Blighted Ovum: Penyebab – Gejala dan Penanganan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by redaction team, read our quality control guidelance for more info

Apa itu Blighted Ovum?

Blighted ovum merupakan sebuah kondisi ketika walaupun pembuahan terjadi di dalam rahim, tidak terdapat embrio pada kehamilan tersebut [1,2,3,4,5,6].

Itulah mengapa kondisi blighted ovum juga disebut dengan istilah kehamilan anembrionik atau anembryonic gestation.

Kondisi ini begitu berbahaya karena dapat menjadi salah satu penyebab keguguran sewaktu-waktu, khususnya ketika usia kandungan di bawah 23 minggu.

Keguguran pada usia kehamilan trimester pertama rata-rata disebabkan oleh blighted ovum yang awalnya selalu ditandai dengan perut kram.

Berawal dari perut kram, perdarahan dapat terjadi namun sayang sampai kini belum terdapat cara pendeteksi efektif kehamilan blighted ovum secara dini.

Tinjauan
Blighted ovum merupakan kondisi tidak adanya atau tidak berkembangnya embrio di dalam rahim walau telah terjadi pembuahan. Blighted ovum awalnya selalu ditandai dengan kram perut dan perdarahan. 

Fakta Tentang Blighted Ovum

  1. 1 dari 2 kasus keguguran pada usia kehamilan trimester pertama disebabkan oleh blighted ovum [1].
  2. Blighted ovum 51% terjadi pada wanita usia 40-44 tahun dan 10% terjadi pada wanita dengan usia 20-24 tahun [1].
  3. Prevalensi keguguran berulang hanya 0,8-3% di mana hal ini menandakan potensi sangat kecil [1].
  4. Rata-rata wanita dengan blighted ovum tetap dapat memiliki kehamilan yang lancar dan mampu melahirkan bayi yang sehat [4,6].
  5. Blighted ovum dapat terjadi begitu dini sehingga penderitanya tidak menyadari, namun banyak wanita yang terdiagnosa blighted ovum dapat mengalami kehamilan yang sehat setelahnya [4,6].

Perbedaan Antara Blighted Ovum dan Kondisi Medis Serupa Lainnya

Blighted ovum merupakan sebuah kondisi ketika kantong kehamilan terus tumbuh namun janin tidak mengalami perkembangan.

Pada kondisi ini pun, seorang wanita tetap mengalami gejala kehamilan yang pada akhirnya dilanjutkan dengan gejala keguguran setelah usia kehamilan tertentu.

Kelainan kromosom fetus diketahui menjadi penyebab utama blighted ovum, sedangkan pada beberapa kondisi medis serupa lainnya, penyebabnya berbeda.

Blighted ovum memiliki kemiripan dengan sejumlah kondisi medis lain di bawah ini, namun blighted ovum jelas berbeda dari kondisi-kondisi berikut [3] :

  • Stillbirth atau Lahir Mati

Kelahiran mati atau stillbirth merupakan kondisi janin yang sudah tidak bernyawa di dalam rahim sang ibu sebelum kelahiran.

Penyebab lahir mati pada janin ini dapat meliputi tekanan darah tinggi pada sang ibu, masalah plasenta, infeksi, komplikasi kehamilan, cacat lahir, komplikasi kondisi medis yang dialami sang ibu, atau masalah pada tali pusat.

  • Keguguran Trimester Kedua

Blighted ovum juga berbeda dari keguguran trimester kedua di mana keguguran ini terjadi karena beberapa hal, termasuk kelainan kromosom.

Hanya saja selain kelainan kromosom, keguguran trimester kedua dapat disebabkan oleh cacat lahir bawaan, masalah plasenta, insufisiensi serviks, atau faktor-faktor lainnya.

  • Kehamilan Molar atau Hamil Anggur

Blighted ovum juga berbeda dari hamil anggur (kehamilan molar), sebab hamil anggur adalah suatu kondisi yang langka penyebab jaringan kehamilan berkembang tumbuh berlebihan.

Pada hamil anggur, janin dapat berkembang secara tak normal karena mengalami gangguan yang sebenarnya dapat pula dikarenakan kelainan kromosom pada masa pembuahan.

  • Kehamilan Ektopik

Kehamilan ektopik pun berbeda dari blighted ovum karena kehamilan ini terjadi saat pembuahan sel telur justru berada di luar rahim.

Rasa pusing dan perut kram menjadi keluhan utama pada kehamilan ektopik ini.

Namun bila perdarahan mulai terjadi dari vagina, maka penderita harus segera memperoleh bantuan medis.

  • Kehamilan Kimia

Beberapa wanita tidak menyadari mereka hamil saat mengalami kehamilan kimia karena perdarahan dari rahim dan vagina waktunya selalu bersamaan dengan masa menstruasi

  • Kematian Neonatal

Blighted ovum terlebih jauh berbeda dari kematian neonatal karena kondisi kematian neonatal atau neonatal death adalah kondisi bayi yang meninggal pada minggu pertama sejak kelahirannya.

Umumnya kematian terjadi pada bayi pada 28 hari pertama sejak ia lahir dan hal ini pun bahkan berbeda dari stillbirth.

Penyebab Blighted Ovum

Blighted ovum tidak terjadi berdasarkan apa yang dilakukan maupun tidak dilakukan baik sebelum maupun selama hamil.

Meski belum jelas penyebab pastinya, namun kelainan kromosom pada fetus pada masa perkembangan ditengarai menjadi penyebab utama masalah kehamilan blighted ovum.

Kelainan kromosom 9 kerap dikaitkan dengan kondisi blighted ovum [2].

Selain itu, tidak sempurnanya pembelahan sel mampu menjadi faktor lain yang menyebabkan blighted ovum terjadi, begitu juga kualitas sperma dan sel telur.

Bila kualitas sel telur serta sperma kurang baik, hal ini menjadi penyebab kelainan kromosom dan otomatis meningkatkan risiko blighted ovum.

Ada kemungkinan seorang wanita mengalami kehamilan blighted ovum hingga berkali-kali, jika demikian maka hendaknya segera berkonsultasi dengan dokter dan melakukan pemeriksaan kromosom embrio.

Diketahui pula bahwa risiko blighted ovum lebih tinggi bila suami masih memiliki hubungan keluarga/biologis.

Faktor Risiko Blighted Ovum

Selain kelainan kromosom dan kualitas sel telur serta sperma, beberapa faktor lain seperti berikut mampu meningkatkan risiko blighted ovum [1,4,5,6].

  • Wanita mengalami kehamilan saat usia sudah cukup tua.
  • Obesitas atau kelebihan berat badan.
  • Faktor keturunan atau genetik sehingga kelainan kromosom terjadi
Tinjauan
Kelainan kromosom 9 menjadi penyebab terjadinya blighted ovum, namun beberapa faktor lain seperti faktor genetik, obesitas dan kehamilan di usia tua mampu meningkatkan risikonya.

Gejala Blighted Ovum

Pada beberapa kasus, sebelum seorang wanita menyadari kehamilannya blighted ovum justru telah berakhir.

Jika demikian, maka seorang wanita biasanya hanya akan mengira bahwa sebelumnya ia mengalami menstruasi dengan perdarahan yang lebih berat dari normalnya.

Pada sejumlah kasus lain, gejala-gejala blighted ovum pada umumnya mirip dengan gejala kehamilan, yaitu ditandai dengan [1,4,5,6] :

  • Terlambat datang bulan
  • Tes kehamilan menunjukkan tanda positif
  • Payudara terasa nyeri
  • Mual dan muntah

Walau awalnya seorang wanita merasa tengah mengalami kehamilan normal, pada waktu tertentu kemudian akan timbul gejala-gejala yang mengarah pada keguguran, seperti :

  • Perdarahan atau adanya flek berasal dari vagina
  • Saat menstruasi, volume darah jauh lebih banyak
  • Rasa nyeri pada payudara hilang
  • Perut mengalami kram yang persisten dan berulang
  • Saat tes kehamilan, hasilnya masih positif walau mengalami tanda keguguran yang dikarenakan tingginya hormon hCG.

Tidak perlu menunggu terlalu lama untuk ke dokter karena sebaiknya segera konsultasikan dengan ahli medis supaya penanganan bisa lebih cepat didapat.

Tinjauan
Perut kram dan perdarahan dari vagina adalah gejala yang umumnya menandai seseorang mengalami blighted ovum. Namun pada dasarnya, gejala blighted ovum berawal dari gejala kehamilan biasa yang kemudian dalam bberapa minggu timbul gejala keguguran.

Pemeriksaan Blighted Ovum

Untuk mendeteksi blighted ovum, umumnya dokter akan melakukan metode pemeriksaan berupa USG kehamilan pada pasien [1,2,4,5,6].

USG atau ultrasonografi digunakan agar dokter mampu memastikan keberadaan embrio di dalam kantong kehamilan yang pembentukannya sudah jadi.

Pemeriksaan hormon hCG juga dokter perlu lakukan untuk mengetahui kadarnya apakah mengalami peningkatan selama hamil atau tidak.

Walau tak ada perkembangan embrio, plasenta tetap menghasilkan hormon tersebut dan kadarnya dapat terus meningkat.

Pemeriksaan dengan sonogram akan lebih mudah dalam menunjukkan keberadaan plasenta berikut kantong embrionik yang kosong, terutama pada pemeriksaan usia kehamilan 8-13 minggu.

Tinjauan
Pemeriksaan fisik, USG, dan hormon hCG umumnya dilakukan dokter untuk mendeteksi blighted ovum.

Penanganan Blighted Ovum

Sebelum dokter memutuskan jenis pengobatan yang paling sesuai dengan kondisi pasien, ada beberapa kondisi pasien yang perlu dipertimbangkan yaitu :

  • Usia kehamilan
  • Kondisi emosional
  • Riwayat medis

Sebelum dokter memberikan penanganan terhadap kondisi blighted ovum, pasien pun perlu mendiskusikan secara mendetil tentang risiko efek samping dari berbagai perawatan yang direkomendasikan.

Prosedur medis untuk menangani blighted ovum mampu menyebabkan gangguan emosional karena keguguran adalah hal yang sulit diterima walaupun belum terdapat janin di dalam rahim.

Beberapa metode perawatan kemungkinan akan direkomendasikan oleh dokter bagi penderita blighted ovum, yaitu seperti berikut [1,2,4,5,6].

  • Dilatase dan Kuretase : Prosedur medis untuk menangani blighted ovum adalah dilatase dan kuretase. Prosedur ini dilakukan dokter dengan tujuan mengangkat embrio sekaligus jaringan plasenta yang diketahui tidak berkembang.
  • Obat-obatan : Selain prosedur dilatase dan kuretase, obat resep pun diberikan, hanya saja risiko perdarahan pada pasien blighted ovum yang menggunakan obat jauh lebih besar daripada yang menempuh kuretase.
  • Membiarkan Kandungan Gugur dengan Sendirinya : Menunggu dan membiarkan sampai gejala keguguran timbul dengan sendirinya atau secara alami menjadi cara lain untuk mengatasi blighted ovum pada umumnya. Dalam hitungan minggu biasanya proses keguguran secara alami akan terjadi.

Tindakan kuretase dan dilatase menjadi tindakan medis yang ditakutkan oleh banyak wanita dengan blighted ovum walaupun sebagian tetap memilih pengobatan dengan metode ini.

Bila pasien tak nyaman dan khawatir dengan prosedur dilatase dan kuretase, biasanya mereka akan menunggu keguguran terjadi secara alami.

Meski pasien harus menempuh dilatase dan kuretase, blighted ovum tidak menjadikan seorang wanita sulit memiliki anak.

Sebab nyatanya, pasien blighted ovum masih dapat hamil selanjutnya dan tidak mengalami masalah pada kehamilannya.

Namun jika keguguran terjadi berulang, penting untuk mengonsultasikannya bersama pasangan ke dokter yang menangani supaya penyebabnya dapat terdeteksi.

Tinjauan
Dilatase dan kuretase serta pemberian obat-obatan adalah cara penanganan untuk penderita blighted ovum. Namun seringkali, penderita yang takut untuk mengambil langkah operasi akan menunggu sampai keguguran terjadi alami.

Komplikasi Blighted Ovum

Blighted ovum dengan sendirinya dapat menyebabkan keguguran yang sebenarnya tidak berbahaya.

Komplikasi blighted ovum umumnya justru berpotensi terjadi dari penangana yang didapat pasien [5].

  • Perforasi rahim atau timbulnya luka atau lubang pada dinding rahim; perforasi juga seringkali dapat dialami pada kantong empedu, usus besar, lambung, esofagus/kerongkongan, usus kecil, dan anus.
  • Jaringan parut
  • Infeksi
  • Perdarahan hebat yang tidak kunjung mereda.

Bila mengalami perdarahan yang abnormal disertai rasa pusing, demam tinggi, hingga kehilangan kesadaran segera periksakan diri ke dokter.

Bahkan ketika keluhan-keluhan tak nyaman terjadi setelah memperoleh penanganan medis, kembali ke dokter untuk mengonsultasikan keluhan efek samping atau komplikasi prosedur medis.

Pencegahan Blighted Ovum

Pada kebanyakan kasus, pencegahan blighted ovum tak dapat dilakukan, atau setidaknya pasangan suami istri dapat melakukan konseling/konsultasi genetik dengan dokter sebelum program kehamilan [4].

Hanya saja untuk hamil kembali setelah mengalami blighted ovum atau keguguran, dokter akan menyarankan pasangan menunggu 1-3 siklus menstruasi normal teratur sebelum mencoba memiliki anak kembali.

Selama masa pemulihan dan menunggu siklus menstruasi kembali normal, pasien dianjurkan untuk menjalani perubahan gaya hidup menjadi lebih sehat seperti :

  • Mengonsumsi suplemen prenatal harian yang di dalamnya terdapat kandungan folat.
  • Olahraga teratur.
  • Mengelola stres dengan baik dan dengan cara yang positif.
  • Makan teratur dan makan makanan bergizi.

Selama menunggu beberapa siklus menstruasi normal kembali, inilah masa pemulihan bagi pasien baik pemulihan fisik maupun pemulihan bagi kesehatan mental.

Perlu juga diketahui bahwa seorang wanita yang pernah sekali mengalami blighted ovum bukan berarti dapat mengalaminya kembali.

Tinjauan
Cara pencegahan untuk tidak mengalami blighted ovum sama sekali belum diketahui, namun untuk mengurangi risiko blighted ovum kembali berulang, pola hidup sehat sangat dianjurkan. Meski begitu, kebanyakan pasien blighted ovum dapat hamil kembali dan melahirkan bayi yang sehat.
fbWhatsappTwitterLinkedIn

Add Comment