Usus Buntu – Penyebab – Gejala dan Pengobatan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by redaction team, read our quality control guidelance for more info

Tinjauan Medis : dr. Puspasari Septama Susanto
Apendiks atau usus buntu adalah organ yang terletak pada ujung caecum. Dinding usus buntu dipenuhi oleh limfoid yang terdiri oleh kumpulan sel-sel radang dan berperan dalam sistem kekebalan tubuh. Radang... usus buntu atau apendisitis dapat terjadi jika rongga usus buntu tersumbat oleh feses, sisa makanan, parasit atau infeksi lainnya. Karena dinding usus buntu dipenuhi oleh sel-sel radang, usus buntu yang tersumbat dapat menimbulkan respons berupa peradangan yang dapat terjadi secara akut (mendadak) atau kronis (berlangsung lambat). Komplikasi dari apendisitis adalah pecahnya usus buntu sehingga dapat menimbulkan peradangan pada selaput perut (peritonitis). Umumnya pengobatan apendisitis adalah melalui pembedahan, walaupun pada sebagian kasus dapat diatasi dengan antibotik, untuk meminimalisir kemungkinan kekambuhan atau mengurangi risiko komplikasi. Walaupun hingga saat ini pemicu terjadinya apendisitis belum dapat dipastikan, pencegahan dapat dilakukan dengan mengonsumsi serat yang cukup, rutin berolah raga, dan kelola stres untuk melancarkan pencernaan. Read more

Apa Itu Usus Buntu?

Radang Usus Buntu (img : Dr Ben Lancashire)

Penyakit usus buntu adalah penyakit radang atau inflamasi pada usus buntu yang ditandai dengan pembengkakan dan timbul nanah.

Apendisitis adalah istilah medis untuk radang usus buntu di mana ketika sumbatan pada usus buntu terjadi, akibatnya muncul peradangan.

Bila sumbatan tak segera diatasi, hal ini dapat berkembang dengan terinfeksinya jaringan oleh bakteri.

Kematian jaringan dapat terjadi pada jaringan yang meradang dan terinfeksi bakteri tadi.

Hal tersebut disebabkan oleh kurangnya pasokan darah yang juga berakibat pada usus buntu yang pecah nantinya.

Tinjauan
Radang usus buntu atau apendisitis terjadi bukan semata karena mengonsumsi makanan tertentu, melainkan adanya radang pada usus buntu akibat sumbatan oleh feses, makanan, atau faktor lainnya.

Fakta Tentang Usus Buntu

  1. Usus buntu adalah bagian dari sistem pencernaan manusia yang menjadi tempat berkembang biaknya bakteri-bakteri baik [1].
  2. Radang usus buntu merupakan suatu kondisi gangguan kesehatan yang umum dialami oleh 8,6% penderita laki-laki dan 6,7% penderita perempuan menurut hasil studi American Journal of Epidemiology tahun 1990 [11].
  3. Ada kurang lebih 250 ribu kasus radang usus buntu per tahunnya di Amerika Serikat [11].
  4. Usus buntu atau apendisitis di tahun 2009 dan 2010 adalah salah satu jenis penyakit tidak menular yang paling banyak diderita di Indonesia di mana pasien harus mendapatkan rawat inap di rumah sakit [10].
  5. Menurut data Kementerian Kesehatan RI, ada 596.132 orang yang menderita radang usus buntu di Indonesia pada tahun 2019 yang kemudian meningkat menjadi 621.435 orang di tahun berikutnya [10].
  6. Penyakit usus buntu dapat terjadi pada usia berapapun, namun orang-orang dengan rentang usia antara 10-30 tahun memiliki risiko paling tinggi [1].
  7. Kasus nyeri perut akut pada masyarakat di Amerika Serikat rata-rata disebabkan utamanya oleh radang usus buntu yang kebanyakan harus diatasi dengan tindakan pembedahan [2].
  8. Jika dengan pemberian antibiotik dapat mengatasi radang usus buntu, maka tindakan operasi atau bedah tidak selalu dibutuhkan [1].

Jenis Usus Buntu

Usus Buntu Akut

Pada kondisi usus buntu akut, perkembangan gejala cukup cepat untuk berada dalam tahap parah [6,9].

Bahkan banyak penderita usus buntu akut tak menyadari bahwa radang sudah berkembang dan sudah telanjur serius.

Usus Buntu Kronis

Pada kondisi usus buntu kronis, gejala tidak berkembang secara tiba-tiba karena hal ini berlangsung cukup lama [6,9].

Gejala pada usus buntu kronis awalnya ringan di mana gejala dapat timbul dan hilang beberapa kali.

Perkembangan gejala pun cukup lambat, bisa dalam beberapa minggu, bulan, hingga bertahun-tahun, tak seperti usus buntu akut.

Penyebab Usus Buntu

Usus buntu atau apendiks adalah bagian dari sistem pencernaan manusia yang berbentuk seperti jari berukuran kecil dan melekat pada usus besar.

Penyebab peradangan pada usus buntu sendiri belumlah diketahui secara pasti, namun sumbatan ditengarai sebagai pemicunya.

Ada sejumlah faktor yang mampu menyebabkan sumbatan pada usus buntu yang kemudian berkembang menjadi peradangan, yaitu [3,4] :

  • Parasit atau cacing usus
  • Tumor
  • Benda asing seperti peluru, batu, pin atau lainnya
  • Pembengkakan jaringan getah bening di dinding usus buntu efek dari infeksi saluran pencernaan
  • Cedera pada perut
  • Iritasi pada saluran pencernaan karena kolitis ulseratif atau penyakit Crohn
  • Makanan
  • Feses

Penyakit usus buntu atau apendisitis terkadang dapat terjadi karena infeksi yang disebabkan oleh jamur, bakteri, ataupun virus yang penyebarannya terjadi di usus buntu.

Berikut ini adalah jenis-jenis mikroorganisme yang dapat menyebabkan infeksi pada apendiks.

  • Bakteri Pseudomonas, umumnya bakteri ini dapat dijumpai di daerah lembab dan terkandung di air ataupun tanah.
  • Bakteri E. coli, yakni bakteri yang umumnya ada pada usus hewan, makanan, maupun lingkungan sekitar.
  • Bakteri Shigella, mikroorganisme ini jenis menular yang dapat menyebabkan diare parah.
  • Salmonella, bakteri ini mampu menyebabkan mual, diare dan muntah-muntah serta berakibat pada komplikasi serius yang mengancam jiwa.
  • Adenovirus, virus yang umum ini penularannya terjadi lewat udara maupun lewat kontak. Gejala yang ditimbulkan mirip dengan gejala flu dan mampu menyebabkan infeksi serius.
  • Bacteroides, bakteri ini umumnya memang sudah bersarang pada saluran pencernaan manusia.
  • Mucormycosis dan histoplasmosis, yakni sejenis infeksi jamur dengan gejala sangat ringan yang dapat dialami oleh orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah.
  • Virus Campak, virus ini pun tergolong sangat umum dan penyebaran sekaligus penularannya dengan cepat dapat terjadi melalui kontak serta udara.

Faktor Risiko Usus Buntu

  • Faktor Usia

Orang-orang dengan rentang usia 10-30 tahun memiliki risiko cukup tinggi untuk mengalami penyakit usus buntu [1].

Namun, remaja dan dewasa muda (pada usia 20 tahun awal) lebih banyak dijumpai mengalami radang usus buntu [3].

  • Kondisi Medis Tertentu

Mengidap kolitis ulseratif dan penyakit Crohn pun dapat meningkatkan risiko radang usus buntu.

  • Riwayat Kesehatan Keluarga

Seseorang dengan orangtua atau saudara kandung yang dulunya pernah mengalami penyakit radang usus buntu memiliki risiko besar mengalaminya juga.

Hal ini kemungkinan disebabkan oleh posisi usus buntu yang mudah mengalami sumbatan sehingga meradang dengan mudah.

  • Faktor Jenis Kelamin

Laki-laki rupanya jauh lebih rentan mengalami radang usus buntu daripada perempuan.

Tinjauan
Penyebab radang usus buntu dapat bermula dari sumbatan pada apendiks atau usus buntu itu sendiri. Selain itu, ada kemungkinan berbagai jenis mikroorganisme menyebabkan infeksi dan radang pada usus buntu.

Gejala Usus Buntu

Tanda utama seseorang mengalami radang pada usus buntu adalah timbulnya rasa nyeri khususnya pada area perut bagian kanan bawah.

Namun, beberapa gejala lain seperti berikut wajib untuk diwaspadai dan segera diperiksakan ke dokter [5,6].

  • Rasa nyeri tidak kunjung hilang dan bahkan makin buruk.
  • Rasa nyeri makin hebat ketika penderita berjalan atau batuk.
  • Nafsu makan menurun.
  • Terasa mual.
  • Diare atau bahkan mengalami sembelit.
  • Suhu tubuh meningkat (demam).
  • Muntah-muntah
  • Tidak mampu buang angin

Jika rasa sakit di perut bagian kanan bawah terasa makin menjadi-jadi, inilah waktunya untuk mencari pertolongan medis.

Gejala-gejala yang dikeluhkan tersebut dapat juga menjadi tanda adanya penyakit lain seperti batu ginjal, sindrom iritasi usus, gastroenteritis, infeksi panggul, penyakit Crohn, infeksi saluran kemih, hingga sembelit.

Bahkan pada wanita, gejala-gejala tersebut terkadang disalahartikan sebagai tanda penyakit radang panggul, nyeri haid biasa, atau kehamilan ektopik.

Hal ini menjadi alasan kuat untuk segera memeriksakan gejala ke dokter dan mengonfirmasi apakah radang usus buntulah yang menjadi penyebab utama.

Jika tidak segera ke dokter saat nyeri makin hebat, dikhawatirkan usus buntu dapat pecah.

Tinjauan
Gejala paling utama dari radang usus buntu adalah rasa sakit di bagian perut kanan bawah yang perlu segera diperiksakan sebelum risiko usus buntu pecah makin besar.

Pemeriksaan Usus Buntu

Kemungkinan gejala diartikan sebagai kondisi lain sangat besar karena lokasi apendiks atau usus buntu sendiri tidak selalu sama antara satu orang dengan lainnya.

Ada yang memiliki apendiks di panggul, ada pula yang berada di belakang liver atau di belakang usus besar.

Itulah mengapa, menempuh langkah pemeriksaan sangat penting untuk mengetahui dan memastikan penyebabnya.

Beberapa metode diagnosa inilah yang umum dilakukan oleh dokter :

  • Pemeriksaan Fisik : Dokter akan mengecek kondisi fisik pasien terlebih dulu seperti pada umumnya dan menanyakan juga beberapa hal terkait gejala yang pasien rasakan. Dokter juga akan mengetes dengan menekan area perut yang dirasa sakit untuk memastikan.
  • Tes Urine : Dokter kemungkinan perlu melakukan tes urine untuk mengidentifikasi ada tidaknya infeksi pada tubuh pasien.
  • Tes Darah : Pada beberapa kasus, jika dokter tak dapat mendeteksi melalui gejala yang tampak secara fisik, tes darah perlu ditempuh untuk mengecek keberadaan infeksi dalam tubuh pasien.
  • CT, MRI, atau Ultrasound Scan : Tujuan dari pemeriksaan ini adalah supaya dokter dapat mengetahui apakah apendiks pasien mengalami peradangan.
Tinjauan
Agar dapat terdeteksi dan terkonfirmasi bahwa gejala mengarah pada radang usus buntu, pasien perlu menjalani pemeriksaan darah, urine, pemindaian, dan pemeriksaan fisik.

Pengobatan Usus Buntu

Dalam menangani radang usus buntu, langkah operasi atau pembedahan untuk mengangkat usus buntu adalah yang paling umum diterapkan [6,7,9].

Selain itu, pemberian obat pun dilakukan oleh dokter jika memang bisa dirawat dengan obat saja.

Melalui Tindakan Medis

1. Antibiotik

Jika infeksi yang didapati oleh dokter masih dalam tahap ringan, maka biasanya dokter hanya memberikan antibiotik kepada pasien usus buntu [6,7,9,11].

Hanya saja, pasien radang usus buntu yang cukup menggunakan antibiotik saja sangatlah jarang.

Biasanya, operasi pengangkatan usus buntulah yang menjadi opsi utama dan paling mampu mengatasi.

2. Operasi Terbuka

Pada beberapa kasus radang usus buntu, operasi terbuka menjadi solusi agar dokter dapat membersihkan bagian dalam rongga perut pasien secara total [1,6,7].

Namun, operasi terbuka artinya dokter perlu membentuk sayatan cukup besar pada perut pasien.

Operasi terbuka umumnya menjadi solusi bagi pasien radang usus buntu yang :

  • Usus buntu pecah
  • Terjadi abses
  • Infeksi menyebar
  • Pasien sedang hamil trimester ketiga
  • Pasien punya riwayat beberapa kali menempuh operasi perut
  • Terdapat tumor pada sistem pencernaan

Umumnya, dokter langsung akan memberikan antibiotik kepada pasien secara intravena usai operasi.

3. Laparoskopi

Operasi invasif melalui metode laparoskopi dapat dilakukan oleh dokter jika kondisi pasien tergolong masih dalam tahap ringan dan usus buntu belum pecah [1,6,7].

Prosedur bedah ini dilakukan dengan memanfaatkan alat laparoskop di mana kemudian dokter menciptakan tiga sayatan kecil untuk mengangkat usus buntu yang meradang dan/atau terinfeksi.

Pada metode laparoskopi ini, pemulihan pasien jauh lebih cepat daripada pada metode operasi terbuka.

Karena sayatan yang dibuat pun berukuran kecil, hal ini meminimalisir risiko kehilangan banyak darah serta risiko bekas luka.

Melalui Gaya Hidup

Dokter pastinya memberikan antibiotik usai pasien menjalani operasi, begitu juga obat pereda nyeri.

Namun untuk mendukung tubuh pasien supaya cepat pulih, beberapa hal yang bisa dilakukan di rumah ini penting untuk diperhatikan [6,9] :

  • Minum banyak air putih agar tubuh tetap memperoleh cairan yang cukup.
  • Banyak-banyak istirahat.
  • Jaga area bekas operasi tetap kering dan juga bersih agar terhindar dari infeksi.
  • Hindari segala bentuk kegiatan yang terlalu berat, khususnya mengangkat benda berat sampai dokter benar-benar mengizinkannya.
  • Berjalan kakilah pelan-pelan setiap hari, tapi jangan terlalu lama atau berlebihan.
Tinjauan
Pengobatan radang usus buntu paling umum adalah melalui langkah operasi terbuka atau laparoskopi tergantung dari tingkat keparahannya. Pemberian antibiotik juga dilakukan oleh dokter diimbangi dengan perawatan mandiri yang tepat.

Komplikasi Usus Buntu

Bila radang usus buntu tak memperoleh penanganan sesegera mungkin, beberapa komplikasi inilah yang paling mengancam kesehatan penderitanya :

  • Keguguran

Bagi wanita yang sedang hamil dan menderita radang usus buntu, jika tidak segera terdeteksi dan diatasi dengan prosedur bedah, risiko keguguran sangatlah tinggi [9].

Namun pada umumnya, jika usus buntu ditangani dengan tepat sejak awal, hal ini tidak berbahaya bagi sang ibu maupun calon bayi.

Pada organ perut, ada membran yang menjadi pelapis rongga perut dan menjadi penutup bagi sebagian besar organ perut yang disebut dengan peritoneum.

Bila usus buntu sampai pecah, maka infeksi dapat terjadi pada peritoneum, termasuk juga peradangan dapat menyerang [6].

Parahnya, pergerakan usus dapat berhenti karena infeksi ini dan penderita dapat mengalami demam sekaligus syok yang perlu ditangani secepatnya.

  • Abses

Abses terjadi ketika infeksi menyebar keluar dari apendiks lalu tercampurlah dengan isi dalam usus [6].

Umumnya, kondisi ini dapat ditangani dengan antibiotik atau melalui pembedahan.

Bila terlambat ditangani, peritonitis dapat terjadi.

Tinjauan
Komplikasi paling berbahaya pada penderita usus buntu yang sedang hamil adalah keguguran. Sementara itu, kemungkinan komplikasi lainnya ketika usus buntu terlambat ditangani adalah abses dan peritonitis.

Pencegahan Usus Buntu

Belum diketahui cara pasti untuk mencegah radang pada usus buntu atau apendisitis.

Namun umumnya, orang-orang yang mengonsumsi makanan kaya serat justru berpotensi lebih kecil terkena usus buntu.

Maka, berbagai upaya pencegahan berikut dapat diterapkan [6,8,9] :

  • Makan sayur dan buah segar setiap hari.
  • Mengonsumsi gandum utuh, nasi merah dan oatmeal.
  • Mengonsumsi kacang-kacangan.
  • Mengonsumsi suplemen serat di bawah pengawasan dokter jika perlu.

Pola makan yang mengutamakan kaya serat mampu meminimalisir potensi terkena radang usus buntu karena feses akan jauh lebih lunak sehingga tidak mudah terjebak di apendiks.

Tinjauan
Menjaga pola makan atau pola diet tidak hanya dianjurkan pasca operasi usus buntu sebagai pendukung pemulihan. Hal ini juga dapat menjadi salah satu langkah dalam menurunkan risiko terkena radang usus buntu.
fbWhatsappTwitterLinkedIn

Add Comment