Atelektasis – Penyebab – Gejala dan Pengobatan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by redaction team, read our quality control guidelance for more info

Apa Itu Atelektasis?

Atelektasis ( img : Stepwards.com )

Atelektasis merupakan istilah medis untuk kondisi seluruh atau sebagian paru-paru tidak berfungsi dengan baik dan cenderung tak dapat mengembang sempurna [1,2,3,4,5,6,7,8].

Pada seseorang dengan atelektasis, udara yang masuk saat mengambil nafas tidak mampu mencapai alveoli atau kantung paru [4].

Padahal, alveoli atau kantung paru merupakan lokasi masuknya oksigen dan keluarnya karbon dioksida.

Bila udara bersih gagal memasuki kantung paru, hal ini menandakan bahwa oksigen yang seharusnya tersuplai ke organ dan jaringan tubuh menjadi berkurang.

Jika demikian, hipoksia adalah akibatnya, yaitu kondisi kadar oksigen yang menurun sehingga organ dan jaringan tubuh tak berfungsi maksimal.

Tinjauan
Atelektasis adalah gangguan pernafasan atau paru-paru ketika sebagian atau seluruh paru mengalami kolaps karena alveoli (kantong paru) cenderung mengempis dan tak mampu mengembang seperti normalnya.

Fakta Tentang Atelektasis

Di Indonesia, atelektasis ditemukan pertama kali pada penderita penyakit paru di tahun 1971 [1].

Tahun 1980, atelektasis diketahui menyebar ke seluruh wilayah di Indonesia dari sejak pertama kali ditemukan.

Ada 74,4 juta pengidap penyakit paru yang memiliki atelektasis menurut sebuah hasil penelitian di tahun 1994, di antaranya :

  • Sekitar 5,5 juta penduduk di Amerika Serikat
  • Sekitar 6 juta penduduk di Jerman
  • Sekitar 2,1 juta penduduk di Inggris

Perbedaan Antara Atelektasis dan Pneumotoraks

Atelektasis seringkali disamakan dengan pneumotoraks karena keduanya tergolong penyakit paru kolaps, yaitu mengempisnya paru-paru sehingga menyebabkan kesulitan bernafas, padahal keduanya berbeda [7].

Hanya saja, atelektasis adalah kondisi sebagian atau seluruh paru yang kolaps karena mengempisnya alveoli.

Sementara itu, pneumotoraks adalah penimbunan udara yang terjadi di rongga antara dinding dada dan paru yang membuat paru-paru tak dapat mengembang sempurna dan cenderung mengempis.

Cedera fisik seperti adanya luka pada paru-paru dapat menjadi penyebabnya, meski penyebab utama pneumotoraks hingga ini belum pasti.

Jenis Atelektasis Menurut Penyebabnya

Jenis atelektasis ada dua menurut penyebabnya, yaitu atelektasis obstruktif dan atelektasis non-obstruktif.

Atelektasis Obstruktif

Terjadinya obstruktif atelektasis adalah ketika penyumbatan di salah satu saluran udara sehingga udara sulit untuk masuk ke kantung udara (alveoli).

Penyumbatan ini berasal dari beberapa kondisi, seperti [2,3,4,5,6,8] :

  • Keberadaan tumor pada jaringan paru sehingga saluran nafas mendapat tekanan.
  • Ada tumor di dalam saluran pernafasan.
  • Penumpukan lendir pada saluran pernafasan; anak-anak jauh lebih rentan mengalami hal ini, termasuk juga penderita asma dan fibrosis kistik.
  • Benda asing berukuran kecil yang tak sengaja terhirup.

Atelektasis Non-Obstruktif

Pada kasus atelektasis non-obstruktif, penyumbatan di saluran pernafasan bukanlah penyebab utamanya.

Beberapa hal non-obstruktif di bawah inilah yang menjadi sebab terjadinya atelektasis :

  • Tumor di Dada : Pertumbuhan tumor di dada dan dekat dengan paru-paru dapat menjadi asal tekanan pada paru sehingga udara secara otomatis “dipaksa” untuk keluar dari kantong udara.Karena hal ini, paru-paru dapat mengempis dan sulit untuk mengembang kembali secara sempurna [2,5,6,8].
  • Fibrosis Paru : Adanya jaringan parut pada paru-paru dapat menyebabkan seseorang sulit bernafas. TBC (tuberkulosis) adalah salah satu penyebab fibrosis paru, termasuk juga kebiasaan merokok sehingga meningkatkan risiko jaringan parut permanen dan menyebabkan kantong udara sulit mengembang [5,6].
  • Pneumotoraks : Pneumotoraks adalah kondisi ketika udara menumpuk pada area antara dada dan paru-paru sehingga fungsi paru menurun dan berisiko gagal fungsi [2,5,6].
  • Efusi Pleura : Efusi pleura adalah kondisi ketika cairan menumpuk di antara lapisan pleura (membran pemisah antara dinding dada dalam dengan paru-paru). Pada kondisi ini, udara “dipaksa” keluar dari alveoli karena jaringan elastis paru-paru menarik ke dalam [2,5,6].
  • Defisiensi Surfaktan : Surfaktan adalah zat yang ada pada alveoli untuk membantu alveoli tetap dalam keadaan terbuka. Alveoli dapat menjadi kolaps ketika kadar surfaktan terlalu rendah [2,6].
  • Efek Pasca Operasi : Pada prosedur operasi, ada keterlibatan penggunaan anestesi, obat pereda nyeri, obat penenang dan alat pernafasan di mana efeknya justru memicu sulitnya bernafas dalam-dalam. Alveoli berisiko kolaps ketika seseorang tidak pernah batuk maupun melakukan pernafasan dalam-dalam [5,8].

Faktor Risiko Atelektasis

Seseorang dengan kondisi-kondisi di bawah ini adalah yang paling rentan mengembangkan atelektasis [5] :

  • Punya kebiasaan merokok.
  • Usia balita (saluran pernafasan sangat rentan kemasukan benda asing maupun partikel-partikel kecil).
  • Riwayat operasi dada atau perut.
  • Punya penyakit paru seperti asma, fibrosis kistik, dan penyakit paru obstruktif kronik.
  • Kondisi sulit menelan.
  • Cedera di bagian perut atau dada (dapat berupa patah tulang) sehingga menyebabkan kesulitan bernafas dan batuk.
  • Penggunaan obat tertentu yang menyebabkan nafas pendek-pendek.
  • Otot pernafasan lemah.
  • Istirahat total di atas tempat tidur (bed rest) terlalu lama tanpa banyak menggerakkan tubuh.
Tinjauan
Menurut penyebabnya, atelektasis dibagi menjadi dua kondisi, obstruktif dan non-obstruktif. Atelektasis obstruktif terjadi karena sumbatan yang menghambatan salah satu saluran udara, sementara atelektasis non-obstruktif terjadi tanpa adanya sumbatan.

Gejala Atelektasis

Bila sebagian kecil saja dari paru-paru yang terpengaruh oleh atelektasis, maka pada umumnya kondisi ini tidaklah menimbulkan gejala apapun.

Namun bila sebagian besar bagian paru yang terpengaruh, gejala-gejala inilah yang sangat memungkinkan untuk terjadi [2,3,4,5,6,8] :

  • Nyeri pada dada yang tajam, khususnya saat batuk atau mengambil nafas dalam-dalam.
  • Pernafasan menjadi lebih cepat dari normalnya.
  • Pernafasan menjadi lebih pendek-pendek karena tak dapat bernafas dalam-dalam.
  • Mengi
  • Batuk persisten
  • Demam
  • Warna bibir dan kulit berubah kebiruan

Saat kondisi gejala semakin berkembang, kadar oksigen dalam darah pun mengalami penurunan.

Bila tidak segera mendapatkan pertolongan medis, jantung dapat berdetak lebih cepat dan tekanan darah menurun drastis secara mendadak.

Namun karena gejala dari atelektasis mirip dengan emfisema dan asma dengan sesak nafas serta nyeri pada dada, periksakan segera ke dokter.

Pemeriksaan secepatnya perlu ditempuh untuk mendapatkan hasil diagnosa yang tepat serta mengonfirmasi apakah gejala yang dikeluhkan benar-benar mengarah pada atelektasis.

Kapan seharusnya ke dokter?

Lakukan pemeriksaan ke dokter apabila sesak nafas disertai dengan sejumlah gejala tak wajar, seperti detak jantung yang terlalu cepat, nafas memburu, dada nyeri, hingga perubahan warna pada lidah, kulit dan bibir menjadi kebiruan [4].

Tinjauan
Nafas cepat, nafas pendek-pendek (sesak nafas), nyeri tajam pada dada, mengi, batuk, kadang disertai demam, hingga perubahan warna kulit dan bibir menjadi kebiruan adalah gejala ateleksis paling umum.

Pemeriksaan Atelektasis

Saat menemui dokter dan dokter memiliki kecurigaan bahwa pasien dengan gejalanya mengarah pada atelektasis, beberapa metode pemeriksaan berikut akan diterapkan.

  • Pemeriksaan Fisik : Dokter akan memeriksa bagian dada pasien dengan menepuknya serta mendengarkan nafas pasien. Suara pernafasan pasien hampir sama sekali tak terdengar bila sebagian atau sepenuhnya paru-paru mengalami kolaps [4].
  • Oksimetri : Pemeriksaan lanjutan seperti oksimeteri, yaitu pemasangan alat berukuran kecil pada salah satu jari pasien berguna untuk mengukur kadar oksigen dalam darah. Melalui tes inilah dokter akan dapat menentukan sudah seberapa serius kondisi atelektasis pasien [4,5,6].
  • Tes Darah : Pengambilan darah dari arteri adalah metode pemeriksaan yang dapat membantu dokter mengetahui kadar oksigen, kimia darah, serta karbon dioksidan dalam tubuh pasien [6].
  • Rontgen Dada : Rontgen atau sinar-X pada dada dilakukan oleh dokter untuk mengetahui kondisi posisi jantung dan trakea pasien [2,3,4,6,8].
  • CT Scan : Tes pemindaian ini justru biasanya lebih efektif dalam mendeteksi jenis dan penyebab atelektasis pasien daripada sinar-X, maka dokter kemungkinan besar akan meminta pasien menempuh tes ini [3,4,5,6,8].
  • MRI Scan : Prosedur pemeriksaan ini mengandalkan gelombang magnetik dalam menghasilkan gambar kondisi bagian paru-paru pasien sehingga dokter bisa mendeteksi adanya gangguan di sana [4,8].
  • PET Scan : Pemeriksaan yang biasanya ditempuh oleh pasien gejala kanker ini bertujuan untuk mendeteksi keberadaan metabolisme sel hiperaktif [4].
  • Bronkoskopi : Sebuah alat lentur bernama bronkoskop akan dimasukkan ke saluran pernafasan pasien lewat mulut atau hidung supaya mampu menghasilkan gambar kondisi bagian dalam paru-paru, laring, dan saluran udara pasien [2,3,4,5,6,8].
  • Ultrasonografi Toraks : Dokter kemungkinan menerapkan pula tes diagnosa ini untuk dapat membedakan antara atelektasis, efusi pleura, dan konsolidasi paru-paru (paru-paru yang mengeras dan membengkak akibat cairan pada kantong udara) [5].
Tinjauan
Selain pemeriksaan fisik, dokter biasanya akan melakukan serangkaian pemeriksaan lanjutan seperti tes pemindaian, tes darah, dan tes pengukuran kadar oksigen dalam darah untuk mengonfirmasi penyebab gejala dan mengeliminasi berbagai kemungkinan penyakit selain atelektasis.

Pengobatan Atelektasis

Untuk kasus atelektasis yang ringan, umumnya gejala tak begitu dirasakan dan bahkan dapat sembuh dengan sendirinya.

Namun pada kondisi atelektasis yang cukup serius, penanganan atelektasis terdiri dari dua metode, yaitu operasi dan non-operasi, tergantung dari kondisi apa yang menyebabkannya.

Metode Operasi

Metode penanganan atelektasis dengan langkah operasi tergolong sangat jarang [5,6].

Operasi biasanya ditempuh oleh pasien atelektasis yang mengalami penyumbatan serius pada saluran pernafasannya.

Prosedur operasi yang dimaksud adalah bertujuan untuk menyedot lendir yang menjadi asal sumbatan.

Pasien dengan tumor yang tumbuh di saluran pernafasan pun membutuhkan langkah operasi untuk mengangkat tumor tersebut.

Prosedur operasi dapat disertai ataupun tidak disertai dengan terapi radiasi atau kemoterapi, tergantung dari seberapa ganas dan parah tumor tersebut.

Metode Non-Operasi

Pada banyak kasus atelektasis tidaklah memerlukan operasi untuk penanganannya.

Beberapa metode penanganan non-operasi berikut ini adalah yang paling sering dokter rekomendasikan :

  • Latihan Pernafasan : Spirometer insentif adalah alat yang biasanya diberikan oleh ahli medis kepada pasien untuk membantu latihan bernafas dalam-dalam. Latihan pernafasan ini lebih bermanfaat bagi atelektasis pasca operasi dengan tujuan untuk membuka kantong udara atau alveoli [2,4,5,6,8].
  • Bronkoskopi : Tabung kecil akan dimasukkan ke dalam paru-paru pasien oleh dokter melalui mulut atau hidung yang bertujuan mengangkat lendir yang menyumbat ataupun benda-benda asing lain yang menyebabkan sumbatan [3,5,6].
  • Fisioterapi Dada : Terapis akan membantu pasien untuk menggerakkan tubuh dalam berbagai gerakan berbeda untuk otot alveoli menjadi lemas sehingga lendir atau cairan mukosa bisa dibersihkan. Umumnya, fisioterapi dada ini memanfaatkan gerakan menepuk dan getaran; metode penanganan ini diperuntukkan untuk kondisi atelektasis pasca operasi maupun atelektasis obstruktif [5,6].
  • Obat-obatan : Jika atelektasis berkaitan dengan penyakit tertentu, maka dokter kemungkinan besar memberikan obat sesuai kondisi yang diderita di mana umumnya bertujuan meredakan nyeri maupun tekanan pada paru [3].
Tinjauan
Metode penanganan atelektasis disesuaikan dengan tingkat keparahan gejala dan kondisi pasien, yaitu metode operasi dan non-operasi. Metode operasi sangatlah jarang diterapkan kecuali tumor menjadi penyebab atelektasis. Sementara metode non-operasi pada umumnya meliputi pemberian obat-obatan, fisioterapi dada, bronkoskopi, dan latihan pernafasan.

Komplikasi Atelektasis

Atelektasis umumnya dapat ditangani bahkan tanpa metode operasi dan penderitanya pun berpeluang besar untuk sembuh.

Namun, ada sejumlah risiko komplikasi yang dapat menyerang penderitanya terutama saat ada bakteri bersarang di paru-paru yang mengalami kolaps [4,5].

  • Bronkiektasis : Saluran pernafasan mengalami pelebaran permanen secara tidak normal sehingga menyebabkan cairan menumpuk di paru-paru dan mengganggu fungsi pernafasan lebih jauh.
  • Kegagalan Pernafasan : Komplikasi ini berisiko lebih tinggi terjadi pada anak balita dan penderita penyakit paru yang dapat pula mengakibatkan kematian.
  • Pneumonia : Risiko komplikasi berupa pneumonia dapat terjadikarena infeksi dipicu oleh lendir atau cairan yang menumpuk pada paru-paru kolaps.
  • Hipoksemia : Atelektasis membuat fungsi paru-paru sebagai penyuplai oksigen lewat kantong udara kurang maksimal sehingga darah kekurangan oksigen.
Tinjauan
Berbagai masalah kesehatan dapat menjadi komplikasi dari atelektasis, seperti hipoksemia, kegagalan pernafasan, bronkiektasis, dan pneumonia.

Pencegahan Atelektasis

Agar paru-paru senantiasa sehat dan tak mudah terkena masalah semacam atelektasis, beberapa hal ini perlu diperhatikan sebagai langkah pencegahan yang tepat :

  • Menjauhkan benda-benda asing berukuran kecil dari jangkauan anak-anak khususnya yang masih berusia balita.
  • Melakukan latihan pernafasan dalam-dalam bagi siapapun yang baru saja menempuh operasi dan diberi obat bius/anestesi.
  • Pasca operasi dada berhenti merokok.
  • Pasca operasi dada berusahalah untuk batuk agar tidak terjadi penumpukan lendir atau cairan di paru-paru.
  • Pasca operasi dada gunakan spirometer insentif untuk dapat memonitor volume udara yang dihirup dan dihembuskan.
Tinjauan
Pencegahan atelektasis dapat diperuntukkan bagi pasien pasca operasi (khususnya operasi dada) dan non-pasien. Karena operasi dada tergolong salah satu penyebab atelektasis, maka usai prosedur dilaksanakan pasien perlu menggunakan spirometer, melatih pernafasan, berusaha batuk, dan menghindari aktivitas merokok.
fbWhatsappTwitterLinkedIn

Add Comment