Hidrosefalus: Penyebab – Gejala dan Pengobatan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by redaction team, read our quality control guidelance for more info

Tinjauan Medis : dr. Maria Arlene, Sp.Ak
Hidrosefalus adalah menumpuknya cairan di ruang ventrikel di otak. Cairan yang berlebih ini menekan jaringan di sekitarnya sehingga meningkatkan tekanan di dalam otak. Normalnya cairan di otak akan mengalir... melalui ventrikel dan dan menuju medula spinalis. Namun jika terjadi penumpukan cairan maka hal ini dapat merusak jaringan otak dan mengganggu fungsi otak. Hidrosefalus bisa menyerang siapa saja, namun paling umum terjadi pada bayi dan lansia berusia diatas 60 tahun. Tindakan pembedahan dapat mengembalikan kadar cairan di otak kembali normal. Namun berbagai terapi mungkin diperlukan untuk mengembalikan fungsi otak yang sudah terganggu akibat hidrosefalus. Read more

Apa Itu Hidrosefalus?

Hidrosefalus adalah keadaan di mana otak dipenuhi oleh cairan bernama serebrospinal yang menyebabkan tekanan pada otak [1]. Dalam keadaan normal, cairan serebrospinal akan mengalir melalui ventrikel kemudian terserap menuju aliran darah [7].

Jika alirannya terhalang, cairan tadi akan terkumpul di otak. Jumlah cairan yang banyak ini akan memberikan tekanan yang besar pula pada otak sehingga otak tidak bisa melaksanakan tugasnya dengan baik [7].

Jika dibiarkan, tekanan ini bisa menyebabkan kerusakan otak atau bahkan kematian [7].

Jenis Hidrosefalus

  • Hidrosefalus Kongenital (Congenital Hydrocephalus)

Beberapa kasus hidrosefalus terjadi sejak lahir, namun ada pula yang muncul ketika kanak-kanak atau dewasa. Keadaan ini bisa muncul karena faktor genetik ataupun karena dampak dari tumor otak, luka kepala, dan sebagainya [5].

Untuk penderita yang mengalaminya sejak lahir, penyebabnya bisa berupa faktor genetik serta faktor lingkungan ketika dalam kandungan. Hidrosefalus kongenital bisa didiagosis sebelum bayi lahir menggunakan alat ultrasonik [4].

  • Hidrosefalus Terkompensasi (Compensated Hydrocephalus)

Ini bisa terjadi ketika hidrosefalus ada sejak lahir dan sudah diobati saat massa kanak-kanak, tetapi kondisinya masih tetap bertahan selama bertahun-tahun tanpa memperlihatkan gejala [4].

  • Hidrosefalus yang Didapat (Acquired Hydrocephalus)

Keadaan ini terjadi setelah lahir sebagai hasil dari kondisi neurologis seperti trauma kepala, tumor otak, kista, atau pendarahan intraventikuler yang terjadi di sistem saraf pusat. Hidrofelus jenis ini bisa dialami oleh anak-anak hingga orang dewasa [6]

  • Hidrosefalus Tekanan Normal (Normal Pressure Hydrocephalus)

Keadaan ini terjadi pada orang lanjut usia di mana ventrikel otak mengalami pembesaran tetapi tidak atau sedikit menyebabkan peningkatan tekanan di dalam ventrikel. Terkadang penyebabnya idiopatik, atau tidak diketahui [4].

Gejala Hidrosefalus

Gejala hidrosefalus diketahui bervariasi tergantung usia penderitanya. Berikut rinciannya: [1, 2, 3, 6, 7]

1. Bayi

Perubahan Kepala:

  • Pembesaran kepala yang tidak normal;
  • Adanya tonjolan atau rasa tegang pada fontanel (titik lembut kepala) di bagian atas kepala sang bayi.

Tanda-Tanda Fisik:

  • Muntah-muntah.
  • Sulit tidur.
  • Rewel.
  • Kejang-kejang.
  • Mata juling ke bawah.
  • Berkurangnya kekuatan otot.
  • Buruknya kepekaan bayi terhadap sentuhan.
  • Masalah perkembangan.

2. Batita (Bayi Di Bawah Tiga Tahun) & Anak-Anak

Tanda-Tanda Fisik:

  • Sakit kepala.
  • Pandangan kabur atau menjadi ganda.
  • Mata juling ke bawah.
  • Perbesaran tidak normal pada kepala batita.
  • Mudah mengantuk dan lesu.
  • Mual atau muntah-muntah.
  • Punya masalah dengan keseimbangan tubuh.
  • Koordinasi tubuh yang buruk.
  • Nafsu makan yang buruk.
  • Kejang-kejang.
  • Inkontinensia urine (berkurangnya kemampuan untuk menahan kencing).

Perubahan Kognitif dan Perilaku

  • Mudah marah.
  • Berubah sifat.
  • Menolak.
  • Masalah pada keterampilan berjalan dan berbicara.

3. Remaja dan Orang Dewasa

Berikut tanda-tandanya:

  • Sakit kepala.
  • Kelesuan.
  • Hilangnya koordinasi atau keseimbangan tubuh.
  • Ketidakmampuan menahan kencing atau perasaan ingin selalu kencing.
  • Penglihatan terganggu.
  • Masalah pada ingatan, konsentrasi, serta kemampuan berpikir lainnya yang bisa mempegaruhi performa kerja atau belajar.

4. Lansia

Berikut adalah gejala hidrosefalus pada orang-orang yang berumur 60-an atau lebih.

  • Ketidakmampuan menahan kencing atau perasaan ingin selalu kencing.
  • Hilangnya memori.
  • Berkurangnya kemampuan berpikir secara signifikan.
  • Kesulitan berjalan–sensasi kaki seakan tertahan.
  • Buruknya koordinasi dan keseimbangan tubuh.

Segera cari pertolongan medis bila bayi atau batita Anda mengalami gejala di bawah ini: [1]

  • Menangis kencang.
  • Bermasalah saat meminum ASI atau makan.
  • Tidak ingin memindahkan kepala atau tiduran.
  • Kesulitan bernapas.
  • Kejang-kejang.

Penyebab Hidrosefalus

1. Hidrosefalus Sejak Lahir

JIka seseorang menderita hidrosefalus sejak lahir, itu bisa disebabkan oleh kecacatan di otak yang menyebabkan tertahannya cairan serebrospinal. Ini biasanya terjadi karena kondisi medis tertentu [6].

Berikut adalah beberapa kemungkinan penyebab hidrosefalus sejak lahir: [6]

  • Bayi mungkin lahir secara prematur dan mengalami pendarahan pada otaknya. Kondisi ini akan menahan aliran serebrospinal sehingga menyebabkan hidrosefalus.
  • Adanya mutasi kromosom X. Kelainan pada kromosom X juga bisa menyebabkan hidrosefalus.
  • Kelainan genetik langka, misalnya malformasi Dandy Walker.
  • Kista Arachnoid. Bentuknya seperti kantong berisi cairan yang terletak di antara lobus otak atau sumsum tulang belakang serta membran arachnoid (selaput otak).

2. Hidrosefalus pada Anak-Anak dan Orang Dewasa

Hidrosefalus yang dialami golongan ini biasanya disebabkan oleh cedera atau penyakit [6].

Berikut adalah beberapa kemungkinan penyebab hidrosefalus [6].

3. Hidrosefalus pada Lansia

Orang lanjut usia biasanya mengalami Hidrosefalus Tekanan Normal (Normal Pressure Hydrocephalus) akibat cedera, pendarahan otak, atau infeksi otak. Walau demikian, kebanyakan kasus Hidrosefalus jenis ini tidak diketahui alasannya (idiopatik) [6].

Diagnosis Hidrosefalus

Dokter akan melakukan diagnosis dengan mempertimbangkan beberapa hal, yaitu [1]:

  • Gejala-gejala yang Anda alami.
  • Tes fisik.
  • Pengujian neurologis.
  • Uji pencitraan otak.

Pengujian Neurologis

Jenis pengujian neurologis tergantung usia penderitanya [1]. Dalam pengujian tersebut, akan dicek [7]:

  • Kekuatan dan refleks otot
  • Koordinasi dan keseimbangan tubuh
  • Penglihatan dan gerakan mata
  • Pendengaran
  • Keadaan mental dan suasana hati

Uji Pencitraan Otak

Berikut ini adalah beberapa jenis tes pencitraan otak: [1, 6]

  • Ultrasonik

Pencitraan ultrasonik menggunakan gelombang suara berfrekuensi tinggi untuk menghasilkan gambar. Cara ini sering dipakai untuk bayi karena prosesnya sederhana dan resikonya rendah.
Caranya adalah dengan meletakkan alat ultrasonik pada titik lembut (fontanel) di bagian atas kepala bayi.

Cara ini menggunakan gelombang radio dan area magnetik untuk menghasilkan gambaran 3D detail atau tampilan penampang otak. Tesnya tidak sakit tetapi berisik dan Anda harus tiduran.

Pindaian MRI bisa memperlihatkan pembesaran ventrikel otak akibat cairan serebrospinal yang berlebih. Pemindaian MRI juga memungkinkan dipakai untuk mengidentifikasi penyebab hidrosefalus atau kondisi lain yang berkontribusi.

  • Pemindaian Computerized Tomography (CT)

Cara ini menggunakan teknologi sinar-x yang terspesialisasi untuk menghasilkan tampilan penampang otak. Pemindaiannya tidak sakit dan cepat. Tetapi pasiennya perlu tiduran, sehingga anak-anak biasanya diberi obat penenang ringan.

Pengobatan Hidrosefalus

Hidrosefalus bisa dsembuhkan dengan melakukan operasi. Para penderitanya memerlukan perawatan secepatnya untuk menghindari tekanan pada otak mereka. Jika tidak diobati, tekanan tersebut bisa menyebabkan cedera otak [6].

Berikut adalah beberapa tindakan pengobatan untuk penderita hidrosefalus [6].

  • Operasi Shunt

Selama operasi, tenaga medis akan menanamkan sebuah tabung kecil bernama shunt ke dalam otak. Kelebihan cairan serebospinal di otak akan mengalir melalui shunt ke area lain dalam tubuh, biasanya perut. Dari sini, cairan tersebut akan terserap ke dalam darah. Anda bisa merasakan keberadannya sebagai benjolan di bawah kulit pada kepalamu.

Operasi shubt dilakukan oleh spesialis operasi otak dan sistem saraf. Biasanya berlangsung selama 1 hingga 2 jam di bawah pengaruh bius total.
Jika shunt ternyata memblok atau menginfeksi otak, operasi perbaikan shunt perlu dilakukan.

  • Endoscopic Third ventriculostomy (ETV)

ETV adalah prosedur alternatif operasi shunt. Alih-alih memasukkan shunt, tenaga medis nantinya akan membuat sebuah lubang di otak agar cairan serebrospinal yang terjebak bisa keluar menuju permukaan otak.

Beberapa orang mungkin tidak cocok dengan prosedur ini. Tetapi itu bisa menjadi pilihan bila cairan serebrospinal terjebak karena adanya penghalang. Cairan akan terkuras oleh keberadaan lubang.
Pasien akan dibius total. Operasi mungkin akan berlangsung sekitar 1 jam.

Seperti shunt, ETV juga bisa memberikan resiko jangka panjang. Beberapa bulan atau tahun setelah operasi, ia bisa membentuk semacam penghalang yang menyebabkan kambuhnya gejala.

  • Hidrosefalus Tekanan Normal (Normal Pressure Hydrocephalus)

Hidrosefalus jenis ini terkadang bisa diobati dengan operasi shunt. Tetapi tidak semua penderitanya bisa disebuhkan dengan metodetersebut.

Karena operasi shunt beresiko komplikasi, Anda perlu melakukan tes untuk memastikan apakah tes ini aman.

Komplikasi Hidrosefalus

1. Komplikasi pada Shunt

Shunt (alat berbentuk tabung kecil) bisa mengalami malfungsi. Dari sebuah data, 4 dari 10 alat shunt akan malfungsi pada satu tahun setelah operasi [6].

Terkadang shunt tidak berada di tempat yang semestinya ketika dipindai, sehingga perlu dilakukan operasi ulang untuk mengubah posisi [6].

Berikut adalah beberapa komplikasi yang terjadi akibat shunt: [6]

  • Shunt Menjadi Penghalang

Keadaan ini cukup serius dan bisa berakibat pada penimbunan cairan di otak. Hal ini bisa menyebabkan cedera otak dan mendatangkan kembali gejala hidrosefalus.

  • Infeksi Akibat Shunt

Kondisi merupakan komplikasi yang biasa terjadi setelah operasi. 1 dari 5 anak mengalami hal ini. Orang dewasa memiliki resiko yang lebih rendah. Infeksi terjadi pada bulan-bulan pertama setelah operasi.

Gejalanya berupa:

  • Suhu badan tinggi.
  • Sakit kepala.
  • Muntah-muntah.
  • Leher kaku.
  • Perut terasa sakit.
  • Rewel pada bayi.
  • Kemerahan pada area kulit di balik shunt.

2. Komplikasi Endoscopic Third Ventriculostomy (ETV)

ETV adalah prosedur menciptakan lubang kecil pada lantai otak agar cairan di otak bisa surut. Berikut adalah beberapa kemungkinan komplikasi yang terjadi setelah operasi ETV [6].

  • Lubang menutup.
  • Otak tidak bisa menyerap cairan serebrospinal yang surut dari lubang itu.
  • Anda bisa terkena infeksi (resikonya lebih kecil dibanding operasi shunt)
  • Anda bisa mengalami pendarahan di otak (pendarahan minor).

Jika ada masalah pada lubang, Anda bisa mengulangi prosedur atau mencoba menggunakan shunt [6].

Resiko lain bisa berupa [6]:

  • Perasaan lemah setengah badan.
  • Penglihatan ganda.
  • Ketidakseimbangan hormon.
  • Kejang-kejang.
  • Luka pada pembuluh darah.

Pencegahan Hidrosefalus

Berikut adalah beberapa cara-cara untuk mengurangi resiko terkena hidrosefalus: [3]

  • Mendapatkan vaksinasi untuk mencegah penyakit dan infeksi yang berhubungan dengan hidrosefalus
  • Gunakan peralatan keselamatan, seperti hel, untuk menghindari cedera kepala ketika suatu saat mengalami kecelakaan.
  • Jaga keselamatan anak Anda saat kalian mengendarai mobil dengan mengenakan sabuk pengaman.
  • Untuk wanita hamil, pastikan Anda mendapatkan perawatan sebelum kelahiran. Hal ini bisa mengurangi kemungkinan bayi lahir prematur, yang bisa mengarah ke hidrosefalus.
fbWhatsappTwitterLinkedIn

Add Comment