Kanker Tiroid Meduler: Penyebab – Gejala dan Pengobatan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by redaction team, read our quality control guidelance for more info

Tinjauan Medis : dr. Maria Arlene, Sp.Ak
Kanker tiroid meduler adalah salah satu jenis dari kanker tiroid. Tiroid sendiri adalah kelenjar endokrin berbentuk kupu-kupu yang terletak di bagian bawah leher Anda. Kelenjar ini memproduksi hormon tiroid,... yang berfungsi pada metabolisme tubuh. Adanya gangguan pada kelenjar ini akan mengganggu proses metabolisme tubuh manusia. Gejala awal yang dirasakan pasien kanker tiroid meduler biasanya berupa benjolan pada area leher. Pada kondisi yang lebih lanjut, dapat timbul gejala seperti nyeri leher yang menjalar ke rahang atau telinga, kesulitan menelan atau bahkan bernapas jika tumor sudah menekan saluran pernapasan dan esofagus, atau suara serak jika kanker sudah mengenai saraf yang mengatur pita suara. Proses diagnosis kanker tiroid meduler, seperti pada kanker tiroid jenis lainnya, adalah dengan aspirasi jarum halus, yaitu dengan mengambil sampel tumor. Selain itu diperlukan juga pemeriksaan darah dan hormon. Tatalaksana utama untuk kanker tiroid meduler adalah pembedahan yaitu tiroidektomi total (pengangkatan seluruh kelenjar tiroid). Follow up juga diperlukan pasca pembedahan, karena kanker tiroid dapat mengalami kekambuhan, bahkan bertahun-tahun setelahnya. Read more

Apa Itu Kanker Tiroid Meduler?

Kanker tiroid meduler merupakan jenis kanker tiroid yang berasal dari sel pelepas hormon kalsitonin yang disebut dengan sel-sel parafolikuler [1,2,5,9].

Sel-sel parafolikuler ini sendiri disebut juga dengan sel-sel C yang berada di kelenjar tiroid [1,2].

Pada kondisi kanker tiroid meduler, kadar kalsitonin akan meningkat secara berlebihan.

Fakta Tentang Kanker Tiroid Meduler

  1. Dari 80% kasus kanker tiroid meduler secara umum, 75% diantaranya merupakan kasus kanker tiroid meduler sporadik [1].
  2. 5% dari 80% diantaranya diketahui merupakan familial sebagai bagian dari multiple endocrone neoplasia (MEN) 2A, MEN 2B dan kanker tiroid meduler familial [1].
  3. Prevalensi kanker tiroid meduler atau karsinoma tiroid meduler di Amerika Serikat adalah sekitar 4-10% dari seluruh kasus kanker tiroid [1].
  4. Puncak kasus kanker tiroid meduler sporadik diketahui terjadi pada dekade kelima atau keenam kehidupan, sementara pada dekade kedua atau ketiga kehidupan, puncak kasus kanker tiroid meduler yang berkaitan dengan MEN 2A dan MEN 2B-lah yang terjadi [1].
  5. Perkembangan kanker tiroid meduler di dalam tubuh seseorang diketahui berkaitan dengan mutasi gen RET di jaringan krista saraf pada kelenjar tiroid [1].
  6. Dari 50% kanker tiroid meduler sporadik, 40% kasus diantaranya disebabkan oleh mutasi RET yang didapat [1].
  7. Persentase kelangsungan hidup pasien kanker tiroid meduler selama dalam 5 tahun usai pengobatan untuk stadium I, II dan III adalah 93%, sementara untuk pasien stadium IV peluang bertahan hidup hanya sekitar 28% [1].
  8. Di Indonesia, kanker tiroid sendiri menjadi salah satu jenis penyakit kanker ganas yang paling banyak dijumpai dengan di mana kasus kanker tiroid meduler sendiri berpersentase 1-2% mengikuti kanker tiroid folikuler dengan persentase 10% dan kanker tiroid papiler dengan persentase 75% [3].
  9. Kanker tiroid meduler lebih berpotensi terjadi pada kelompok usia 30-39 tahun [3]

Penyebab Kanker Tiroid Meduler

Kanker tiroid meduler diketahui berkaitan dengan mutasi genetik, namun diketahui bahwa mutasi genetik ini pun terbagi menjadi dua jenis kondisi.

Mutasi genetik terklasifikasi menjadi dua kondisi, yaitu diturunkan di dalam keluarga dan didapat oleh penderita tanpa mewarisinya dari orang tua [1,2].

Penderita kanker tiroid meduler yang terkait dengan mutasi genetik diturunkan dari orang tua.

RET proto-onkogen merupakan gen yang mengalami mtasi dalam hal ini dan mutasi terjadi pada seluruh sel di dalam tubuh [1,2,4].

Mutasi ini yang kemudian memicu tumbuhnya tumor dan berkembangnya kanker tiroid meduler.

Meski kasus kanker tiroid meduler berpotensi disebabkan oleh mutasi genetik diturunkan, rata-rata terdapat pula kasus kanker tiroid meduler karena mutasi genetik yang didapat.

Tes darah perlu dilakukan untuk mengetahui jenis mutasi genetik penyebab kanker tiroid meduler agar dokter mampu menentukan pengobatan yang sesuai [2].

Gejala Kanker Tiroid Meduler

Seperti kanker pada umumnya, kanker tiroid meduler menimbulkan gejala awal utama berupa nodul atau benjolan di bagian kelenjar tiroid.

Kanker tiroid meduler bukanlah jenis kanker yang langsung terdeteksi oleh dokter.

Umumnya, dokter menemukan kanker tiroid meduler ini sewaktu memeriksa pasien untuk kondisi medis lainnya atau saat pemeriksaan leher rutin pasien [2].

Kanker tiroid meduler menjadi jenis kanker tiroid yang sulit didiagnosa karena benjolan pada kelenjar tiroid pasien tidak pula menunjukkan adanya keluhan.

Bahkan pada kondisi kanker tiroid meduler yang sangat awal, benjolan tidak terlalu nampak sehingga penderita tidak merasakan apapun.

Seiring ukuran tumor yang semakin besar, biasanya gejala pun mulai timbul dan terasa semakin jelas, yaitu antara lain [1,2] :

  • Nyeri pada rahang
  • Nyeri pada leher
  • Nyeri pada telinga yang kemungkinan disertai dengungan
  • Sesak napas karena saluran pernapasan terhambat tumor
  • Sulit menelan
  • Perubahan suara menjadi lebih parau namun tidak kunjung membaik (hal ini hanya dapat terjadi ketika kanker memengaruhi saraf pengendali pita suara)
  • Tumor menyebar hingga ke jaringan terdekat maupun menyebar luas hingga ke organ tubuh lainnya jika tidak segera ditangani.

Pemeriksaan Kanker Tiroid Meduler

Saat gejala mulai timbul, seperti adanya benjolan pada bagian kelenjar tiroid yang disertai rasa nyeri di area rahang, leher, hingga telinga, segera periksakan diri.

Beberapa metode pemeriksaan yang dokter akan lakukan untuk mengonfirmasi kanker tiroid meduler antara lain adalah :

  • Pemeriksaan Fisik dan Riwayat Kesehatan

Dokter mengawali prosedur diagnosa dengan memeriksa fisik pasien, yaitu mengecek keberadaan benjolan [1,5].

Selain itu, dokter akan menanyakan sejumlah pertanyaan terkait riwayat gejala, riwayat medis, dan riwayat pengobatan pasien.

Dokter juga biasanya ingin tahu mengenai riwayat kesehatan keluarga pasien agar dapat diketahui apakah kanker tiroid meduler berkaitan dengan faktor genetik.

  • Tes Fungsi Tiroid

Tes fungsi tiroid merupakan salah satu metode diagnosa penting yang perlu ditempuh pasien untuk mengetahui adanya gangguan atau keabnormalan [2].

  • Tes Genetik

Bila riwayat kesehatan keluarga menunjukkan adanya mutasi gen, maka pasien dianjurkan untuk melakukan tes genetik [2].

Pasien sebaiknya segera ke dokter spesialis endokrin untuk berkonsultasi mengenai kemungkinan kanker tiroid meduler yang berhubungan dengan mutasi gen RET [1,2,5,6].

Melalui pemeriksaan dan konsultasi ini, dokter akan menentukan penanganan terbaik sesuai dengan kondisi pasien.

  • Tes Darah

Pemeriksaan darah sangat dianjurkan, khususnya bagi pasien gejala kanker tiroid meduler yang terjadi karena diturunkan.

Tes darah akan membantu dokter mendeteksi adanya mutasi pada gen RET sehingga diagnosa awal kanker tiroid meduler dapat dihasilkan [2].

Bila deteksi awal berhasil, maka dokter pun dapat memutuskan untuk pasien segera menempuh operasi kuratif untuk mengangkat kanker tersebut.

  • Aspirasi Jarum Halus

Aspirasi jarum halus merupakan sebuah metode diagnosa yang bertujuan untuk mengetahui keberadaan sel tumor pada benjolan abnormal pada bagian tubuh tertentu pasien [1,5].

Dokter menggunakan jarum halus selama prosedur ini sehingga penegakan diagnosa dapat dilalukan.

Namun bila dari pemeriksaan aspirasi jarum halus hasilnya bersifat nondiagnostik, dokter akan menegakkan diagnosa usai pasien menjalani prosedur lobektomi tiroid [1].

  • Pengukuran Kalsitonin Serum

Metode diagnosa satu ini memiliki risiko tinggi menunjukkan hasil rasio positif yang keliru, terutama bila penerapannya usai prosedur aspirasi jarum halus [1,7].

Namun, hal ini sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter lebih dulu kapan pengukuran kalsitonin serum dan antigen karsinoembrionik sebaiknya dilakukan.

Kedua pemeriksaan ini bertujuan untuk mengidentifikasi apakah terjadi hipersekresi pada tumor.

  • Tes Pemindaian

Metode diagnosa yang juga perlu ditempuh pasien untuk dokter mampu menegakkan diagnosa secara lebih akurat adalah tes pemindaian.

Ultrasonografi atau USG pada area leher akan direkomendasikan oleh dokter, begitu juga MRI atau CT scan [1,2,8].

Pemeriksaan dengan ketiga metode tersebut adalah untuk mengevaluasi dan memastikan apakah kelenjar getah bening serviks terlibat.

CT scan leher biasanya dilakukan untuk evaluasi penyakit sistemik, sementara CT scan dan MRI scan keduanya akan digunakan untuk pemeriksaan organ hati pasien bila dicurigai adanya metastasis [1].

MRI dan CT scan juga merupakan dua metode tes pemindaian yang digunakan untuk pemeriksaan pasien yang memiliki kadar kalsitonin di atas 400 pg/ml [1].

PET scan adalah metode tes pemindaian lainnya yang juga tersedia, namun tidak digunakan sebagai prosedur evaluasi primer untuk jenis penyakit metastasis [1,8].

Pengambilan sampel jaringan tiroid juga dapat dianjurkan oleh dokter untuk mengetahui apakah terdapat ketidaknormalan pada jaringan tersebut.

Sampel yang telah diambil akan dibawa ke laboratorium untuk pemeriksaan mendetail.

Pengobatan Kanker Tiroid Meduler

Kanker tiroid meduler umumnya perlu ditangani menggunakan metode operasi agar tumor dapat diangkat.

Berikut ini adalah sejumlah prosedur pengobatan kanker tiroid meduler yang akan direkomendasikan oleh dokter :

Tiroidektomi total artinya adalah mengangkat kelenjar tiroid secara menyeluruh karena tumbuhnya tumor yang masih berukuran kecil atau ketika sudah cukup menyebar ke organ sekitar [1,2,9].

Prosedur operasi ini juga bertujuan mengatasi kanker tiroid meduler yang telah menyerang kelenjar getah bening pada area leher atau dada bagian atas [2].

Kelenjar getah bening dalam kasus ini juga perlu segera diangkat, baik sebagian atau seluruhnya, tergantung tingkat keparahan tumor.

  • Tiroidektomi Profilaktik Total

Untuk kasus kanker tiroid meduler yang berkaitan dengan mutasi genetik diturunkan, pasien yang terutama berusia 5 tahun perlu menempuh tiroidektomi profilaktik total [2].

Prosedur operasi ini dapat dilakukan tepat setelah mutasi terdeteksi.

  • Terapi Hormon

Terapi hormon pengganti adalah metode penanganan kanker tiroid meduler yang pasien sebaiknya tempuh usai menjalani tiroidektomi [2,9].

Bila kelenjar tiroid diangkat sepenuhnya, maka hormon tiroid yang dihasilkan dari kelenjar tersebut tidak lagi seperti dulu.

Oleh sebab itu, hormon pengganti sangat diperlukan pasien untuk fungsi tubuh yang lebih baik.

  • Radioterapi dan Kemoterapi

Terapi radiasi atau radioterapi belum diketahui jelas apakah mampu mengatasi kanker tiroid meduler seperti pada kanker tiroid papiler dan kanker tiroid folikuler, namun tetap dapat dipertimbangkan [1,9].

Kemoterapi yang diperlukan oleh pasien kanker tiroid meduler tidak seperti pada umumnya karena kanker tiroid meduler tidak merespon obat-obatan kemoterapi umum [1].

Konsultasikan lebih jauh dengan dokter untuk mengetahui apakah salah satu maupun kedua tindakan radioterapi maupun kemoterapi dibutuhkan oleh pasien.

  • CEA Serum

CEA dan kalsitonin serum direkomendasikan oleh dokter agar pasien memperolehnya 2-3 bulan usai menempuh prosedur operasi [1].

Dokter akan menyatakan pasien sudah benar-benar sembuh ketika hasil pemeriksaan CEA normal dan kalsitonin tidak terdeteksi.

Namun, pemantauan rutin (secara tahunan) tetap diperlukan melalui pemeriksaan fisik dan USG.

  • Obat-obatan

Apabila kondisi pasien tidak memungkinkan untuk ditangani dengan operasi namun kondisi bersifat simtomatik (bergejala), beberapa obat kemungkinan diresepkan oleh dokter.

Cabozantinib dan vandetanib yang merupakan golongan tyrosine-kinase inhibitors (TKI) merupakan jenis obat yang diberikan oleh dokter [1,10].

Kedua obat tersebut menunjukkan hasil positif pada kondisi pasien sehingga cukup sering digunakan sebagai penanganan alternatif.

Komplikasi Kanker Tiroid Meduler

Prognosis kanker tiroid meduler tergolong baik karena metode operasi adalah solusi pengobatan yang mampu menyembuhkan.

Hanya saja, stadium kanker tiroid meduler yang diderita oleh pasien menentukan tingkat harapan hidup jangka panjang pasien.

Semakin parah kondisi kanker, semakin rendah potensi untuk bertahan hidup lebih lama dan kematian menjadi salah satu risiko komplikasi.

Komplikasi lainnya yang berpotensi terjadi ketika kadar kalsitonin dalam darah pasien tergolong tinggi adalah diare [11].

Selain itu, metastasis atau penyebaran kanker ke organ yang dekat maupun jauh dari kelenjar tiroid merupakan komplikasi yang lebih banyak terjadi [1].

Pencegahan Kanker Tiroid Meduler

Kanker tiroid meduler tidak memungkinkan untuk dicegah total agar tidak terjadi, namun mendeteksinya sejak dini dan mengatasinya lebih awal dapat membantu [12].

Penanganan dini kanker tiroid meduler dapat meminimalisir risiko komplikasi.

Penanganan dini yang dimaksud terkadang harus melalui pengangkatan kelenjar tiroid seluruhnya sejak awal.

fbWhatsappTwitterLinkedIn

Add Comment