Ablasi Endometrium – Jenis – Prosedur dan Risikonya

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by redaction team, read our quality control guidelance for more info

Tinjauan Medis : dr. Puspasari Septama Susanto
Ablasi endometrium adalah suatu prosedur medis untuk menghancurkan dinding dalam rahim atau endometrium. Prosedur ini bertujuan sebagai terapi bagi wanita yang mengalami menoragia yaitu kondisi perdarahan... hebat pada menstruasi hingga menyebabkan anemia, adanya perdarahan di antara siklus menstruasi, dan menstruasi berkepanjangan hingga 8 hari atau lebih yang tidak dapat diatasi dengan obat-obatan. Prosedur ini dinilai aman, relative tidak nyeri, cepat dan tidak memerlukan pembedahan. Ablasi endometrium dapat dilakukan dengan berbagai metode, di antaranya pembekuan, pemanasan, gelombang mikro, hingga elektrik. Prosedur ini dapat bermanfaat bagi banyak wanita. Namun, tidak dapat direkomendasikan untuk seluruh pasien. Sebelum melakukan prosedur ini pasien harus diperiksa kondisi kesehatannya secara umum dan tidka dalam keadaan hamil. Selain itu, prosedur ini dapat berpengaruh pada tingkat kesuburan sehingga bagi mereka yang masih ingin mengandung sebaiknya berkonsultasi dahulu dengan dokter spesialis fertilitas untuk berdiskusi mengenai rencana kehamilan. Pada sebagian besar kasus, kondisi menoragia dapat teratasi dengan prosedur ini dengan tingkat keberhasilan yang cukup tinggi. Namun, endometrium juga dapat tumbuh kembali baik secara normal maupun tidak normal pada beberapa kasus. Pada wanita usia muda, pertumbuhan endometrium kembali dapat terjadi dalam beberapa bulan hingga tahun kedepan. Read more

Siklus Menstruasi

Tiap wanita yang sudah dewasa dan mengalami menstruasi akan melalui pengalaman yang berbeda-beda.

Ada yang siklusnya pasti, ada yang tidak teratur. Ada yang pendarahannya sangat deras dan lama, ada yang ringan dan singkat. Kondisi ini dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk usia, sudah atau belum pernah melahirkan, serta ukuran tubuh seseorang. [5]

Secara ilmiah, berdasarkan penelitian, menstruasi yang normal berlangsung selama 4 hingga 6 hari, dengan jumlah darah yang keluar sekitar 10 hingga 35 ml dalam satu periode menstruasi. [5]

Jika dalam satu periode darah yang keluar lebih dari 80 ml, maka sudah termasuk menorrhagia, yaitu menstruasi yang sangat deras.

Wanita yang mengalami menorrhagia terus menerus disarankan untuk menjalani prosedur ablasi endometrium untuk meredakan keluarnya darah setiap masa haid. [1, 2, 3, 4]

Apa itu Ablasi Endometrium?

Tidak hanya untuk mengatasi masalah pada jantung, ablasi juga bisa dilakukan pada rahim.

Ablasi endometrium adalah prosedur yang biasanya disarankan oleh dokter pada wanita yang pendarahan saat masa menstruasi-nya sangat deras, sangat lama, atau mengalami pendarahan diantara masa haid. [1, 3, 4]

Penyebab derasnya darah haid bisa disebabkan oleh banyak hal, mulai dari perubahan hormon sampai adanya polip yang tumbuh dalam rahim. [3]

Jika obat minum tidak bisa mengatasi pendarahan abnormal ini, maka ablasi endometrium sebaiknya dilakukan untuk mengurangi pendarahan atau menghentikannya sama sekali. [3]

Ablasi endometrium adalah tindakan untuk membakar atau menghilangkan dinding rahim (endometrium) yang setiap masa haid luruh dan menjadi darah dan gumpalan-gumpalan yang keluar. Prosedur ini aman, cepat, relatif tidak sakit, dan tanpa pembedahan. [1]

Jenis-Jenis Ablasi Endometrium

Tindakan ablasi ini bukanlah pembedahan. Dokter tidak akan membuat sayatan apapun namun akan memasukkan sebuah alat yang sangat tipis melalui vagina menuju rahim. [1, 2, 3, 4]

Metode ablasi endometrium ada beberapa macam: [2, 3, 4]

metode ablasi endometrium
  • Hydrothermal: Dokter akan memompa cairan masuk ke dalam rahim, kemudian memanaskannya. Setelah 10 menit, dinding rahim akan hancur.
  • Terapi balon: Menggunakan selang tipis dengan balon khusus di ujungnya yang dimasukkan ke dalam rahim. Cairan yang sudah dipanaskan akan mengisi balon tersebut hingga mengembang dan memecah dinding rahim.
  • Gelombang radio energi tinggi: Menggunakan jaring listrik yang dimasukkan dan dilebarkan setelah masuk ke dalam rahim. Energi dan panas dari gelombang radio dikirimkan melalui jaring tadi untuk menghancurkan dinding rahim, lalu dikeluarkan menggunakan penyedot.
  • Pembekuan: Sebuah kawat kecil dengan ujung yang sangat dingin dimasukkan ke dalam rahim kemudian digunakan untuk membekukan dindingnya. Metode ini juga dikenal dengan istilah “cryoablation”.
  • Gelombang mikro (microwave): Semacam tongkat khusus menghantarkan energi microwave ke dinding rahim, kemudian menghancurkannya.
  • Listrik: Dokter akan menggunakan gelombang listrik untuk menghancurkan dinding rahim. Metode ini paling jarang digunakan.

Kondisi yang Membutuhkan Ablasi Endometrium

Seperti yang sudah disebutkan diatas, ablasi endometrium disarankan bagi mereka yang darah haid-nya sangat deras hingga termasuk kategori menorrhagia dan tidak bisa diatasi oleh obat minum atau pemasangan IUD. [2]

Pendarahan menstruasi dianggap sangat deras bila:

  • Pembalut sudah penuh dan harus diganti setiap 2 jam
  • Darah keluar deras terus menerus selama 8 hari
  • Pendarahan terjadi antara masa haid
  • Penderita mengalami anemia saat periode menstruasi

Kondisi yang Tidak Disarankan Ablasi Endometrium

Meskipun dianggap efektif untuk mengatasi pendarahan abnormal, ada beberapa kondisi yang tidak boleh menjalani tindakan ini.

Ablasi endometrium adalah prosedur yang hasilnya permanen; artinya, dinding rahim yang sudah di-ablasi atau dibakar tidak akan tumbuh kembali. [1, 2, 4]

Prosedur ini bisa membantu bagi banyak wanita, tapi tidak untuk semua. Jika penderita sudah memasuki masa post-menopause, maka sebaiknya tidak mengambil tindakan ini.

Ablasi endometrium juga tidak disarankan bagi wanita yang : [3, 4]

Ablasi endometrium dilarang bagi wanita yang sedang hamil atau masih berencana untuk hamil di masa yang akan datang, karena prosedur ini bisa menurunkan tingkat kesuburan.

Prosedur Ablasi Endometrium

Persiapan

Sebelum hari pelaksanaan tindakan, dokter akan memeriksa riwayat kesehatan pasien, termasuk daftar alergi yang dimiliki – jika ada.

Jika pasien dan dokter setuju untuk melanjutkan ke tahap tindakan, setelah melihat riwayat kesehatan dan penjelasan mengenai risiko-risiko, maka diskusi mengenai seluruh aspek dari prosedur akan dilakukan bersama. Hal ini termasuk membicarakan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan sejak beberapa minggu sebelum hari pelaksanaan tindakan.

Protokol pra-prosedur termasuk:

  • Tes kehamilan: ablasi tidak boleh dilakukan jika ternyata pasien hamil
  • Mengeluarkan IUD, jika terpasang
  • Tes kanker endometrium: kateter dimasukkan melalui leher rahim (serviks) untuk mengambil sampel jaringan yang kemudian akan dites
  • Penipisan dinding rahim: beberapa jenis ablasi endometrium akan lebih efektif bila dinding rahim dalam keadaan tipis. Untuk ini, dokter mungkin akan meresepkan obat atau melakukan kuret – yaitu pengerukan jaringan berlebih dalam endometrium.
  • Membuat pilihan anestesi: beberapa metode ablasi endometrium membutuhkan bius total yang membuat pasien tertidur selama prosedur berlangsung. Metode lainnya bisa dilakukan hanya dengan bius lokal yang disuntikkan ke dalam serviks dan rahim – dimana pasien tetap dalam keadaan sadar namun tidak akan merasakan sakit.
  • Tes tambahan: termasuk elektrokardiogram (EKG), tergantung dari kondisi pasien.

Langkah-Langkah Prosedur

Tindakan ablasi endometrium bisa dilakukan di ruang praktik dokter atau di rumah sakit, tergantung dari jenis obat bius yang digunakan – bila total, maka harus dilakukan di rumah sakit.

  1. Pasien akan diminta untuk memakai gaun rumah sakit.
  2. Perawat akan memasang infus di lengan atau tangan.
  3. Pasien berbaring di meja tindakan, dengan kaki terangkat dan di-support seperti pada pemeriksaan pap-smear atau pelvic.
  4. Dokter akan memasukkan alat (speculum atau kita kenal dengan istilah cocor bebek) ke dalam vagina untuk melebarkannya agar serviks terlihat.
  5. Serviks akan dibersihkan dengan cairan antiseptik.
  6. Serviks dan rahim akan dibius melalui suntikan (bila menggunakan bius lokal)
  7. Dokter akan memasukkan alat semacam kawat yang tipis (uterine sound) melalui serviks. Ini dilakukan untuk mengetahui seberapa panjang saluran antara rahim dan lehernya. Alat ini mungkin akan menyebabkan kram namun hanya sebentar. Setelah mendapat ukuran yang pasti, alat ini akan dikeluarkan.
  8. Langkah selanjutnya, tergantung dari metode ablasi yang dipilih – seperti yang disebutkan diatas.
  9. Setelah prosedur selesai, dokter akan mengeluarkan alat dari rahim dan vagina.

Pasca Prosedur

Proses pemulihan setelah tindakan tidak sama, tergantung dari jenis ablasi yang dilakukan dan bius apa yang digunakan. Namun, rentangnya antara beberapa hari hingga beberapa minggu. Kebanyakan wanita yang menjalani ablasi endometrium sudah bisa kembali beraktivitas seperti biasa dalam satu minggu. [2, 3, 4, 6]

Jika pasien mendapatkan bius total atau tulang belakang, maka ia akan dibawa ke ruang pemulihan setelah tindakan selesai. Begitu tekanan darah, denyut nadi, dan irama nafas sudah stabil dan pasien sudah sadar, maka akan dipindahkan ke kamar perawatan di rumah sakit atau diijinkan untuk pulang.

Jika pasien hanya mendapatkan bius lokal, maka hanya perlu istirahat sekitar 2 jam sebelum diijinkan untuk pulang.

Pasien disarankan menggunakan pembalut selama beberapa hari setelah tindakan karena akan ada pendarahan yang encer diikuti kram, mual, muntah, dan rasa ingin buang air kecil yang lebih sering dari biasanya. Hal-hal tersebut adalah normal.

Yang harus dihindari pasien pasca ablasi endometrium adalah: [2, 3, 4, 6]

  • Membersihkan vagina dengan sabun, menggunakan tampon, atau berhubungan seksual 2 hingga 3 hari setelah tindakan, atau sesuai petunjuk dokter.
  • Mengangkat barang berat sampai benar-benar pulih.
  • Minum aspirin atau pereda rasa sakit lainnya yang bisa memperparah pendarahan. Pasien hanya boleh minum obat yang diresepkan oleh dokter.

Pasien harus segera menghubungi dokter jika hal-hal berikut terjadi:

  • Keluar carian berbau tidak sedap dari vagina
  • Demam atau keluar keringat dingin
  • Nyeri perut yang menusuk
  • Pendarahan hebat mendadak atau lebih dari 2 hari setelah tindakan
  • Kesulitan buang air kecil

Dokter mungkin akan memberikan anjuran dan instruksi perawatan di rumah yang berbeda bagi tiap pasien tergantung pada kondisinya.

Risiko dan Komplikasi Ablasi Endometrium

Setelah tindakan, pasien disarankan untuk terus menggunakan alat kontrasepsi. Jika kehamilan terjadi, maka kemungkinan untuk keguguran lebih besar. [1, 2, 3]

Normalnya, dinding rahim akan menebal bila kehamilan terjadi. Tanpa dinding yang tebal, janin tidak bisa tumbuh dengan baik. Karena inilah, untuk mencegah kehamilan dan keguguran, dokter akan menyarankan pasien untuk juga melakukan sterilisasi setelah ablasi endometrium. [2, 3]

Selain jelasnya risiko menurun hingga hilangnya kesuburan pasien, komplikasi dari prosedur ini jarang terjadi. Namun, bila ada, maka termasuk: [1, 2, 3]

  • Lubang di dinding rahim atau usus
  • Infeksi atau pendarahan pasca tindakan
  • Kerusakan pada vagina, vulva, atau usus akibat penggunaan suhu panas atau sangat dingin yang digunakan saat prosedur berlangsung
  • Penyerapan cairan yang digunakan selama prosedur ke dalam aliran darah

Hasil dan Tingkat Keberhasilan

Karena kondisi fisik tiap wanita berbeda dan dipengaruhi banyak faktor, hasil dari ablasi endometrium pun bisa berbeda pada tiap pasien.

Setelah tindakan, ada yang masih mengalami menstruasi namun darah haidnya sudah tidak keluar sederas sebelumnya, tapi ada pula yang siklus haidnya benar-benar berhenti. [1, 2, 3, 4]

Setelah beberapa tahun, ada yang kembali mengalami pendarahan hebat saat periode haid. Jika ini terjadi, maka harus segera dikonsultasikan kembali dengan dokter agar pengobatan lain bisa dilakukan. [3]

Tindakan ini termasuk pada gangguan menstruasi dan sistem reproduksi wanita lain-lain dalam daftar pelayanan kesehatan Indonesia, dan kisaran biayanya adalah 5,5 juta hingga 7,5 juta.

fbWhatsappTwitterLinkedIn

Add Comment