Hipervitaminosis A : Penyebab – Gejala dan Cara Mengobati

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by redaction team, read our quality control guidelance for more info

Tinjauan Medis : dr. Maria Arlene, Sp.Ak
Hipervitaminosis A adalah sebuah kondisi dimana terjadi efek yang tidak diinginkan akibat mengonsumsi terlalu banyak vitamin A dari makanan, suplemen, atau obat-obatan yang diresepkan. Gejala hipervitaminosis... A dapat berupa gangguan penglihatan, kulit, dan nyeri tulang. Sedangkan kondisi kronik dapat menyebabkan kerusakan hati dan tekanan pada otak. Untuk menegakkan diagnosis hipervitaminosis A, dokter akan melakukan wawancara dan pemeriksaan fisik terkait gejala yang dialami. Dokter juga mungkin menyarakankan pemeriksaan darah untuk melihat kadar vitamin A di dalam darah. Jika seseorang belum mengalami komplikasi serius akibat hipervitaminosis A, maka kesembuhan sempurna dapat dicapai begitu berhenti mengonsumsi suplemen vitamin A. Konsultasikan kepada dokter terlebih dahulu jika Anda ingin mengonsumsi suplemen tertentu. Dokter atau tenaga kesehatan ahli dapat membantu menentukan dosis suplemen untuk menghindari terjadinya kelebihan dosis. Read more

Secara umum, hipervitaminosis adalah suatu kondisi yang disebabkan oleh penumpukan vitamin yang berlebihan di dalam tubuh hingga menimbulkan toksisitas. Hipervitaminosis A terjadi karena konsumsi vitamin A dalam dosis yang tinggi hingga menimbulkan keracunan. Hipervitaminosis A (keracunan vitamin A) dapat berupa akut dan kronis. [1, 2, 5]

Apa itu Hipervitaminosis A?

Hipervitaminosis A adalah kondisi keracunan vitamin yang diakibatkan oleh konsumsi vitamin A yang berlebihan. Hipervitaminosis A dapat diklasifikasikan menjadi akut dan kronis. [2, 6, 7]

Hipervitaminosis A akut, bisa terjadi sangat singkat umumnya dalam beberapa jam atau beberapa hari jika pasien mengonsumsi vitamin A dalam jumlah banyak. [1]

Sedangkan hipervitaminosis A kronis, terjadi ketika tumpukan vitamin A yang sangat besar dalam waktu yang ralatif lama. [1]

Penyakit yang ditimbulkan keracunan vitamin A bila tidak diobati, dapat menyebabkan kerusakan hati, osteoporosis, kerusakan ginjal, bahkan hingga gangguan saraf. [4,8]

Hipervitaminosis A dapat disembuhkan. Para dokter umumnya akan melakukan tes darah untuk mengukur kadar vitamin A dalam darah pasien dan kemudian memerintahkan kepada pasien untuk berhenti mengonsumsi vitamin A. [1, 2, 6, 8]

Fakta Tentang Hipervitaminosis A

Berikut ini beberapa fakta tentang hipervitaminosis A: [1, 2, 4, 6, 7, 8]

  • Hipervitaminosis A terjadi Karena Kebanyakan Vitamin A dalam Tubuh

Seperti vitamin lainnya, vitamin A tentu bermanfaat untuk tubuh. Vitamin A  berfungsi untuk perkembangan dan kinerja berbagai organ tubuh, seperti mata, melindungi tubuh dari penyakit dan lain-lain.

Namun demikian, bila tubuh terlalu banyak mengonsumsi vitamin ini, maka orang tersebut akan mengalami keracunan vitamin A atau yang disebut juga hipervitaminosis A. Gejala yang ditumbulkan berupa mual, muntah, diare, pusing dan sebagainya.

  • Keracunan Vitamin A Terjadi Karena Vitamin A Larut dalam Lemak

Berbeda dengan vitamin yang larut dalam air (seperti vitamin C, thiamin, riboflavin), vitamin A tidak larut dalam air melainkan larut dalam lemak. Sehingga, lama kelamaan bila dikonsumsi dalam jumlah yang banyak, maka akan menumpuk di hati. Kondisi inilah yang akhirnya menyebabkan timbulnya racun dalam tubuh.

  • Bayi dan Anak-anak Rentan terhadap Hipervitaminosis A

Bayi dan anak-anak sangat rentan terhadap keracunan vitamin A, hal ini karena anak-anak sangat sensitif terhadap vitamin A sehingga kemungkinan keracunan lebih besar terjadi pada anak-anak dibanding orang dewasa.

  • Gejala Hipervitaminosis A dapat Mereda dengan Cepat

Gejala hipervitaminosis A dapat diatasi dengan cepat, hanya dengan berhenti mengonsumsi vitamin A. Namun tingkat pemulihan tergantung sedikit atau banyaknya vitamin yang dikonsumsi.

  • Tidak ada Obat untuk Hipervitaminosis A

Walaupun gejala hipervitaminosis A dapat dicegah namun tidak ada obat untuk mengatasi hipervitaminosis A, yang dapat dilakukan adalah segera memberhentikan penggunaannya.

Pada kasus tertentu keracunan vitamin ini bisa berakibat fatal pada pasien sehingga perlu disadari sedini mungkin untuk mencegah gejala yang muncul dengan cara mengentikan penggunaan obat tersebut.

Penyebab Hipervitaminosis A

Hati adalah penyimpan vitamin, termasuk vitamin A. Namun berbeda dengan vitamin yang lain, vitamin A tersimpan di dalam lemak sehingga tidak dapat dikeluarkan oleh tubuh melalui urin. [7]

Seiring bertambahnya waktu, vitamin A yang dikonsumsi makin banyak dan bertambah maka menyebabkan penumpukan di hati lalu menimbulkan keracunan akut. [7]

Dalam kasus tertentu, terjadinya keracunan vitamin A karena pasien barangkali mengikuti terapi megavitamin sehingga mengharuskan untuk konsumsi makanan atau supleman yang mengandung vitamin A dalam dosis tinggi. [1, 3, 4]

Selain itu, hipervitaminosis A terjadi karena penggunaan jangka panjang untuk perawatan jerawat, sehingga membutuhkan konsumsi vitamin A dosis tinggi, seperti isotretinoin yang kadang-kadang digunakan sebagai krim anti jerawat untuk mencegah munculnya komedo. [1, 3, 4, 5]

Bayi atau anak-anak yang mengalami keracunan vitamin A kadang-kadang disebabkan karena konsumsi vitamin A yang tidak sengaja oleh anak-anak. Sumbernya kadang-kadang berasal dari suplemen makanan atau terlalu banyak mengonsumsi vitamin A yang telah dibentuk sebelumnya dari retinoid terapeutik. [1,4,5,6]

Jenis-Jenis Hipervitaminosis A

Hipervitaminosis A dapat diklasifikasikan menjadi dua, yakni akut dan kronis; [1, 2, 3, 4, 5]

  • Hipervitaminosis A Akut

Hipervitaminosis vitamin A akut, terjadi ketika seseorang mengonsumsi vitamin A dengan jumlah yang banyak, dalam waktu beberapa jam atau hari saja. Gejala yang muncul biasanya sakit kepala, mual, muntah, lemas, kehilangan konsentrasi, nafsu makan berkurang dan lain-lain.

  • Hipervitaminosis A Kronis

Kelebihan vitamin A kronis akan terjadi jika vitamin A menumpuk di dalam tubuh, dalam waktu yang lama. Akibat fatal dari keracunan vitamin A adalah kerusakan hati dan peningkatan tekanan pada otak.

Gejala Hipervitaminosis A

Sebenarnya gejala yang ditimbulkan karena hipervitaminosis A tergantung apakah yang disebabkan oleh hipervitaminosis vitamin A akut atau hipervitaminosis A kronis.

Secara umum Hipervitaminosis vitamin A akut memiliki gejala sebagai berikut: [1, 3, 8]

Secara umum hipervitaminosis A kronis memiliki gejala sebagai berikut: [1, 2, 3, 8]

  • Sariawan.
  • Pembengkakan tulang.
  • Kulit kering.
  • Kuku pecah-pecah.
  • Bibir kering dan pecah-pecah.
  • Sakit tulang.
  • Kehilangan nafsu makan.
  • Rambut rontok.
  • Sensitif terhadap sinar matahari.
  • Peradangan sendi (artralgia).
  • Ruam.

Untuk bayi dan anak-anak yang mengalami hipervitaminosis A, gejala yang ditimbulkan barangkali sebagai berikut; [2,3]

  • Berat badan tidak normal.
  • Koma.
  • Bola mata seperti keluar.
  • Penglihatan ganda.
  • Untuk bayi, umumnya muncul titik lunak menonjol di kepala.

Kapan Harus ke Dokter?

Terlepas dari gejala negatif yang dihasilkan, vitamin A sesungguhnya merupakan salah satu vitamin yang sangat dibutuhkan oleh tubuh, misalnya melancarkan indra penglihatan, menjaga kesehatan kulit, menjaga imunitas tubuh dan lain-lain. [4, 5, 7]

Namun demikian, sebaiknya segera hubungi dokter apabila Anda atau keluarga merasa sudah terlalu banyak mengonsumsi vitamin A atau bahkan sudah mengalami gejala kelebihan vitamin A. [3, 4]

Komplikasi Hipervitaminosis A

Berikut ini beberapa komplikasi yang dicurigai timbul karena hipervitaminosis A: [1, 2, 3, 4, 7, 8]

  • Kerusakan hati.
  • Osteoporosis (suatu kondisi yang menyebabkan tulang menjadi rapuh, lemah, dan mudah patah).
  • Penumpukan kalsium yang berlebihan di dalam tubuh.
  • Kerusakan ginjal karena kelebihan kalsium.

Selain itu, ibu hamil yang mengonsumsi vitamin A terlalu banyak selama masa kehamilan juga bisa menyebabkan bayi cacat lahir. Oleh karena itu, penting untuk selalu berkonsultasi dengan dokter atau perawat untuk menentukkan makanan dan vitamin yang tepat untuk dikonsumsi selama masa kehamilan. [3, 4, 5]

Diagnosis Hipervitaminosis A

Ada beberapa tahap untuk mendiagnosis hipervitaminosis A: [1, 2, 3, 8]

  • Dokter akan menanyakan riwayat kesehatan pasien dan gejala yang dirasakan selama ini.
  • Dokter barangkali juga bertanya tentang diet yang sedang dijalankan oleh pasien.

Dan untuk memastikan hasil diagnosis, dokter barangkali merekomendasikan beberapa tes sebagai berikut: [3, 5, 8]

  • Rontgen tulang.
  • Tes kalsium darah.
  • Tes kolesterol.
  • Tes fungsi hati.
  • Tes darah untuk memeriksa kadar vitamin A.
  • Tes darah untuk memeriksa kadar vitamin lainnya.

Pengobatan Hipervitaminosis A

Sebagaimana dikatakan sebelumnya, bahwa tidak ada obat yang pasti untuk menghilangkan hipervitaminosis A. Yang perlu dilakukan adalah memberhentikan penggunaan vitamin A agar tidak menimbulkan keracunan akut maupun kronis. [1, 2]

Hipervitaminosis A hanya dapat dihentikan apabila pasien berhenti mengonsumsi vitamin A. Umumnya tanda ata gejala akan hilang dalam 1-4 minggu setelah pemberhentian tergantung tingkat keparahan gejala atau komplikasinya. [1, 3, 5, 7]

Pencegahan Hipervitaminosis A

Beberapa pasien mengalami kesembuhan total setelah mengikuti perawatan dan menghentikan penggunaan vitamin A. [3, 4, 5]

Namun bagi pasien yang mengalami komplikasi seperti kerusakan ginjal atau hati, barangkali akan tetap melanjutkan pengobatan bersama para dokter. [3]

Untuk menghilangkan kekambuhan hipervitaminosis A, cara yang sejauh ini berhasil dilakukan adalah menghentikan penggunaan vitamin A dan selalu memperhatikan takaran normal harian penggunaan vitamin. [1,2]

Berikut takaran kisaran normal penggunaan vitamin berdasarkan jenis kelamin dan umur pasien: [1, 2]

0 sampai 6 bulan400 mikrogram (mcg)
7 sampai 12 bulan500 mcg
1 sampai 3 tahun300 mcg
4 sampai 8 tahun400 mcg
9 sampai 13 tahun600 mcg
14 sampai 18 tahun900 mcg untuk pria dan 700 mcg untuk wanita
14 sampai 18 tahun / ibu hamil750 mcg
14 sampai 18 tahun / ibu menyususi1.200 mcg
19+ tahun900 untuk pria dan 700 untuk wanita
19+ tahun / ibu hamil770 mcg
19+ tahun / ibu menyusui1.300 mcg

Ibu yang sedang mengandung ataupun yang sedang berencana untuk hamil, harap mengonsumsi vitamin A dalam takaran normal. Vitamin A sangat penting untuk perkembangan janin, tetapi terlalu banyak vitamin A dapat menyebabkan kelainan untuk bayi pada saat kelahiran. [2]

Harap selalu berkonsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi vitamin tambahan selain vitamin A. [2, 3]









fbWhatsappTwitterLinkedIn

Add Comment