Retinopati Diabetik: Penyebab, Gejala dan Cara Mengobati

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by redaction team, read our quality control guidelance for more info

Tinjauan Medis : dr. Maria Arlene
Retinopati diabetik adalah komplikasi diabetes yang mengenai mata. Penyakit ini disebabkan oleh kerusakan pada pembuluh darah dari retina. Awalnya retinopati diabetik mungkin tidak menimbulkan gejala atau... hanya gangguan penglihatan ringan. Namun seiring waktu penyakit ini dapat menimbulkan kebutaan. Mengontrol penyakit diabetes adalah cara terbaik untuk menghindari retinopati diabetik. Risiko terkena penyakit ini meningkat jika durasi diabetes semakin panjang, kontrol yang buruk terhadap gula darah, hipertensi, kadar kolesterol yang tinggi di dalam darah, dan merokok. Lakukan pemeriksaan mata secara rutin jika Anda terkena diabetes untuk mengetahui kondisi retina. Read more

Apa itu Retinopati Diabetik?

Retinopati diabetik ialah suatu komplikasi diabetes yang mempengaruhi mata. Kondisi ini terjadi ketika kadar gula darah tinggi menyebabkan kerusakan pembuluh darah di dalam retina[1, 2].

Retinopati diabetik merupakan komplikasi mikrovaskuler paling umum dari diabetes dan penyebab utama dari kebutaan di seluruh dunia. Selain itu, kondisi ini merupakan penyebab paling umum dari kebutaan pada orang berusia 20-74 tahun di negara berkembang[3].

Diabetes melitus menyebabkan tingginya kadar gula darah. Kondisi ini lama kelamaan dapat merusak pembuluh darah di seluruh tubuh, termasuk pembuluh di dalam retina[4].

Retina merupakan lapisan pada bagian belakang mata yang berfungsi mendeteksi rangsang cahaya dan mengirim sinyal ke otak melalui saraf optik[4].

Gula darah tinggi dapat menyebabkan penyumbatan pembuluh darah kecil di dalam retina, mengakibatkan pembuluh bocor. Selanjutnya dapat tumbuh pembuluh darah baru yang lebih lemah dan mudah bocor di dalam mata, dikenal sebagai retinopati diabetik proliferatif[4].

Kondisi kadar gula darah tinggi dalam waktu lama juga dapat menyebabkan akumulasi cairan di dalam mata. Akumulasi cairan mengubah bentuk dan kelengkungan lensa, mengakibatkan perubahan penglihatan. Kondisi lensa biasanya dapat kembali ke bentuk semula setelah kadar gula darah terkendali[4].

Prevalensi retinopati diabetik pada pasien diabetes tipe 1 adalah sebesar 77,3% sedangkan pada pasien diabetes tipe 2 sebesar 25,1%. Sekitar 25% hingga 30% di antaranya, diduga mengalami edema macular diabetik yang mengancam penglihatan[5].

retinopati diabetik
Sumber: Mayo Clinic

Penyebab Retinopati Diabetik

Diabetik retinopati disebabkan oleh kadar gula darah tinggi dalam waktu lama. Setiap orang dengan diabetes berisiko mengalami retinopati diabetik, baik diabetes terdiagnosis maupun yang tidak terdiagnosis[1, 5].

Beberapa faktor risiko berikut meningkatkan risiko terjadinya retinopati diabetik[4, 5, 6]:

  • Durasi lama diabetes, lebih lama durasi diabetes, risiko retinopati diabetik lebih besar
  • Hipertensi
  • Hiperlipidemia (kandungan lemak darah tinggi)
  • Kehamilan
  • Obesitas
  • Merokok
  • Kontrol glikemik yang buruk
  • Nefropati
  • Inflamasi
  • Apolipoprotein
  • Pengaruh hormon (leptin dan adiponektin)
  • Stres oksidatif
  • Faktor genetik

Dalam Wisconsin Epidemiologic Study of Diabetic Retinopathy (WESDR) disebutkan bahwa prevalensi retinopati diabetik dengan diabetes tipe 1 sebesar 17% pada pasien yang mengalami diabetes kurang dari 5 tahun dan 98% pada pasien yang mengalami diabetes selama 15 tahun atau lebih[3].

Gejala Retinopati Diabetik

Biasanya retinopati diabetik tidak menimbulkan gejala pada tahap awal penyakit. Gejala biasanya mulai teramati ketika kondisi telah berprogres. Retinopati diabetik cenderung mempengaruhi kedua mata[1, 4].

Berikut beberapa gejala yang dapat dialami pasien retinopati diabetik[1, 2, 4]:

  • Penglihatan kabur
  • Penglihatan warna terganggu
  • Tampak titik-titik atau string gelap mengambang dalam penglihatan
  • Tampak adanya area kosong atau gelap pada bidang penglihatan
  • Penglihatan malam buruk
  • Petak atau garis yang menghalangi penglihatan
  • Kehilangan penglihatan total secara tiba-tiba

Tahap Retinopati Diabetik

Retinopati diabetik dibedakan menjadi dua, yaitu[1, 2]:

  • Retinopati Diabetik Non-proliferatif

Retinopati diabetik non-proliferatif merupakan tahap awal umum dialami pasien dengan diabetes. Tahap ini ditandai dengan tidak adanya pertumbuhan pembuluh darah baru (proliferasi). 

Pada tahap ini, dinding pembuluh darah pada retina melemah. Kemudian tonjolan kecil (mikroaneurisme) memanjang keluar dari dinding pembuluh kecil, dapat menyebabkan kebocoran cairan dan darah ke dalam retina. Hal ini dapat menyebabkan retina membengkak.

Jika pembengkakan terjadi pada bagian pusat retina (macula) disebut sebagai edema makuler. Kondisi tersebut dapat menyebabkan orang dengan diabetes kehilangan penglihatan. Selain itu, pembuluh darah dalam retina dapat tertutup, mengakibatkan iskemik makuler.

  • Retinopati Diabetik Proliferatif

Retinopati diabetik proliferatif merupakan tahap lebih lanjut dari penyakit. Pada tahap ini, pembuluh darah yang rusak menutup, menyebabkan pertumbuhan pembuluh darah baru abnormal di dalam retina yang dapat mengalami kebocoran ke bagian vitreous mata (bagian serupa gel bening pada pusat mata).

Pembuluh darah baru yang abnormal ini lebih rapuh dan mudah mengalami pendarahan. Pendarahan kecil tampak seperti titik-titik gelap. Jika terjadi kebocoran parah, penglihatan dapat tertutup.

Selain itu, pembuluh darah baru dapat membentuk jaringan luka yang lama kelamaan dapat menyebabkan retina terlepas dari bagian belakang mata.

Komplikasi Retinopati Diabetik

Jika tidak mendapatkan penanganan, retinopati diabetik dapat mengarah pada berbagai komplikasi, meliputi[1, 4, 7]:

  • Pendarahan vitreous

Kondisi ini disebabkan pembuluh darah mengalami kebocoran ke dalam bagian vitreous mata, sehingga mengakibatkan penghambatan cahaya mencapai bagian dalam mata. Jika pendarahan hanya sedikit, pasien dapat melihat adanya titik-titik hitam mengambang.

Pada kasus berat, darah dapat memenuhi bagian vitreous dan menghalangi penglihatan secara total. Jika retina tidak mengalami kerusakan, pendarahan dapat bersih dengan sendirinya dalam beberapa minggu atau bulan, penglihatan juga dapat kembali normal.

  • Lepasnya retina

Pembuluh darah abnormal pada pasien retinopati diabetik dapat menstimulasi tumbuhnya jaringan luka yang mana dapat menarik lepas retina dari bagian belakang mata.

Kondisi ini dapat menyebabkan tampaknya titik mengambang pada penglihatan, berkas sinar, hingga berisiko hilangnya penglihatan total pasien.

Pembuluh darah baru dapat tumbuh di bagian depan mata dan mengganggu aliran normal cairan keluar dari mata, mengakibatkan tekanan di dalam mata meningkat (glaukoma). Kondisi ini meningkatkan risiko kerusakan saraf optik dan hilangnya penglihatan.

  • Edema makuler diabetik

Sekitar 50% dari pasien retinopati diabetik akan mengalami edema makuler diabetik. Kondisi ini terjadi ketika pembuluh darah di dalam retina kebocoran cairan, menyebabkan pembengkakan di dalam makula (bagian retina). Kondisi ini mengakibatkan penglihatan menjadi kabur.

  • Kebutaan

Retinopati diabetik, glaukoma atau keduanya, lama kelamaan dapat mengarah pada hilangnya penglihatan sepenuhnya.

Diagnosis Retinopati Diabetik

Retinopati diabetik umumnya tidak menunjukkan tanda atau perubahan penglihatan pada awal kemunculan penyakit. Deteksi tanda awal penyakit hanya bisa diketahui melalui pemeriksaan oleh ahli mata[4, 7].

Pasien diabetes dianjurkan melakukan pemeriksaan mata secara rutin, setidaknya satu tahun sekali atau ketika dokter menyarankan. Jika pasien mengalami retinopati diabetik, penanganan dini dapat menghentikan kerusakan dan mencegah kebutaan[7].

Dokter dapat menggunakan beberapa metode berikut untuk mendiagnosis retinopati diabetik[4]:

1. Dilated Eye Exam

Pada prosedur ini dokter memberikan tetes pada mata pasien. Tetes mata ini berfungsi untuk mendilatasi pupil dan memungkinkan dokter melihat ke dalam mata.

Berikut beberapa hal yang diperiksa dokter dengan pengambilan gambar bagian dalam mata:

  • Abnormalitas di dalam pembuluh darah, saraf optik, atau retina
  • Katarak
  • Perubahan tekanan mata
  • Ada tidaknya pembuluh darah baru
  • Pelepasan retina
  • Jaringan luka

2. Angiografi Fluoresens

Pada prosedur ini, dokter menggunakan tetes mata untuk mendilatasi pupil, kemudian menginjeksikan zat pewarna yang disebut fluorescein ke dalam vena di lengan pasien.

Zat pewarna dapat mencapai retina atau mewarnai pembuluh darah abnormal. Pengamatan dilakukan dengan pengambilan gambar.

3. Optical Coherence Tomography (OCT)

Prosedur ini termasuk tes imaging non-invasif yang menghasilkan gambar penampang dari retina beresolusi tinggi, memungkinkan mengamati ketebalan. Dokter dapat memeriksa ada tidaknya kista atau pembengkakan.

Prosedur OCT menyerupai tes ultrasound, tapi menggunakan cahaya untuk menghasilkan gambar alih-alih suara. OCT juga dapat membantu mendeteksi penyakit pada saraf optik.

Pengobatan Retinopati Diabetik

Pengobatan retinopati diabetik bergantung pada beberapa faktor, meliputi keparahan kondisi dan bagaimana kondisi merespon pengobatan sebelumnya[4].

Pada tahap awal, dokter dapat memutuskan untuk memantau kondisi tanpa intervensi. Pasien dapat memerlukan dilated eye exam komprehensif setiap 2-4 bulan sekali[4, 7].

Pada tahap lanjutan, dianjurkan untuk melakukan pengobatan sesegera mungkin untuk mencegah bertambah buruknya penglihatan. Selain pengobatan, pasien juga perlu mengendalikan kadar gula darah, tekanan darah, dan kadar kolesterol[7].

Berikut opsi pengobatan untuk retinopati diabetik[3, 4, 7]:

  • Injeksi

Dokter dapat menginjeksikan obat tertentu untuk mengurangi pembengkakan dan meminimalkan kebocoran pembuluh darah di dalam mata. Obat yang diberikan dapat meliputi anti-VEGF (vascular endothelial growth factor) dan kortikosteroid.

Sebelum injeksi dokter perlu melakukan anestesi local pada mata dan membersihkan mata untuk mencegah terjadinya infeksi. Injeksi dilakukan dengan jarum berukuran sangat kecil. Injeksi dapat dilakukan beberapa kali secara teratur.

  • Perawatan laser

Laser dapat digunakan dalam prosedur scatter laser surgery atau panretinal photocoagulation. Dokter menggunakan laser untuk menyusutkan pembuluh darah di dalam mata dan menutup kebocoran dari pembuluh darah abnormal.

Prosedur ini dapat menghentikan atau memperlambat kebocoran darah dan penumpukan cairan di dalam mata. Sebelum prosedur dilakukan, dokter akan memberikan anestesi lokal pada mata. Perawatan dengan laser biasanya perlu dilakukan dalam beberapa sesi.

  • Operasi mata

Operasi dapat diperlukan untuk kasus retinopati diabetik berat dengan pendarahan vitreous atau pelepasan retina. Pada kasus pendarahan vitreous, karena umumnya dapat pulih dengan sendirinya, biasanya dokter menunggu 3 hingga 6 bulan sebelum melakukan operasi vitrektomi.

Prosedur vitrektomi dilakukan dengan menghilangkan sebagian vitreous dari mata. Prosedur dilakukan di bawah pengaruh anestesi umum atau anestesi terpantau.

Dokter bedah akan mengambil bagian vitreous yang buram atau berdarah, kemudian memasukkan cairan atau gas bening sebagai pengganti. Tubuh akan mengabsorpsi cairan atau gas seiring waktu dan membuat vitreous baru pada tempatnya.

Setelah operasi, pasien biasanya perlu mengenakan penutup mata selama sehari. Selain itu pasien perlu menggunakan tetes mata untuk mengurangi pembengkakan serta mencegah infeksi.

Pencegahan Retinopati Diabetik

Retinopati diabetik tidak selalu dapat dicegah. Meski demikian, beberapa tindakan dapat membantu mencegah terjadinya kehilangan penglihatan berat, seperti pemeriksaan mata secara rutin, mengendalikan kadar gula darah dan tekanan darah[1].

Selain itu, pasien dianjurkan mendapatkan perawatan untuk masalah penglihatan sesegera mungkin[1, 4].

Berikut beberapa kiat yang dapat dilakukan untuk menurunkan risiko mengalami retinopati diabetik[1, 4]:

  • Menangani diabetes

Pasien hendaknya membiasakan konsumsi sehat dan beraktivitas fisik secara rutin setiap hari. Olahraga yang disarankan seperti aktivitas aerobik sedang selama setidaknya 150 menit per minggu, misalnya jalan kaki. Penanganan diabetes juga meliputi penggunaan obat diabetes atau insulin sesuai petunjuk dokter.

  • Memantau kadar gula darah

Pasien dapat mengecek dan mencatat kadar gula darah beberapa kali dalam sehari. Pengukuran lebih sering terutama dianjurkan ketika sedang sakit atau stres. Pasien dapat mengkonsultasikan dengan dokter mengenai berapa kali perlu mengetes kadar gula darah.

  • Menjaga tekanan darah dan kadar kolesterol

Tekanan darah dan kadar kolesterol termasuk faktor risiko retinopati diabetik. Untuk menjaga tekanan darah dan kolesterol terkendali, perlu dibiasakan konsumsi makanan sehat, berolahraga secara teratur, dan mengurangi berat badan. Jika diperlukan dokter dapat meresepkan obat tertentu.

  • Menghentikan kebiasaan merokok atau penggunaan produk tembakau lain.

Merokok meningkatkan risiko berbagai komplikasi diabetes, termasuk retinopati diabetik.

  • Memperhatikan terjadinya perubahan penglihatan

Segera hubungi dokter jika mengalami perubahan perubahan atau jika penglihatan menjadi kabur, bertitik, atau buram.

  • Menanyakan dokter mengenai tes hemoglobin glikosilat

Tes ini dapat menunjukkan kadar gula darah rata-rata selama periode dua hingga tiga bulan.

fbWhatsappTwitterLinkedIn

Add Comment