Vestiphobia : Penyebab, Gejala dan Penanganan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by redaction team, read our quality control guidelance for more info

Apa Itu Vestiphobia?

Vestiphobia merupakan salah satu jenis fobia spesifik di mana seseorang mengalami ketakutan berlebih dan cenderung irasional terhadap pakaian [1,2].

Vestiphobia sendiri merupakan sebuah kata yang berasal dari bahasa Latin vestis yang berarti pakaian, garmen atau menutupi [1].

Memikirkan atau membayangkan pakaian saja sudah membuat penderita vestiphobia mengalami kecemasan dan kepanikan, terlebih saat harus mengenakannya [1,2].

Penderita bisa saja takut terhadap pakaian secara keseluruhan, tapi ada pula yang mengalami ketakutan pada beberapa pakaian tertentu dan akan sangat pemilih [1,2].

Biasanya, kondisi ini juga akan disertai kecemasan bersifat intens serta gejala serangan panik [1,2].

Penyebab Vestiphobia

Seperti halnya jenis fobia spesifik lainnya, penyebab pasti dari vestiphobia belum diketahui hingga kini [1,2].

Hanya saja, terdapat beberapa faktor yang sangat memungkinkan menjadi peningkat risiko timbulnya vestiphobia pada diri seseorang, yaitu antara lain :

  • Faktor Genetik

Meski belum diketahui jelas penyebab pasti vestiphobia, sebuah kondisi fobia spesifik (tak terkecuali vestiphobia) dapat terjadi pada seseorang karena adanya faktor genetik [1,2,3,4].

Seseorang yang memiliki anggota keluarga dengan kondisi gangguan mental tertentu, seperti depresi, gangguan kecemasan, atau fobia (fobia yang sama ataupun tidak) bisa meningkatkan risiko pada dirinya mengembangkan fobia [1,2,3,4].

  • Faktor Lingkungan

Faktor lingkungan pun seringkali menjadi salah satu kemungkinan penyebab seseorang menderita fobia tertentu [1,2,3,4].

Faktor lingkungan bisa saja meliputi cara didik orang tua yang tak menyenangkan mengenai cara berpakaian.

Namun, vestiphobia juga berisiko pula berkembang dari suatu tontonan mengerikan yang berhubungan dengan pakaian.

  • Faktor Profesi

Faktor profesi juga berperan terhadap berkembangnya vestiphobia, terutama pada pria dalam bidang militer [1].

Risiko vestiphobia cukup tinggi pada pria-pria tersebut karena adanya ketidaknyamanan dan kegelisahan saat harus mengenakan jaket anti peluru [1].

  • Faktor Pengalaman Traumatis

Pengalaman tak menyenangkan terkait pakaian tertentu atau cara berpakaian mampu menjadi faktor yang mendasari seseorang menderita vestiphobia [1,2,3,4].

Pada beberapa kasus anak dengan alergi atau ruam kulit, akan timbul bercak-bercak kemerahan, gatal dan perih pada sekujur tubuh karena mengenakan pakaian dari bahan tertentu [1].

Pengalaman timbulnya kondisi tersebut bisa membuat seseorang kemudian takut dan cemas ketika harus mengenakan pakaian yang memicu alerginya [1].

  • Fobia Lain

Vestiphobia juga dapat terjadi pada seseorang karena adanya kondisi claustrophobia [1].

Orang-orang yang memiliki riwayat takut berlebihan terhadap ruangan sempit dan tertutup (claustrophobia) memiliki risiko lebih besar mengalami vestiphobia, terutama terhadap pakaian ketat [1].

Penderita claustrophobia akan mengalami sensasi rasa sesak dan seperti tercekik ketika mengenakan pakaian ketat di mana hal ini menjadi ketakutan berlebih yang disebut dengan vestiphobia [1].

Gejala Vestiphobia

Seperti fobia spesifik lain, vestiphobia pun menimbulkan gejala-gejala fisik, psikologis dan perilaku yang perlu dikenali sekaligus diwaspadai baik oleh penderita sendiri maupun orang-orang terdekatnya [1,2,3,4].

  • Migrain
  • Mulut kering
  • Tubuh mengeluarkan keringat lebih banyak
  • Pusing atau kepala melayang seperti hampir pingsan
  • Timbul rasa mual
  • Tremor
  • Ketegangan pada otot
  • Sulit bernafas
  • Detak jantung meningkat
  • Menghindari memakai pakaian atau pakaian tertentu
  • Serangan panik
  • Kecemasan ekstrem baik saat melihat maupun memikirkan tentang pakaian
  • Ketidakmampuan diri dalam mengendalikan rasa cemas dan takut

Pada beberapa kasus, vestiphobia bisa berkaitan dengan claustrophobia sehingga tanda seperti takut dan panik terhadap ruangan sempit tertutup bisa saja terjadi pada penderita [1].

Untuk mengetahui apakah penderita gejala-gejala tersebut memang mengalami fobia terhadap pakaian, maka perlu segera memeriksakan diri.

Dengan lebih cepat memeriksakan diri, penanganan bisa ditempuh secara dini sebelum gejala semakin buruk.

Pemeriksaan Vestiphobia

Dalam memastikan apakah gejala yang dialami dan dirasakan penderita merupakan vestiphobia, belum ada metode diagnosa khusus untuk kasus fobia spesifik.

Namun, evaluasi psikologis menggunakan DSM-5 (Diagnostic and Statistical Manual 5th Edition) merupakan cara umum untuk memastikan suatu jenis fobia [1,5].

Panduan kriteria DSM-5 dilakukan oleh psikolog atau psikiater ketika memeriksa pasien supaya dapat menentukan kondisi pasien sesungguhnya sekaligus menentukan penanganan yang tepat [1,5].

Berikut ini adalah kriteria yang menentukan bahwa pasien mengalami fobia spesifik [5,6] :

  • Mengalami ketakutan berlebih, irasional dan persisten; rasa takut bersifat intens terutama saat menghadapi atau membayangkan situasi terkait pakaian maupun saat berada pada situasi berkaitan dengan pakaian.
  • Mengalami reaksi kecemasan yang berlebihan saat sedang berhadapan dengan sumber ketakutan, sementara itu sebenarnya tingkat bahaya tidak setinggi itu.
  • Menghindari sumber ketakutan terus-menerus (dalam hal ini adalah pakaian) dan ketika harus tetap berada dalam situasi yang berkaitan dengan sumber ketakutan maka penderita dapat mengalami stres ekstrem.
  • Mengalami gejala-gejala yang mengarah pada vestiphobia setidaknya 6 bulan atau lebih dari itu.
  • Mengalami hambatan pada kehidupan pribadi, termasuk kehidupan pekerjaan, sekolah dan sosial karena cenderung menghindari pakaian dalam kasus vestiphobia.
  • Gejala-gejala yang dialami penderita dipastikan tidak disebabkan oleh kondisi gangguan mental lain sekalipun memiliki kemiripan gejala.

Agar terapis dapat menentukan apakah pasien memiliki fobia, beberapa hal pun perlu dilakukan oleh pasien [6].

Terapis akan meminta pasien membuat daftar pemicu vestiphobia dan juga gejala psikologis dan fisik yang selama ini terjadi [6].

Selain itu, terapis juga perlu tahu bagaimana selama ini pasien mengatasi rasa takut ketika sedang dihadapkan pada situasi yang berhubungan dengan pakaian [6].

Pasien pun sebaiknya memberi tahu terapis hal-hal yang mampu memperburuk kecemasan serta hal-hal yang membuat kecemasan mereda [6].

Bahkan untuk membantu proses diagnosa, pasien bisa memberi informasi mengenai hal-hal yang sedang membuat stres dalam hidup [6].

Pasien juga akan diminta membuat daftar riwayat pengobatan, seperti obat dan suplemen apa saja yang sedang digunakan [6].

Tak hanya obat kimia, obat herbal sekalipun dapat diinformasikan kepada dokter atau terapis yang menangani [6].

Penanganan Vestiphobia

Penanganan pasien vestiphobia tak berbeda jauh dari penanganan fobia lainnya, yakni melalui sejumlah psikoterapi, pemberian obat, dan perubahan pola hidup seperti berikut.

Desensitisasi atau terapi eksposur adalah salah satu metode psikoterapi yang membantu penderita fobia dan gangguan kecemasan untuk berhasil pulih dari kondisinya [1,2,3,4].

Terapi eksposur sendiri sudah sangat umum diterapkan dalam proses penyembuhan fobia dengan mengekspos penderita terhadap sumber ketakutannya secara bertahap [1,2,3,4].

Terapi eksposur melibatkan terapis profesional yang akan membantu pasien mengidentifikasi masalah yang selama ini dihadapi oleh pasien [1,2,3,4].

Lalu, melalui media gambar/foto serta video yang berkaitan dengan sumber ketakutan terapis akan membantu pasien meningkatkan kemampuan pengendalian gejala (kecemasan dan serangan panik) [1,2,3,4].

Setelah memastikan bahwa kondisi pasien mengalami kemajuan dan sudah cukup stabil dalam mengendalikan kecemasan, eksposur baru kemudian dilakukan dengan melibatkan obyek nyata [1,2,3,4].

  • Terapi Perilaku Kognitif

Terapi perilaku kognitif adalah metode psikoterapi yang berfokus pada identifikasi masalah dan pola pikir pasien berkaitan dengan sumber ketakutan mereka [1,2,7].

Terapis akan membantu pasien dalam memahami apa yang pasien pikirkan, reaksikan dan lakukan terkait dengan ketakutan mereka terhadap pakaian [1,2,7].

Oleh sebab itu, dalam proses terapi ini pasien akan diajak menganalisa ketakutan yang timbul berikut reaksi serta perilaku diri saat berhadapan dengan situasi yang berhubungan dengan pakaian [1,2,7].

Dari hal tersebut, terapis membantu pasien mengubah cara pikir, reaksi sekaligus cara bertindak pasien dari negatif menjadi lebih positif [2].

  • Obat-obatan

Selain psikoterapi, seringkali pasien juga masih tetap membutuhkan obat-obatan sebagai pengendali gejala di awal terapi [1,2].

Obat antidepresan dan anticemas akan dokter resepkan supaya mampu meredakan gejala yang timbul [1,2].

Namun dalam penggunaannya, obat anticemas dan antidepresan bukan untuk jangka panjang, maka hal ini bisa dikonsultasikan lebih detail dengan dokter [1,2].

  • Perubahan Pola Hidup

Untuk mempercepat pemulihan, pasien juga sangat dianjurkan untuk mulai mengubah pola hidup menjadi lebih sehat [2].

Pola hidup dan kebiasaan sehat bisa mengurangi rasa mudah cemas dan panik dalam diri pasien gangguan mental [2].

Salah satu perubahan gaya hidup yang juga tergolong sebagai kebiasaan baik adalah melakukan meditasi [2,8].

Meditasi, latihan Yoga dan latihan pernafasan bertujuan menenangkan pasien dan membuat kemampuan fokus pasien meningkat [2,8].

Tak hanya itu, berolahraga rutin juga berguna bagi pasien fobia dalam merangsang pelepasan hormon endorfin atau hormon bahagia yang artinya tingkat stres akan berkurang dan lebih terkendali [2,9].

Bagi pasien yang menyukai minuman berkafein, membatasi kafein adalah cara lain untuk mencegah supaya tidak mudah cemas [10].

Asupan kafein tinggi akan membuat tubuh mudah gelisah, tegang disertai detak jantung berdebar [2,10].

Komplikasi Vestiphobia

Vestiphobia dapat menimbulkan risiko komplikasi seperti halnya fobia lainnya, terutama jika gejala tidak segera mendapat perawatan.

Stres dan depresi yang dirasakan oleh penderita akibat rasa takut berlebihannya dapat berkembang menjadi lebih berat [3,4].

Isolasi diri hingga menurunnya kualitas hidup karena aktivitas sehari-hari yang terhambat berpotensi terjadi [7].

Pencegahan Vestiphobia

Hingga kini belum diketahui bagaimana cara yang tepat menghindari fobia spesifik, tak terkecuali vestiphobia.

Namun dengan mengenali gejala yang mengarah pada vestiphobia lalu memeriksakannya, penderita dapat memastikan kondisi lebih cepat.

Dengan begitu, penanganan berupa psikoterapi dan obat-obatan pun dapat diberikan secara dini supaya gejala tidak bertambah buruk.

fbWhatsappTwitterLinkedIn

Add Comment