya.
fbWhatsappTwitterLinkedIn

Add Comment