4 Penyakit yang Tidak Boleh Makan Pare

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by redaction team, read our quality control guidelance for more info

Pare dalam istilah ilmiah Momordica charantia merupakan tumbuhan tahunan yang merambat dan tumbuh di daerah tropis seperti Asia, Afrika Timur, India, Amerika Selatan. Itu banyak dibudidayakan di Asia sebagai sayuran untuk bahan makanan[1]. Seperti yang kita ketahui bentuknya yang panjang, hijau, dan uniknya tampilan luar ditutupi dengan benjolan-benjolan.

Penyakit yang tidak boleh makan pare karena rasanya yang pahit menjadi pantangan dan perlu dihindari untuk mengurangi efek samping yang tidak baik. Meskipun pare dapat meningkatkan nafsu makan, rasa khas pahitnya itu dapat berdampak buruk bagi tubuh. Bagi penderita penyakit berikut perlu menghindari konsumsi pare:

1. Tekanan darah rendah (Anemia)

Memiliki riwayat tekanan darah rendah sebaiknya tidak konsumsi banyak makanan pare karena mudah membuat penyakitnya kambuh. Apalagi kandungan pada pare dapat menyebabkan penurunan tekanan darah[2].

Tekanan darah rendah yang mungkin tampak diinginkan bagi sebagian orang, itu tidak menimbulkan masalah. Namun, bagi beberapa orang tekanan darah rendah (hipotensi) yang tidak normal dapat menyebabkan pusing dan pingsan. Tekanan darah rendah dapat disebabkan oleh dehidrasi hingga gangguan serius secara medis[2].

Untuk itu, pentingnya mengetahui penyebab tekanan darah rendah, termasuk biji pare yang dikonsumsi dapat menyebabkan anemia, itu terjadi karena kondisi tubuh yang memiliki kekurangan glukosa-6-fosfat dehidrogenase (G6PD). Anemia merupakan keadaan seseorang yang memiliki jumlah sel darah merah rendah[2].

Dalam tes darah, anemia dilaporkan sebagai kadar hemoglobin yang rendah. Hemoglobin yaitu protein utama dalam sel darah merah yang membawa oksigen, dan mengirimkannya ke seluruh tubuh[2]. Jika cukup rendah, jaringan atau organ tidak mendapatkan cukup oksigen[2].

Penderita anemia ini dapat mengalami gejala pucat, kulit menguning, urin berwarna gelap, dan putih pada mata[3]. Pada gejala umum mengalami kelelahan atau mudah merasa lelah, sesak napas, dan detak jantung yang cepat karena bekerja lebih keras untuk memompa oksigen.

Itu terjadi hemoglobin dalam sel darah merah yang membawa oksigen dan menyebabkan kekurangan oksigen dan energi[4].

2. Gula darah

Konsumsi pare dapat menurunkan kadar gula darah dengan cepat. Apalagi untuk penderita yang sedang melakukan pengobatan, maka pare tidak dianjurkan untuk dikonsusmi. Dalam tubuh kadar gula darah normal tentu diharapkan. Kurang lebihnya 100 mg/dL setelah tidak makan selama 8 jam dan kurang dari 140 mg/dL setelah makan selama 2 jam[5].

Menghindari makan pare dapat dijadikan langkah untuk melakukan perubahan gaya hidup sehat karena setiap kadar gula yang kurang dari normal itu tidak sehat. Tentu, konsumsi makanan pare dapat meningkatkan risiko penyakit dalam[5].

Dalam sistem pencernaan yang memecah karbohidrat dan mengubahnya menjadi glukosa. Glukosa adalah sumber bahan bakar tubuh. Ketika gula darah rendah terjadi terlalu sering, tubuh mungkin berhenti melepaskan hormon stres yang disebut kegagalan otonom[5].

Orang dengan diabetes mengalami gula darah rendah tubuh tidak memiliki cukup gula untuk digunakan sebagai bahan bakar. Gula darah rendah dapat menyebabkan gangguan sistem pencernaan seperti kehilangan nafsu makan dan gangguang sistem saraf yang dapat menyebabkan sakit kepala, kesemutan, mati rasa pada mulut, penglihatan kabur, atau kebingungan[5].

Selain itu, kondisi yang memiliki potensi berbahaya yaitu ketidaksadaran ketika mengalami gula darah rendah sehingga mengubah respons tubuh. Biasanya, gula darah rendah menyebabkan tubuh melepaskan hormon stres yang berperan sebagai petanda peringatan dini, seperti rasa lapar dan gemetar.

3. Gangguan pencernaan

Pare yang dikonsumsi beberapa orang dapat berdampak buruk jika memiliki gangguan pencernaan, seperti sakit perut. Tidak hanya itu saja, mual yang merupakan rasa tidak nyaman pada perut sering muncul sebelum muntah[6].

Penyebab muntah berbeda-beda menurut usia. Muntah itu sendiri dapat terjadi karena rasa sakit pada perut, asupan tubuh yang tidak sesuai, atau alergi makanan. Hal itu dapat menjadi biasa, namun tetap jangan disepelekan karena bisa mendatangkan penyakit yang lebih serius[6].

Beberapa contoh kondisi serius yang dapat menyebabkan mual atau muntah termasuk radang pada pencernaan. Kekhawatiran lainnya adalah dehidrasi. Orang dewasa memiliki risiko lebih rendah untuk mengalami dehidrasi, karena mereka biasanya dapat mendeteksi gejala dehidrasi (seperti rasa haus yang meningkat dan bibir atau mulut yang kering)[6].

Oleh karena itu, penderita yang memiliki ganguan pencernaan sebaiknya mengurangi makanan pare, karena itu dapat mengurangi kinerja perut yang berlebihan. Selain itu, orang normal tidak dianjurkan banyak mengkonsumsi makanan yang pahit karena mudah menyebabkan masalah pencernaan, terutama orang yang memiliki kondisi tubuh dingin[6].

4. Penyakit hati dan ginjal

Orang yang menderita penyakit hati dan ginjal dianjurkan untuk menghindari konsumsi pare karena itu sulit dicerna dan bisa menimbulkan kembung. Biji pare yang mengandung zat vicine, dapat menyebabkan keracunan sturgeon (favisme), sindrom akut sakit kepala, sakit perut, dan koma[7].

Dimana orang dengan riwayat penyakit tersebut yang mengkonsumsi pare tidak memiliki daya pengendali dalam menerima ekstak pare yang dikonsumsi. Konsumsi pare secara berlebihan dapat mengakibatkan peradangan pada hati, itu dikarenakan pare memiliki kandungan senyawa monorcharin[7].

Konsumsi pare juga tidak akan menyebabkan perubahan struktur ginjal. Namun, dapat berakibat fatal jika berdampak pada kerusakan sel tubulus, dan perdarahan pada ginjal. Apalagi untuk konsumsi jangka panjang dapat menyebabkan beberapa komplikasi pada jaringan ginjal dan fungsinya[7].

Efektifitas konsumsi pare bagi penderita penyakit ini dalam meredakan penyakit dalam belum jelas, seperti risiko efek samping yang mungkin timbul dari konsumsi pare kurang baik untuk kesehatan ginjal[7].

fbWhatsappTwitterLinkedIn

Add Comment