Aneurisma Otak : Penyebab – Gejala dan Penanganan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by redaction team, read our quality control guidelance for more info

Tinjauan Medis : dr. Shinta Pradyasti
Aneurisma adalah kelainan pembuluh darah yang muncul akibat penipisan dan degenerasi dinding pembuluh darah arteri. Penyebabnya dapat berupa kelainan bawaan, hipertensi, infeksi, trauma, kebiasaan penyalahgunaan... zat yang berlebihan, dll. Kondisi ini menimbulkan kelemahan pada dinding pembuluh darah sehingga membentuk tonjolan seperti balon. Dinding pembuluh darah tonjolan tersebut lebih tipis dibandingkan dengan dinding pembuluh darah normal, sehingga dapat pecah kapan pun secara tiba-tiba. Aneurisma otak disebut juga aneurisma serebral atau aneurisma intrakranial. Jika aneurisma pada otak pecah, hal tersebut dapat berakibat fatal seperti kerusakan otak, stroke perdarahan, koma, hingga kematian. Pada beberapa kasus, dapat terjadi kebocoran pada aneurisma dan menyebabkan merembesnya darah di otak. Pada aneurisma yang berukuran kecil dan belum pecah, gejala akan jarang terlihat. Namun seiring dengan semakin besarnya tonjolan, akan muncul gejala penekanan pada jaringan sekitar yang menyebabkan keluhan seperti sakit kepala, nyeri di sekitar mata, gangguan penglihatan, dan mati rasa pada wajah. Pada aneurisma yang pecah, akan muncul gejala nyeri kepala sangat hebat yang muncul mendadak, kejang, hingga penurunan kesadaran, serta kelumpuhan sebelah anggota gerak yang menyerupai gejala stroke. Read more

Aneurisma otak merupakan suatu kondisi ketika terdapat tonjolan pada pembuluh darah yang ada di otak di mana sebutan lainnya adalah aneurisma serebral atau aneurisma intrakranial [1,2,4,5,6].

Jika dibiarkan tanpa penanganan, tonjolan tersebut dapat semakin besar ukurannya dan berpotensi untuk pecah.

Bila sampai pecah, saat itulah terjadi perdarahan yang kemudian berakibat pula pada kerusakan otak.

Tinjauan
Aneurisma otak merupakan tonjolan pada pembuluh darah otak yang berpotensi semakin besar di mana bentuknya mirip dengan buah berry yang bergelantung pada batangnya.

Jenis-jenis Aneurisma Otak

Aneurisma otak terbagi menjadi dua jenis kondisi menurut bentuknya.

Walaupun bentuk tonjolan di pembuluh darah menyerupai buah berry yang tergantung pada batangnya, rupanya bentuk serta penampakannya bisa berbeda [8].

Aneurisma Fusiform

Aneurisma fusiform adalah jenis aneurisma yang tergolong jarang dijumpai.

Aneurisma otak fusiform ini ditandai dengan pembesaran yang terjadi di sepanjang arteri.

Aneurisma Dissecting

Aneurisma otak ini adalah aneurisma sobekan di mana robekan terjadi pada salah satu dari sejumlah lapisan arteri.

Kebocoran dapat terjadi di mana sebagai akibatnya memicu perdarahan hingga ke lapisan arteri lainnya lalu menghambat arteri.

Tinjauan
Menurut bentuknya, aneurisma pada otak dapat meliputi dua jenis, yaitu aneurisma fusiform (pembesaran terjadi sepanjang arteri) dan aneurisma dissecting (robekan terjadi pada salah satu lapisan arteri dan perdarahan dapat terjadi hingga ke lapisan arteri lain).

Penyebab Aneurisma Otak

Penyebab pasti dari aneurisma otak masih belum diketahui secara jelas, namun ada beberapa faktor kondisi yang mampu meningkatkan risiko penyakit ini dapat terjadi [1,2,3,5,6].

  • Merokok
  • Faktor usia (terutama usia dewasa dan lansia)
  • Faktor jenis kelamin (wanita lebih berisiko tinggi daripada pria)
  • Konsumsi alkohol berlebihan dalam jangka panjang
  • Penyalahgunaan narkoba, khususnya kokain
  • Hipertensi
  • Olahraga berlebihan
  • Kemarahan besar
  • Kebiasaan mengejan saat buang air besar
  • Konsumsi soda berlebihan
  • Konsumsi kafein (khususnya kopi) secara berlebihan
  • Cedera pada bagian kepala
  • Infeksi darah

Beberapa faktor tersebut mungkin dianggap sebagai kebiasaan yang biasa, namun sebenarnya dapat berbahaya karena memicu kelemahan pada dinding arteri.

Selain membuat dinding arteri melemah, kebiasaan-kebiasaan buruk atau kondisi medis tertentu mampu meningkatkan risiko aneurisma otak hingga pecahnya aneurisma.

Selain dari beberapa faktor tersebut, ada pula beberapa kondisi yang mampu meningkatkan risiko aneurisma otak sebagai bawaan lahir, yaitu :

  • Riwayat Kesehatan Keluarga : Seseorang dengan anggota keluarga dengan aneurisma otak dapat meningkatkan risiko kondisi yang sama, terutama bila yang mengalaminya adalah orangtua, saudara kandung perempuan atau laki-laki.
  • Gangguan Jaringan Ikat yang Diwariskan : Sindrom Ehlers-Danlos yang mampu menyebabkan pembuluh darah melemah adalah salah satu risiko peningkat terjadinya kondisi aneurisma otak.
  • Malformasi Arteriovenous Serebral : Bila antara vena dan arteri mengalami koneksi yang tak normal, aliran darah normal akan mengalami gangguan sehingga hal ini meningkatkan potensi terjadinya aneurisma pada otak.
  • Penyempitan Aorta Abnormal : Pembuluh darah besar yang tugasnya sebagai penyuplai darah yang membawa oksigen dari jantung ke seluruh tubuh dapat mengalami penyempitan abnormal di mana hal ini berdampak pada timbulnya aneurisma.
  • Penyakit Ginjal Polikistik : Kelainan genetik ini dapat mengakibatkan ginjal memiliki kantong yang berisikan cairan dan bahkan kelainan ini mampu memicu hipertensi yang kemudian meningkatkan risiko aneurisma di bagian otak.
Tinjauan
Faktor usia, jenis kelamin, gaya hidup tak sehat, serta beberapa kondisi medis tertentu (bawaan maupun tidak) dapat menjadi penyebab dari timbulnya aneurisma otak. 

Gejala Aneurisma Otak

Gejala aneurisma otak terbagi menjadi tiga kondisi, yaitu gejala saat aneurisma belum pecah, aneurisma yang sudah mulai bocor, serta aneurisma yang sudah pecah [1,2,4].

Aneurisma Belum Pecah

Pada saat aneurisma belum pecah, maka ada kemungkinan bahwa penderitanya tidak mengalami gejala sama sekali karena biasanya ukuran tonjolan pun masih kecil.

Namun untuk kasus aneurisma otak yang tonjolannya sudah cukup besar, ada kemungkinan beberapa gejala ini muncul karena jaringan otak dan saraf mulai mengalami tekanan :

  • Penglihatan buram
  • Penglihatan ganda
  • Terasa nyeri pada bagian atas atau belakang salah satu sisi mata
  • Salah satu sisi wajah mati rasa
  • Pembesaran pupil

Aneurisma Bocor

Pada kondisi aneurisma otak yang mengalami perembesan atau kebocoran belumlah separah saat aneurisma pecah.

Perdarahan dapat terjadi sangat ringan karena darah yang keluar dari tonjolan hanya sedikit, namun penderita dapat mengalami sakit kepala hebat secara tiba-tiba yang disusul dengan pecahnya aneurisma.

Aneurisma Pecah

Pada saat aneurisma benar-benar pecah, maka beberapa kondisi inilah yang akan menjadi keluhan penderita :

  • Sensitivitas mata terhadap cahaya meningkat
  • Kekakuan pada leher
  • Sakit kepala yang tak tertahankan
  • Tubuh kejang
  • Mual yang disertai muntah
  • Kebingungan atau linglung
  • Kelopak mata terkulai
  • Penglihatan menjadi tidak jelas
  • Kesulitan berjalan
  • Kesulitan bicara
  • Kehilangan kesadaran

Kapan sebaiknya memeriksakan diri ke dokter?

Segera ke dokter bila sakit kepala hebat dan tak tertahankan tiba-tiba timbul dan sangat mengganggu.

Bagi penderita yang juga mengalami kejang hingga kehilangan kesadaran, dikhawatirkan aneurisma telah pecah sehingga memerlukan penanganan medis secepatnya.

Tinjauan
Gejala aneurisma otak didasarkan pada kondisi aneurisma yang belum pecah, bocor, atau sudah pecah. Namun pada umumnya, gejala meliputi gangguan pada mata, sakit kepala hebat, leher kaku, mata sensitif terhadap cahaya, mual dan muntah, sulit berjalan dan bicara, hingga kehilangan kesadaran.

Pemeriksaan Aneurisma Otak

Pada kasus aneurisma yang telah pecah, hal ini jauh lebih mudah terdeteksi daripada aneurisma yang belum pecah.

Bila penderita mengeluhkan sakit kepala hebat serta gejala lain yang mengarah pada pecahnya aneurisma, maka dokter biasanya merekomendasikan beberapa tindakan pemeriksaan.

Dokter akan meminta pasien menempuh sejumlah pemeriksaan berikut untuk menentukan apakah perdarahan yang terjadi telah sampai ke sekitar jaringan otak [1,2,4,6].

  • CT Scan : Pemeriksaan pemindaian menggunakan CT scan dilakukan dokter untuk mengetahui apakah perdarahan telah terjadi karena bocor atau pecahnya tonjolan di pembuluh darah.
  • MRI Scan : Pemeriksaan MRI adalah metode tes pemindaian yang dilakukan dokter dengan tujuan mendeteksi lebih dulu apakah aneurisma ada atau tidak pada bagian otak.
  • Angiografi Otak : Metode pemeriksaan ini diperlukan agar dokter dapat mengetahui apakah kelainan lain terjadi pada pembuluh darah otak.
  • Tes Cairan Serebrospinal :  Bagi pasien dengan kondisi perdarahan subaraknoid, cairan serebrospinal atau cairan yang mengelilingi tulang belakang serta otak akan terdapat sel-sel darah di sana. Untuk memastikannya, dokter perlu mengambil sampel cairan serebrospinal dari tubuh pasien yang disebut juga dengan metode lumbal pungsi / spinal tap.

Untuk kasus aneurisma yang belum atau tidak pecah, tidak dianjurkan bagi penderita gejala ntuk melakukan tes skrining atau tes pemindaian.

Namun, ada baiknya untuk segera mengonsultasikannya dengan dokter bila aneurisma otak semakin berkembang karena memiliki kelainan bawaan atau riwayat anggota keluarga dengan aneurisma otak.

Tinjauan
Tes pemindaian seperti CT scan dan MRI scan, lalu angiografi otak serta tes cairan serebrospinal adalah metode-metode pemeriksaan aneurisma otak yang umumnya dilakukan oleh dokter untuk mendiagnosa aneurisma otak. 

Penanganan Aneurisma Otak

Dokter mempertimbangkan beberapa faktor sebelum memberikan perawatan paling tepat bagi pasien yang didiagnosa aneurisma otak.

Beberapa hal yang menjadi pertimbangan dokter antara lain adalah [1,6] :

  • Riwayat Keluarga : Risiko pecahnya aneurisma otak jauh lebih tinggi apabila anggota keluarga pasien ada yang memiliki kondisi aneurisma otak yang pecah.
  • Ukuran Aneurisma : Tonjolan pada pembuluh darah yang besarnya lebih dari 7 mm tak cukup diatasi dengan pemberian obat sebab tindakan operasi perlu dilakukan.
  • Kondisi Medis Tertentu : Pada pasien dengan kondisi medis tertentu, seperti hipertensi yang tidak terkontrol dengan baik serta penyakit ginjal polikistik dominan autosom pun menjadi pertimbangan bagi dokter.
  • Lokasi Aneurisma : Bila aneurisma otak terjadi tepat pada pembuluh darah besar, maka risiko untuk pecah semakin besar dan penanganan pun jauh lebih sulit.
  • Faktor Usia : Risiko komplikasi dan bahaya tindakan operasi pada pasien aneurisma otak yang sudah tergolong paruh baya jauh lebih besar sehingga hal ini memerlukan pertimbangan matang.

Penanganan yang diberikan kepada setiap pasien aneurisma otak pun tak dapat menyembuhkan sama sekali, sebab tujuan utama hanyalah menjadi pereda gejala.

Penanganan berupa pemberian obat-obatan hingga prosedur operasi adalah cara terbaik untuk mencegah supaya komplikasi kesehatan tidak terjadi.

1. Operasi

Ada dua buah metode operasi yang dapat ditempuh oleh pasien aneurisma otak, yaitu [1,2,4,5,6] :

  • Surgical Clipping atau Pembedahan dengan Penjepitan

Metode surgical clipping adalah tindakan pembedahan yang bertujuan menutup aneurisma dengan mengangkat sebagian kecil dari tengkorak pasien.

Setelah bagian tengkorak tertentu diangkat, maka dokter bedah akan dapat menjangkau lokasi aneurisma yang pecah.

Di lokasi tersebut dokter bedah kemudian memasang penjepit untuk menutup aneurisma.

  • Koiling Endovaskular

Tindakan perawatan ini dilakukan dengan cara dokter bedah memasukkan kateter (selang khusus) ke dalam arteri yang ada pada paha bagian dalam sampai ke bagian kepala.

Prosedur pembedahan ini dapat diterapkan tanpa harus membuka tengkorak pasien.

Melalui kateter, dokter memasang alat yang disebut koil atau kawat di lokasi aneurisma di mana aliran darah terganggu namun secara efektif menutup aneurisma dari arteri.

  • Flow Diverter

Pembedahan dengan metode ini direkomendasikan oleh dokter bila pasien tak dapat menempuh kedua prosedur operasi yang telah disebutkan sebelumnya.

Pembedahan ini adalah prosedur pemasangan stent pada pembuluh darah yang bertujuan agar aliran darah mengalir normal tanpa bocor.

Metode flow diverter dapat secara efektif mengatasi aneurisma yang lebih besar di mana tindakan perawatan lain tak mampu menanganinya.

Namun sebelum menjalaninya, pasien perlu mengonsultasikan dengan dokter tentang risiko prosedur dan manfaatnya secara mendetil.

2. Obat-obatan

Terapi obat adalah bentuk penanganan yang dokter berikan ketika terjadi kondisi darurat pada pasien, seperti ketika aneurisma pecah.

Pemberian obat adalah sebagai langkah mencegah komplikasi sekaligus membuat gejala-gejalanya mereda. Beberapa jenis obat yang paling sering diresepkan adalah [4] :

  • Obat Anti Kejang

Antikejang diberikan oleh dokter untuk menangani tubuh pasien yang kejang karena aneurisma pecah.

Secara umum, jenis antikejang yang diresepkan antara lain meliputi phenytoin, levetiracetam, dan valproic acid tergantung dari kebutuhan dan kondisi tubuh pasien.

  • Calcium Channel Blockers

Untuk mencegah supaya kalsium tidak memasuki sel-sel dinding pembuluh darah, maka dokter kemungkinan memberikan resep calcium channel blockers.

Nipodipine adalah salah satu jenis calcium channel blockers yang dapat mengurangi risiko kerusakan otak yang disebabkan oleh aliran darah yang tak memadai.

  • Obat Pereda Nyeri

Acetaminophen adalah jenis obat pereda nyeri yang biasanya diresepkan oleh dokter untuk pasien dapat meredakan rasa sakit kepalanya

  • Vasopressor

Obat intravena ini adalah perawatan yang diberikan dokter sebagai intervensi pencegah stroke dengan mengatasi penyempitan pembuluh darah.

Selain vasopressor, vasodilator pun kerap digunakan oleh dokter sebagai penanganan efektif bagi pembuluh darah yang menyempit.

3. Terapi Rehabilitasi

Bila perdarahan subaraknoid terjadi dan memicu kerusakan pada otak, maka pasien perlu menjalani terapi rehabilitasi seperti terapi bicara, terapi fisik dan okupasi [4].

Terapi-terapi ini berguna membantu pasien dalam mempelajari kembali kemampuan-kemampuan dasar yang mulai menurun.

Tinjauan
Operasi adalah cara pengobatan aneurisma otak yang umumnya diterapkan, namun pada beberapa kasus dokter pun akan meresepkan beberapa jenis obat sebagai pereda gejala.

Komplikasi Aneurisma Otak

Aneurisma otak dapat pecah di mana hal ini memicu perdarahan yang berlangsung selama beberapa detik dan hal ini mampu memicu kerusakan pada sel-sel di sekitar otak.

Beberapa komplikasi yang dapat terjadi ketika aneurisma pecah adalah [4] :

  • Perdarahan Berulang : Ketika aneurisma sudah bocor atau pecah, risiko perdarahan kembali terjadi sangat besar. Bila perdarahan terus terjadi, maka sel-sel otak akan dengan mudah menjadi rusak.
  • Hiponatremia : Aneurisma otak yang pecah mampu menjadi pemicu perdarahan yang kemudian memicu keseimbangan ion natrium terganggu; inilah kondisi yang disebut dengan hiponatremia.
  • Hidrosefalus : Aneurisma yang pecah akan memicu perdarahan pada ruang antara otak dan jaringan di sekitarnya yang disebut dengan istilah perdarahan subaraknoid. Darah kemudian akan menjadi penghambat sirkulasi cairan di sekitar otak dan tulang belakang dan memicu penumpukan cairan tersebut pada otak yang kemudian membuat hidrosefalus terjadi.
  • Vasospasme : Saat aneurisma pecah, penyempitan pembuluh darah terjadi yang menjadi faktor utama penyebab bagian otak lain mengalami kekurangan nutrisi dan oksigen.

Pencegahan Aneurisma Otak

Aneurisma otak adalah sebuah kondisi yang sebenarnya dapat dicegah dengan menjalani pola hidup sehat dan kontrol kesehatan secara rutin [1].

  • Tidak merokok.
  • Menghindari konsumsi alkohol berlebihan
  • Menghindari penggunaan narkoba.
  • Menjaga berat badan tetap di angka ideal.
  • Menjaga asupan makanan dan minuman tetap sehat bergizi seimbang.
  • Melakukan olahraga teratur.
  • Mengecek kesehatan secara rutin, seperti kadar tekanan darah, gula darah, kolesterol dan asam urat.
Tinjauan
Penerapan gaya hidup sehat adalah cara terbaik untuk mencegah aneurisma otak untuk menghindari hipertensi dan berbagai kondisi medis yang mampu meningkatkan risiko aneurisma otak.
fbWhatsappTwitterLinkedIn

Add Comment