Alkaptonuria : Penyebab – Gejala dan Penanganan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by redaction team, read our quality control guidelance for more info

Apa Itu Alkaptonuria?

Alkaptonuria ( img : Indian Journal of Otology )

Alkaptonuria merupakan sebuah kondisi langka ketika asam homogentisat atau homogentisic acid menumpuk di dalam tubuh seseorang sehingga urine atau air seni saat buang air kecil berwarna sangat gelap dan cenderung hitam [1,2,3,4,5,6].

Alkaptonuria tak terlalu menunjukkan gejala pada penderitanya, namun gejala umumnya tetap berkembang walaupun sangat lambat.

Seringkali penderita menyadari bahwa dirinya menderita alkaptonuria sudah cukup terlambat karena sejumlah masalah kesehatan mulai timbul.

Bahkan beberapa penderita alkaptonuria dapat mengalami okronosis atau flek-flek berwarna biru kehitaman pada kulit.

Tinjauan
Alkaptonuria merupakan kondisi langka akan terjadinya penumpukan asam homogentisat di dalam tubuh yang ditandai dengan perubahan pigmen kulit serta warna urine menjadi gelap dan cenderung kehitaman.

Perbedaan Antara Alkaptonuria dan Fenilketonuria

Alkaptonuria dan fenilketonuria memang sama-sama merupakan penyakit bawaan lahir dan terjadi karena faktor genetik [4].

Namun perlu diketahui, kedua kondisi tersebut berbeda walaupun sepintas nampak mirip.

Alkaptonuria adalah kelainan langka di mana penumpukan asam homogentisat terjadi di dalam tubuh seseorang yang berakibat pada perubahan warna urine serta pigmen kulit.

Seseorang memiliki kelainan ini sejak lahir jika kedua orangtuanya mengidap penyakit ini atau membawa kesalahan gen lalu menurunkannya kepada anaknya.

Hanya saja, penderita alkaptonuria kemungkinan baru akan menyadari bahwa dirinya mengalami alkaptonuria pada usia 20 atau 30-an karena gejala berkembang perlahan sehingga tak mudah nampak.

Walau dapat beraktivitas secara normal, penderita alkaptonuria tetap mengalami gangguan pada sendi serta beberapa organ vital lainnya.

Sementara itu, fenilketonuria adalah kelainan genetik ketika terjadi penumpukan asam amino fenilalanin di dalam tubuh seseorang karena proses penguraiannya terhambat.

Berbeda dari alkaptonuria yang membuat pigmen dan warna urine berubah, gejala utama fenilketonuria adalah pertumbuhan anak yang lambat, tremor, serta tubuh alami kejang.

Sebagai dampaknya, penderita fenilketonuria dapat mengalami kadar fenilalanin yang terlalu tinggi di mana hal ini dapat memicu pada gangguan otak serius.

Namun jika kadar fenilalanin tak terlalu tinggi, maka enzim dalam tubuh yang seharusnya menjadi pengubah fenilalanin masih bekerja dengan lumayan baik.

Fakta Tentang Alkaptonuria

Diketahui prevalensi alkaptonuria secara global adalah 1 kasus dari 250.000-1.000.000 kelahiran yang bahkan prevalensinya jauh lebih tinggi di negara-negara seperti Yordania, India, Jerman, Republik Dominika, dan Slovakia [1,2,3].

Kasus alkaptonuria di Slovakia dilaporkan memiliki prevalensi 1 dalam 19.000 kelahiran sehingga menjadikannya prevalensi paling tinggi dibandingkan negara lainnya [1,2].

Pria maupun wanita dapat mengalami alkaptonuria dengan risiko sama besar, namun pria dapat mengalami gejala lebih awal daripada wanita dan potensi penyakit semakin serius pun lebih tinggi [1].

Penyebab Alkaptonuria

Alkaptonuria adalah jenis penyakit langka di mana mutasi gen HGD (homogentisate 1,2-dioxygenase) adalah penyebab utamanya [1,2,4].

Kondisi ini juga dikenal bersifat resesif autosomal yang berarti seseorang dapat mengalami alkaptonuria ketika kedua orangtuanya memiliki mutasi gen tersebut.

Kesalahan gen tersebut dapat diturunkan oleh kedua orangtua ke anak-anaknya, dan bukan salah satu dari orangtua.

Perlu diketahui bahwa fenilalanin dan tirosin merupakan dua senyawa pembentuk asam amino yang akan dipecah oleh tubuh ketika tubuh dalam kondisi normal pada reaksi kimia yang terjadi di dalam tubuh.

Namun jika seseorang mengalami alkaptonuria, proses produksi enzim homogentisate oxidase terhambat sehingga kadarnya tidak memadai seperti seharusnya.

Padahal, tubuh membutuhkan enzim tersebut sebagai pemecah hasil metabolisme tirosin, yaitu yang kita kenal sebagai asam homogentisat.

Karena hal ini, penumpukan asam homogentisat terjadi yang berdampak pada tubuh penderita alkaptonuria sehingga pigmen dan urine berubah gelap.

Bagaimana orangtua dapat mewariskan alkaptonuria kepada anaknya?

Ada 23 pasang kromosom pada setiap sel dalam tubuh manusia yang membawa gen-gen di mana seseorang dapat mewarisi gen tersebut dari orangtuanya [4].

Dari orangtua akan selalu ada salah satu pasang kromosom yang diturunkan kepada anak dan untuk kasus alkaptonuria ini, gen HGD adalah yang diwariskan.

Masing-masing orangtua (ayah maupun ibu) berpotensi membawa satu gen HGD yang artinya orangtua dapat menjadi pembawa sifat gen HGD tanpa mengalami gejala alkaptonuria.

Namun saat diturunkan kepada sang anak, maka anaklah yang kemudian menderita alkaptonuria karena memperoleh dua buah salinan gen HGD.

Walau untuk memiliki kondisi alkaptonuria seseorang harus lebih dulu mewarisi gen HGD dari kedua orangtua, kondisi alkaptonuria sangatlah langka sehingga risiko untuk menderita penyakit ini juga terlampau kecil.

Tinjauan
Mutasi gen HGD (homogentisate 1,2-dioxygenase) merupakan penyebab utama alkaptonuria di mana untuk seseorang dapat mengalami alkaptonuria, ia mewarisi mutasi gen dari kedua orangtua.

Gejala Alkaptonuria

Gejala paling awal dari alkaptonuria adalah flek berwarna gelap atau kehitaman pada popok bayi yang kemudian disusul dengan sejumlah kondisi gejala lainnya selama masa kecil seseorang.

Gejala akan berkembang makin banyak dan makin nampak jelas saat usia semakin bertambah, terutama pada perubahan warna urine.

Perubahan warna urine yang menjadi gelap umumnya dapat semakin nampak saat terkena paparan udara.

Pada penderita alkaptonuria yang mencapai usia 20-30 tahunan, osteoarthritis pun mulai dialami.

Gejala yang berkaitan dengan osteoarthritis ini berupa rasa kaku dan nyeri khususnya di sendi-sendi besar atau punggung bagian bawah sehingga perlu diwaspadai.

Berikut ini adalah sejumlah gejala lain alkaptonuria yang perlu dikenali sekaligus diwaspadai :

  • Tulang rawan pada telinga tampak lebih tebal.
  • Area tulang rawan pada telinga akan mengalami perubahan warna menjadi lebih gelap.
  • Muncul bintik-bintik berwarna hitam pada bagian putih mata penderita.
  • Arthritis atau nyeri dan kekakuan pada sendi, khususnya akan dirasakan pada sendi lutut dan panggul.
  • Batu ginjal.
  • Kotoran telinga berwarna hitam.
  • Keringat berwarna hitam.
  • Kulit berubah warna menjadi kebiruan atau kehitaman, khususnya pada area yang dekat dengan kelenjar keringat.
Tinjauan
Alkaptonuria menimbulkan gejala berupa pigmen kulit hitam serta urine yang juga berwarna coklat tua atau kehitaman. Selain itu, kotoran telinga hingga keringat pun dapat berwarna gelap yang diikuti dengan gejala osteoarthritis.

Pemeriksaan Alkaptonuria

Dokter pada umumnya akan melakukan beberapa metode pemeriksaan pada pasien yang memiliki gejala yang mengarah pada kondisi alkaptonuria, yaitu :

  • Pemeriksaan Fisik

Bila gejala yang dialami pasien adalah urine yang berwarna kehitaman atau setidaknya berwarna coklat tua, maka dokter biasanya akan dengan mudah mencurigai bahwa gejala tersebut berasal dari kondisi alkaptonuria.

Hal ini lebih jelas lagi ketika urine terpapar udara lalu perubahan warna terjadi.

Selain melihat langsung dari perubahan warna urine, dokter pun umumnya akan memeriksa apakah pasien mengalami perkembangan gejala yang berkaitan dengan osteoarthritis.

  • Pemeriksaan Riwayat Kesehatan

Dokter juga mendiagnosa pasien dengan gejala alkaptonuria dengan memberikan pertanyaan seputar riwayat medis pasien itu sendiri serta riwayat medis orangtua pasien.

Riwayat kesehatan keluarga pasien sangat membantu bagi dokter untuk mengetahui apakah orangtua membawa gen yang cacat lalu menurunkannya pada sang anak.

Bahkan ketika benar bahwa orangtua membawa sifat gen HGD, orangtua pasien sendiri pun tak akan menyadari bahwa mereka memiliki gen tersebut.

Pemeriksaan riwayat kesehatan ini dapat dilakukan melalui tes DNA pada umumnya.

  • Tes Urine atau Tes Kromatografi Gas

Tes kromatografi gas adalah bentuk pemeriksaan urine yang dilakukan oleh dokter agar dapat mengetahui kadar asam homogentisat pada urine pasien.

Tinjauan
Untuk mendeteksi alkaptonuria, dokter perlu memeriksa fisik dan riwayat medis pasien serta mengetahui riwayat kesehatan keluarga pasien. Tes urine pun diperlukan agar mengetahui kadar asam homogentisat.

Penanganan Alkaptonuria

Belum terdapat cara atau obat tertentu yang diketahui mampu menyembuhkan alkaptonuria secara total.

Penanganan alkaptonuria hanya bertujuan untuk membantu meringankan gejala yang dialami pasien karena alkaptonuria merupakan kondisi jangka panjang.

Dalam mengatasi alkaptonuria, ada dua metode yang biasanya diterapkan, yaitu melalui obat-obatan serta melalui perubahan gaya hidup supaya pasien dapat bertahan dengan gejala-gejalanya.

  • Obat Nitisinone

Pemberian obat nitisinone adalah salah satu cara untuk mengurangi penumpukan kadar asam homogentisat dalam tubuh pasien walaupun obat ini bukanlah obat khusus untuk penderita alkaptonuria [1,2,3,4,].

Nitisinone diketahui merupakan pengobatan eksperimental sehingga masih diperlukan penelitian lebih jauh untuk fungsinya menangani alkaptonuria.

Hanya saja, National Alkaptonuria Centre menawarkan pengobatan ini sebagai metode penanganan gejala yang berefektivitas tinggi.

Terlepas dari penelitian obat yang masih berlangsung, telah dijumpai beberapa bukti bahwa obat ini baik untuk pasien alkaptonuria.

Untuk mengurangi rasa nyeri pada sendi, pemberian obat pereda nyeri dan obat-obatan anti-inflamasi kemungkinan dilakukan oleh dokter [3,4].

  • Vitamin C

Dokter berkemungkinan besar akan merekomendasikan vitamin C dalam dosis yang besar atau setidaknya dokter akan menyarankan pasien menggunakan asam askorbat [1,2,4].

Tujuan pemberian vitamin C atau asam askorbat adalah sebagai penghambat penumpukan asam homogentisat secara berlebihan.

Namun, penggunaan vitamin C secara jangka panjang pun tidak dianjurkan karena akan mengurangi efektivitasnya dalam membantu pemulihan pasien alkaptonuria.

  • Diet

Diet rendah protein adalah yang umumnya dianjurkan oleh dokter di mana pada anak-anak yang didiagnosa dengan alkaptonuria dapat mulai membatasi asupan protein [1,2,3,4].

Dengan melakukan diet ini, kadar fenilalanin serta tirosin dalam tubuh pasien akan berkurang.

Pada penderita alkaptonuria usia dewasa yang menggunakan obat nitisinone, diet rendah protein sangat baik dalam mengurangi risiko efek samping obat tersebut.

Namun, pasien juga sebaiknya mengonsultasikan perihal diet ini secara mendetil dengan dokter agar tidak mengalami kesalahan.

  • Olahraga

Kekakuan dan rasa nyeri dapat timbul karena alkaptonuria walaupun tidak seluruh penderitanya mengalami hal ini.

Jika gejala seperti ini dirasakan, olahraga adalah perawatan mandiri yang bisa dilakukan di rumah [2,3].

Olahraga ringan yang rutin justru dianjurkan agar sendi-sendi lebih kuat serta rasa nyerinya berkurang.

Tak hanya sendi yang akan merasakan dampak baiknya, tapi otot tubuh pasien pun akan terbangun dengan lebih baik.

Gejala alkaptonuria akan jauh lebih terasa ringan dengan melakukan olahraga karena berat badan turun, tingkat stres turun, dan postur tubuh dapat ditingkatkan.

Olahraga ringan yang dimaksud dan paling direkomendasikan antara lain adalah pilates, yoga serta renang.

Atau, konsultasikan dengan dokter mengenai program olahraga yang tepat sesuai dengan kondisi pasien.

  • Operasi

Operasi selalu menjadi opsi terakhir apabila bagian panggul, lutut, dan bahu pasien memang memerlukan penggantian [1,4].

Ketika kerusakan pada bagian-bagian tubuh tersebut sudah cukup serius atau ketika pengerasan pembuluh maupun katup jantung terjadi, maka langkah operasi perlu ditempuh.

Tinjauan
Obat nitisinone dan obat pereda nyeri adalah bentuk perawatan umum yang diberikan dokter kepada pasien alkaptonuria. Namun pemberian vitamin C atau asam askorbat, rekomendasi diet rendah protein, dan olahraga pun dilakukan. Jika kerusakan parah terjadi pada tubuh pasien, prosedur operasi akan dianjurkan.

Komplikasi Alkaptonuria

Pada dasarnya penderita alkaptonuria dapat hidup secara normal dan beraktivitas seperti biasa, namun risiko komplikasi-komplikasi ini dapat semakin besar seiring bertambahnya usia [1,2,6].

  • Kesulitan Bernafas : Bila tulang rusuk terpengaruh begitu juga sendi, maka penderita akan mengalami kesulitan bernafas karena udara yang masuk ke tulang rusuk menjadi terbatas karena kekakuan yang terjadi. Kepadatan tulang dapat terpengaruh oleh penumpukan asam homogentisat sehingga hal ini dapat dialami penderitanya.
  • Methemoglobinemia : Kadar methemoglobin dapat menjadi berlebihan di mana hal ini kemudian memicu kebiruan pada warna kulit.
  • Keterbatasan Gerakan Tubuh : Sendi panggul dan lutut yang terkena dampak dari penumpukan asam homogentisat akan menjadi terbatas dalam pergerakannya.
  • Batu Ginjal dan Batu Kandung Kemih : Batu ginjal dan batu kandung kemih terbentuk sebagai efek dari kadar asam homogentisat tinggi di dalam tubuh. Bahkan batu dapat terbentuk pula pada kelenjar air liur serta prostat.
  • Penyakit Arteri Koroner : Bila penumpukan asam homogentisat terjadi di pembuluh darah, maka penyakit arteri koroner dapat terjadi karena pembuluh arteri menjadi lebih lemah dan kaku. Hal ini menurunkan kinerjanya dalam mensuplai darah.
  • Ketidakteraturan Ritme Jantung : Penumpukan asam homogentisat dapat terjadi pada jaringan jantung sehingga memengaruhi ritme jantung menjadi tidak teratur sebagai akibat dari impuls listrik yang terganggu.
  • Kerusakan Katup Jantung : Fleksibilitas katup jantung dapat terpengaruh oleh penumpukan asam homogentisat menjadikan katup jantung mengalami kekakuan dan tak mampu mengendalikan aliran darah secara normal.
  • Kehilangan Pendengaran : Penumpukan asam homogentisat dapat juga terjadi pada membran timpani yang pada akhirnya memicu kekakuan dan penebalan pada gendang telinga. Hal ini dapat berakibat penderita mengalami kehilangan pendengaran bahkan secara permanen.
  • Hemolisis : Ketika membran sel darah merah pelepas hemoglobin mengalami kerusakan, inilah yang disebut dengan hemolisis di mana penderita dapat mengalaminya karena efek akumulasi asam homogentisat.

Pencegahan Alkaptonuria

Pada pasangan suami istri yang hendak merencanakan program kehamilan, sebaiknya lakukan tes genetik dan juga konseling dengan dokter yang tepat [2,4].

Tes selama kehamilan atau sebelum kelahiran bayi juga dapat mendeteksi lebih awal adanya kelainan pada janin.

Namun pada penderita yang sudah mengalami gejala alkaptonuria, deteksi dini dan penanganan yang tepat sejak terdiagnosa dapat mencegah komplikasi-komplikasi serius.

Membatasi asupan protein sambil menjaga pola hidup tetap seimbang dapat menurunkan risiko komplikasi.

Tinjauan
Tes dan konseling genetik sebelum merencanakan kehamilan adalah penting untuk mendeteksi adanya sifat gen yang cacat di dalam tubuh pasangan suami istri. Namun untuk mencegah alkaptonuria yang telah dialami, deteksi serta penanganan dini diimbangi pola hidup yang sehat dapat membantu.
fbWhatsappTwitterLinkedIn

Add Comment