Waspadai 8 Risiko Kehamilan Remaja

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by redaction team, read our quality control guidelance for more info

Kehamilan remaja adalah sebuah kondisi hamil yang terjadi pada wanita berusia dibawah 20 tahun. Umumnya, usia kehamilan remaja berkisar antara 15 hingga 19 tahun, namun perempuan berusia 10 tahun juga sudah dapat hamil. [3]

Karena risiko kesehatan untuk ibu dan bayi, CDC mendaftarkan pencegahan kehamilan remaja dalam 7 prioritas utama dalam kesehatan masyarakat dan kualitas hidup remaja. Berikut adalah beberapa risiko kehamilan remaja yang mungkin dialami. [1,3]

1. Kurangnya Perawatan Pra Persalinan

Remaja yang hamil memiliki risiko perawatan pra persalinan yang tidak begitu bagus, terutama jika mereka tidak mendapatkan dukungan dari orang tua. Perawatan pasca persalinan sangatlah penting, terutama pada bulan-bulan awal kehamilan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan saat hamil adalah [3] :

  • Kesehatan ibu dan janin
  • Pertumbuhan janin
  • Komplikasi yang mungkin terjadi
  • Vitamin kehamilan, seperti asam folat (folic acid)

2. Tekanan Darah Tinggi

Remaja yang hamil memiliki risiko tekanan darah tinggi, atau hipertensi kehamilan, yang lebih tinggi daripada ibu hamil berusia 20 tahunan atau 30 tahunan. [3]

Remaja hamil juga memiliki risiko yang lebih besar terhadap preeklamsia, sebuah kondisi medis berbahaya yang menggabungkan tekanan darah tinggi dengan pembuangan protein di urin, pembengkakkan tangan dan wajah ibu, serta kerusakan organ. [3]

3. Anemia

Anemia adalah sebuah kondisi konsentrasi hemoglobin yang rendah dalam darah, dimana dapat menyebabkan kelelahan berat dan komplikasi lainnya. Sekitar 14% ibu hamil mengalami anemia, dan remaja yang hamil memiliki kemungkinan anemia yang lebih tinggi.

Kondisi ini disebabkan karena ketidaksesuaian asupan kalori yang diperoleh selama kehamilan dan peningkatan kebutuhan zat besi yang berhubungan dengan ekspansi sel darah merah pada remaja. [1]

Lebih banyak remaja yang hamil (dengan usia 15 hingga 19 tahun) yang mengalami anemia daripada wanita hamil pada usia 20 hingga 44 tahun. Oleh sebab itu, penting sekali untuk remaja yang hamil untuk meningkatkan nutrisi dan vitamin yang diperlukan selama kehamilan untuk mencegah defisiensi zat besi dan nutrisi. [1]

4. Bayi Lahir Prematur

Kehamilan umumnya berlangsung selama 40 minggu. Jika bayi lahir sebelum usia kehamilan 37 minggu, bayi tersebut lahir secara premamtur. Pada beberapa kasus, lahir prematur dapat dihentikan oleh obat-obat tertentu. Pada kasus lainnya, beberapa bayi harus diintuksi untuk lahir segera demi kesehatan ibu dan bayi. [3]

Semakin cepat bayi lahir, maka semakin besar risiko bayi untuk menderita [1,3] :

  • Cerebral palsy
  • Gangguan pernapasan dan asma
  • Kesulitan dalam pemberian makan
  • Gangguan usus serius
  • Keterlambatan mental
  • Pendarahan di otak
  • Gangguan penglihatan atau kebutaan
  • Gangguan pendengaran
  • Sudden Infant Death Syndrome (SIDS)

5. Bayi Lahir dengan Berat Rendah

Remaja memiliki risiko yang lebih besar dalam mengalami bayi lahir dengan berat badan yang rendah. Bayi prematur memiliki berat yang lebih ringan daripada berat bayi yang seharusnya. Hal ini disebabkan karena bayi tersebut memiliki waktu tumbuh yang lebih singkat di dalam rahim. [3]

Bayi yang lahir dengan berat badan rendah memiliki berat 3.3-5.5 pon (1.5-2,5 kg). Bayi dengan berat yang sangat ringan memiliki berat tubuh yang kurang dari 3.3 pon (1.5 kg). Bayi yang lahir dengan ukuran terlalu kecil perlu untuk dimasukkan ke dalam ventilator pada ruang perawatan bayi baru lahir. Hal ini bertujuan untuk membantu bayi bernapas setelah lahir. [3]

Sebuah studi dari University of Pennsylvania mengatakan bahwa bayi prematur yang lahir dengan berat kurang dari 4.5 pon (2 kg) memiliki risiko gangguan autisme (autism spectrum disorder) 5 kali lebih besar daripada bayi yang lahir dengan berat dan ukuran yang normal. [1]

6. Penyakit Menular Seksual

Pada anak remaja yang melakukan hubungan seksual, penyakit menular seksual seperti chlamydia dan HIV merupakan masalah utama. Menggunakan kondom lateks selama berhubungan seksual dapat membantu mencegah penyakit menular seksual, dimana dapat menginfeksi uterus dan pertumbuhan janin. [3]

7. Depresi Postpartum

Remaja yang hamil memiliki risiko depresi postpartum (depresi yang terjadi pasca melahirkan) yang lebih tinggi menurut CDC. Seorang wanita yang mengalami sedih dan tertekan, saat hamil maupun setelah melahirkan, harus berbicara dengan dokter atau seseorang yang ia percayai. Depresi dapat mengganggu perawatan bayi pasca persalinan. [3]

8. Dampak Sosio-Ekonomik

Kehamilan pada remaja dapat merubah seluruh kehidupan gadis tersebut dan pasangannya. Beberapa dampak negatif yang mungkin dialami remaja tersebut adalah [1] :

  • Tidak lulus sekolah
  • Pemasukan uang rumah tangga yang rendah
  • Kurang dari 2% remaja yang hamil mendapatkan gelar sarjana pada usia 30 tahun
  • Ayah remaja sulit untuk mendapatkan pekerjaan
  • 25% remaja yang hamil memiliki anak kedua setelah 24 bulan dari persalinan anak pertama
  • Anak dari ibu remaja cenderung memiliki intelektual dan pencapaian akademik yang rendah
  • Anak dari ibu remaja lebih sering dikeluarkan oleh sekolah
  • Anak dari ibu remaja memiliki risiko mengalami kekerasan fisik dan mental yang lebih tinggi
  • Anak dari ibu remaja memiliki risiko 22% untuk menjadi ibu remaja juga di kemudian hari

Tips Mencegah Kehamilan Remaja

Anda tidak bisa menghapus semua faktor risiko yang akan dihadapi oleh anak remaja anda. Anda hanya dapat mengambil beberapa langkah untuk mengurangi kemungkinan anak remaja anda menjadi orang tua terlalu cepat.

Penelitian menunjukkan bahwa hal terpenting yang anda lakukan sebagai orang tua adalah berbicara mengenai hubungan seksual dengan remaja anda. [2]

  • Bicara Mengenai Hubungan Seksual

Kebanyakan orang tua berpikir bahwa kehamilan remaja tidak akan terjadi di keluarganya, namun berandai bahwa anak remaja anda tidak melakukan hubungan seksual atau berpikir mereka tidak tertarik dengan hubungan yang romantis, dapat meningkatkan risiko kehamilan remaja. [2]

Bicaralah dengan anak remaja anda mengenai pendapat, prinsip, dan harapan anda. Jika anda berkata jelas bahwa hubungan seksual saat sekolah adalah dilarang, maka anak remaja mungkin memiliki aktivitas seksual yang lebih sedikit. [2]

Pembicaraan mengenai hubungan seksual juga dapat memberikan manfaat lain bagi hubungan anda dan anak, termasuk pencegahan dan penghindaran anak remaja anda dalam menyembunyikan sesuatu. [2]

  • Menyediakan Informasi yang Akurat

Buatlah diskusi terbuka dan biarkan anak remaja anda untuk bertanya beberapa pertanyaan. Hal ini dapat memastikan kembali bahwa anak tersebut telah paham sepenuhnya. [2]

Sebagai orang tua, anda jangan berharap dan bergantung sepenuhnya pada edukasi seksual di sekolah saja. Dukungan orang tua merupakan peran yang sangat penting saat sudah memasuki hal-hal yang cukup serius seperti alat kontrasepsi dan penyakit menular seksual. [2]

  • Peraturan Tambahan

Buatlah peraturan mengenai pacaran yang sehat untuk anak remaja anda. Pastikan anak anda telah terarah dengan benar. Hal ini tidak bermaksud bahwa anda harus mengikutinya selalu saat anak sedang berpacaran, namun anda harus memberikan batasan pacaran yang jelas untuk mengurangi aktivitas seksualnya. [2]

Perlu diperhatikan juga bahwa teknologi telah merubah cara seorang remaja dalam bercaran dan berelasi. Anak remaja dapat membuang waktu berjam-jam dalam bermain sosial media, dimana berkemungkinan membuat remaja tersebut untuk dekat dengan orang lain. Anak remaja dengan hobi, aktivitas, dan tujuan yang banyak umumnya memiliki aktivitas seksual yang lebih cepat. [2]

Terakhir, saat anda sudah membahas semuanya, anda dapat membawanya bertemu dengan dokter sendiri. Terkadang, remaja merasa malu untuk mendiskusikannya dengan orang tua mengenai hubungak seksual atau alat kontrasepsi, dan lebih merasa nyaman untuk mendiskusikan topik tersebut dengan dokter, konselor, atau pekerja profesional lainnya. [2]

fbWhatsappTwitterLinkedIn

Add Comment