10 Obat Ambeien yang Dijual di Apotik

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by redaction team, read our quality control guidelance for more info

Ambeien ialah pembengkakan pembuluh vena di dalam anus dan rektum bagian bawah, seperti vena varises. Ambeien dapat berkembang di dalam rektum atau di bawah kulit di sekitar anus[1].

Kondisi ini dialami dari waktu ke waktu oleh sekitar 3 dari 4 orang dewasa. Ambeien dapat diatasi dengan efektif dengan penggunaan obat, perawatan mandiri di rumah, dan pengubahan gaya hidup[1].

Obat untuk ambeien dapat berupa obat yang dijual bebas (tanpa resep) atau berdasarkan resep dokter. Untuk mengatasi ambeien dapat memerlukan penggunaan beberapa kelas obat yang berbeda. Obat ambeien juga tersedia dalam bentuk oral, topikal, dan supositoria[2, 3].

Berikut berbagai obat untuk ambeien yang terdapat di apotik:

Obat Topikal dan Supositoria

1. Hidrokortison

Hydrocortisone atau hidrokortison merupakan suatu steroid yang bekerja sementara untuk meringankan gatal, bengkak, atau iritasi yang disebabkan oleh ambeien. Obat ini dapat dibeli tanpa resep dokter (dosis rendah) ataupun memerlukan resep (dosis lebih tinggi)[4, 5].

Hydrocortisone tersedia dalam bentuk topikal (berupa krim atau salep) dan supositoria. Obat topikal diaplikasikan langsung pada rektum (bagian akhir usus besar) atau kulit di sekitar anus.

Sedangkan obat supositoria merupakan obat preparasi padat yang dimasukkan langsung ke dalam rektum di mana obat akan larut dan terserap oleh dinding rektum[3, 5].

Penggunaan hidrokortison rektal awalnya hanya dengan mengaplikasikan 1 unit ke dalam rektum 1-2 kali sehari selama 2-3 minggu. Selanjutnya digunakan sekali pada hari tertentu saja. Hydrocortisone tidak dianjurkan untuk digunakan dalam jangka panjang[6].

Nama dagang/merk obat hydrocotisone antara lain Armacort, Nufacort, Nestacort, Haemocaine, Hydrocortisone, dan Chloramfecort[6].

2. Benzocaine

Benzocaine termasuk anestetik lokal, bekerja dengan menghambat impuls saraf dalam tubuh sehingga meringankan rasa sakit akibat ambeien untuk sementara waktu[4, 7].

Benzocaine tersedia dalam bentuk supositoria dan topikal yang diaplikasikan langsung pada bagian dalam rektum atau kulit di sekitar anus yang terdampak ambeien[7].

Sebelum mengaplikasikan obat, rektum/anus sebaiknya dibersihkan terlebih dahulu dengan sabun dan air. Cuci tangan sebelum dan setelah mengaplikasikan obat[7].

Pembelian dan penggunaan obat ini harus berdasarkan resep dokter[7]. Merk obat benzocaine yaitu Borraginol-N dan Borraginol-S[15].

3. Dibucaine

Dibucaine termasuk obat anestetik. Obat ini digunakan untuk mengatasi sakit ringan dan gatal akibat iritasi kulit, termasuk iritasi rektum akibat ambeien[4, 8].

Dibucaine tersedia dalam bentuk topikal. Untuk mengatasi ambeien, obat diaplikasikan pada bagian luar rektum setelah setiap buang air besar, hingga 4 kali per hari[8].

Pastikan untuk mencuci tangan sebelum dan sesudah mengaplikasikan obat. Dibucaine sebaiknya tidak digunakan lebih dari 1 ons per hari (pada anak tidak lebih dari ¼ ons). Sebaiknya penggunaan dilakukan sesuai dengan anjuran dokter[8].

4. Pramoxine

Pramoxine termasuk obat anestetik yang bekerja dengan mengganggu sinyal rasa sakit yang dikirim dari saraf ke otak. Pramoxine dapat meringankan rasa sakit dan tidak nyaman akibat iritasi kulit[3, 9].

Pramoxine tersedia dalam bentuk topikal dan supositoria. Pramoxine biasanya dikombinasikan dengan obat lain, seperti hydrocortisone, calamine, dan zinc oxide[9].

Obat biasanya diaplikasikan pada rektum 3-5 kali per hari, tergantung bentuk obat yang digunakan. Penggunaan sebaiknya mengikuti resep dokter. Hindari menggunakan dalam dosis yang lebih besar atau lebih kecil atau menggunakan dalam jangka waktu yang lebih lama dari yang diresepkan[9].

5. Phenylephrine

Phenylephrine ialah obat yang mengecilkan pembuluh darah yang membesar/melebar dan menyebabkan ambeien. Obat ini membantu meringankan gatal, sensasi terbakar, iritasi dan pembengkakan akibat ambeien[10].

Phenylephrine rektal supositoria diaplikasikan dengan dimasukkan pada rektum langsung. Penggunaan obat dapat dilakukan hingga 4 kali sehari, dianjurkan setelah buang air besar[10].

Phenylephrine juga tersedia dalam bentuk topikal (krim, gel, atau salep). Phenylephrine bentuk topikal tidak boleh diaplikasikan di dalam rektum. Obat dalam bentuk topikal hanya digunakan pada bagian di sekitar pada bagian luar rektum[10].

6. Docusate Sodium

Docusate sodium diindikasikan untuk pasien yang dianjurkan untuk tidak mengejan selama buang air besar. Docusate sodium termasuk pelunak feses, yaitu agen yang digunakan untuk menghindari mengejan berlebih dan konstipasi.

Obat ini memungkinkan penggabungan dari air dan lemak ke dalam feses (sisa pencernaan) sehingga feses menjadi lebih lembut[2].

7. Lidocaine Topikal

Lidocaine termasuk anestetik lokal. Obat ini tersedia dalam berbagai bentuk. Untuk mengatasi ambeien, biasanya digunakan lidocaine topikal[11].

Lidocaine bekerja dengan meningkatkan permeabilitas ion natrium di membran sel saraf, sehingga terjadi penghambatan depolarisasi, pemblokiran transformasi dan saraf impuls. Pengaplikasian lidocaine topikal dapat mengurangi rasa sakit dan tidak nyaman akibat iritasi kulit pada penderita embeien[2, 11].

Pasien dianjurkan menggunakan obat dengan dosis sesuai yang diresepkan. Hindari penggunaan obat dalam jumlah berlebihan karena berpotensi menimbulkan overdosis yang berakibat fatal. Selain itu, sebaiknya tidak membalut atau menutupi bagian kulit yang diaplikasikan obat tanpa anjuran dokter[11].

Lidocaine dijual dengan nama dagang Lidopril, Dolones, Liposin, Emla, dan Estesia[16].

Obat Oral

1. Paracetamol

Paracetamol atau acetaminophen merupakan obat penghilang rasa sakit dan penurun demam. Obat ini digunakan untuk mengatasi rasa sakit ringan hingga sedang atau menurunkan demam[12].

Acetaminophen dapat ditemukan dalam bentuk kombinasi dengan obat lain. Acetaminophen tersedia sebagai obat yang dapat dibeli tanpa resep atau harus dengan resep dokter[12].

Obat ini tidak dianjurkan untuk penderita penyakit hati dan orang yang mengkonsumsi alkohol dalam jumlah besar. Penggunaan pada ibu hamil dan menyusui juga tidak dianjurkan[12].

Contoh obat dengan kandungan acetaminophen antara lain Acetram, Novagesic, Afidol, Nufadol, dan Panadol[17].

2. Aspirin

Aspirin merupakan suatu salisilat. Obat ini bekerja dengan mengurangi substansi di dalam tubuh yang menyebabkan rasa sakit, demam, dan inflamasi. Aspirin digunakan untuk mengatasi rasa sakit dan mengurangi demam atau inflamasi[13].

Penggunaan obat sebaiknya sesuai dengan resep dokter. Hindari penggunaan obat dalam jumlah yang lebih besar atau lebih kecil, atau untuk jangka waktu yang lebih lama dari yang dianjurkan[13].

Penggunaan obat tidak dianjurkan untuk penderita gangguan pendarahan, orang dengan riwayat pendarahan lambung atau usus, dan orang yang alergi terhadap NSAID (non-steroid anti inflammatory drug)[13].

Obat ini tidak aman untuk digunakan pada ibu hamil dan menyusui[13].

3. Ibuprofen

Ibuprofen termasuk obat NSAID, bekerja dengan mengurangi hormon yang menyebabkan inflamasi dan rasa sakit dalam tubuh. Ibuprofen dapat menurunkan demam dan mengatasi rasa sakit atau inflamasi[14].

Penggunaan obat sebaiknya sesuai resep dokter, biasanya menggunakan dosis minimal yang efektif. Dosis maksimal ibuprofen untuk orang dewasa ialah 800 mg per dosis atau 3.200 mg per hari (4 dosis maksimal)[14].

Penggunaan obat secara berlebih dapat menyebabkan pendarahan perut atau usus, yang mana dapat berakibat fatal. Risiko terjadinya pendarahan lebih tinggi pada orang berusia lanjut[14].

Contoh obat dengan kandungan aspirin antara lain Aknil, Mofen, Anafen, Bimacyl, dan Bodrex Extra[18].

Itulah beberapa obat untuk ambeien yang dijual di apotik. Sebelum membelinya, sebaiknya konsultasikan dengan dokter, obat apa yang cocok dengan kondisi ambeien Anda.

fbWhatsappTwitterLinkedIn

Add Comment