Neuralgia Trigeminal Idiopatik : Penyebab – Gejala dan Pengobatan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by redaction team, read our quality control guidelance for more info

Apa Itu Neuralgia Trigeminal Idiopatik?

Neuralgia trigeminal idiopatik merupakan jenis penyakit langka ditandai dengan rasa nyeri pada wajah dan para pasiennya menggambarkan bahwa rasa nyeri pada kondisi ini adalah rasa nyeri terburuk di dunia [1,2,3,5,6,7].

Banyak kasus neuralgia trigeminal memang dianggap sebagai kondisi idiopatik/klasik (tanpa penyebab yang jelas), namun sebenarnya rata-rata kondisi neuralgia trigeminal idiopatik ini berkaitan dengan kompresi vaskular pada saraf trigeminal [2].

Walau penyakit ini tergolong langka, nyeri yang disebabkannya bisa sangat hebat dan tak tertahankan.

Namun ketika penyakit ini dikenali lebih awal, sebenarnya penanganan dini dapat mengatasi gejala-gejala yang timbul.

Saraf trigeminal itu apa?

Saraf trigeminal adalah saraf kranial kelima di mana jenis saraf ini berfungsi utama sebagai pembawa sensasi dari kulit anterior kepala rongga hidung dan mulut, lapisan otak, serta gigi [1].

Mata, rahang dan rahang bawah adalah divisi saraf trigeminal yang kemudian masih terdiri dari banyak serabut saraf lainnya.

Serabut saraf motorik (saraf otot yang mengatur aktivitas mengunyah) berada di divisi saraf trigeminal rahang bawah, sedangkan lainnya adalah serat saraf sensoris dan motoris.

Tinjauan
Neuralgia trigeminal idiopatik adalah kondisi nyeri pada wajah yang umumnya tidak diketahui penyebabnya. Namun, rata-rata kasus ini justru berhubungan dengan adanya tekanan pada saraf trigeminal sehingga saraf ini kehilangan fungsi normalnya.

Fakta Tentang Neuralgia Trigeminal Idiopatik

  1. Setiap tahun, terdapat 4 hingga 13 per 100.000 orang yang menderita neuralgia trigeminal dengan jumlah penderita wanita lebih banyak dibandingkan pria [1].
  2. Kebanyakan kasus, usia di atas 50 tahun lebih rentan mengidap neuralgia trigeminal idiopatik; dan meski dapat pula terjadi pada anak-anak, kasus ini jarang dijumpai [1].
  3. Perkembangan neuralgia trigeminal berpotensi terjadi pada orang-orang berusia muda, namun hal ini pun meningkatkan dugaan risiko multiple sclerosis yang semakin tinggi [1].
  4. Prevalensi neuralgia trigeminal diderita oleh penderita multiple sclerosis adalah antara 1-6,3% [1].
  5. Menurut laporan, insiden neuralgia trigeminal juga jauh lebih berisiko tinggi pada orang-orang yang menderita hipertensi saat membandingkannya dengan populasi umum [1].
  6. Sekitar 87% rasa nyeri yang timbul pada wajah, seringkali rupanya berhubungan pula dengan lesi mukosa oral atau lesi dental (masalah kesehatan gigi dan mulut) [4].

Penyebab Neuralgia Trigeminal Idiopatik

Gangguan fungsi saraf trigeminal adalah penyebab utama terjadinya neuralgia trigeminal [1,2,3,4,5,6].

Gangguan ini dapat terjadi ketika pembuluh darah di sekitar saraf trigeminal justru memberi tekanan pada saraf trigeminal ini.

Tekanan yang semakin besar berpotensi menyebabkan fungsi saraf yang seharusnya bekerja dengan normal.

Pada sejumlah kasus lain, neuralgia trigeminal dapat terjadi karena otak mengalami kelainan, baik karena cedera atau bisa juga karena luka.

Beberapa faktor yang patut diwaspadai sebagai pemicunya antara lain adalah [1,2,3,5,6] :

  • Faktor penuaan.
  • Tumor (tekanan pada saraf trigeminal berasal dari tumor yang tumbuh semakin besar).
  • Penyakit stroke.
  • Usai menjalani prosedur operasi.
  • Cedera pada wajah atau kepala.
  • Penyakit multiple sclerosis yang berpotensi merusak mielin (selaput pelindung saraf).
Tinjauan
Neuralgia trigeminal idiopatik umumnya tidak diketahui penyebabnya, namun pada umumnya neuralgia trigeminal disebabkan oleh gangguan fungsi saraf trigeminal.

Gejala Neuralgia Trigeminal Idiopatik

Tanda utama neuralgia trigeminal adalah nyeri yang dirasakan pada area bibir, pipi, gigi, gusi dan rahang yang bahkan terkadang nyerinya sampai ke bagian kening serta mata.

Berbeda dari neuralgia glosofaringeal idiopatik, pada kondisi ini nyeri menyerang bagian dalam mulut (sampai ke tenggorokan) dan area belakang telinga.

Seringkali, rasa nyeri yang ditimbulkan neuralgia trigeminal idiopatik dapat dirasakan di satu sisi wajah saja walau tak menutup kemungkinan kedua sisi wajah mengalami nyeri tersebut.

Berikut ini merupakan sejumlah gejala nyeri yang menggambarkan bahwa neuralgia trigeminal sedang terjadi [1,2,6].

  • Datangnya rasa nyeri seringkali sangat teratur dalam beberapa hari. Pada beberapa kasus, penderitanya dapat mengalami serangan nyeri selama beberapa minggu hingga bulan.
  • Rasa nyeri dapat datang dan pergi; umumnya, rasa nyeri akan hilang sebentar dan tak menunjukkan tanda kekambuhan. Namun setelah beberapa bulan atau tahun, nyeri dapat kembali menyerang.
  • Nyeri dapat dirasakan beberapa detik hingga menit; bahkan berpotensi berkembang menjadi jauh lebih serius.
  • Gerakan tertentu pada wajah dapat memicu rasa nyeri untuk timbul, terutama ketika tersenyum, bicara, menyikat gigi, menyentuh wajah secara lembut, tersapu angin/udara dingin, wajah bergetar saat sedang berkendara atau berjalan, berciuman, bercukur, berdandan, mencuci wajah, atau mengunyah.
  • Rasa nyeri mirip dengan sengatan listrik. Terkadang nyeri juga terasa seperti kram atau tegang.
  • Walau sudah mereda, nyeri ringannya masih tersisa. Pada beberapa kasus, sensasi terbakar dapat dirasakan oleh penderita.
  • Penderita neuralgia trigeminal parah dalam seharinya dapat terserang rasa nyeri di wajah hingga ratusan kali tanpa ada tanda-tanda mereda.

Kondisi Serupa dengan Neuralgia Trigeminal Idiopatik

Beberapa kondisi gangguan kesehatan berikut ini kerap dianggap mirip dengan neuralgia trigeminal, namun sebenarnya sangat mudah untuk membedakannya [2].

Perbedaannya dari neuralgia trigeminal adalah rasa sakit kepala yang timbul dan biasanya disertai dengan rasa mual, kekakuan pada leher, phonophobia, dan photophobia (tingkat sensitivitas tinggi terhadap cahaya).

  • Infeksi Gigi / Gigi Retak

Perbedaannya dari rasa nyeri neuralgia trigeminal adalah terjadinya pembengkakan lokal pada area gigi yang terinfeksi atau mengalami retak.

Selain neuralgia trigeminal, kondisi ini juga kerap dianggap mirip dengan neuralgia glosofaringeal idiopatik.

Lebih rentan terjadi pada lansia, nyeri sementara dapat berubah menjadi lebih konstan pada area rahang.

Arteritis temporal juga ditandai dengan penurunan berat badan serta demam.

Arteri temporal akan terasa lembut namun keras ditambah nadi tidak berdenyut saat diperiksa.

  • Nyeri Wajah Idiopatik Persisten

Pada kasus nyeri wajah satu ini, walaupun mirip dengan neuralgia trigeminal, kondisi ini ditandai dengan tingkat keparahan ringan hingga sedang walau nyerinya berkelanjutan.

Rasa nyeri juga digambarkan seperti menusuk.

Pada kasus nyeri sendi temporomandibular, timbulnya rasa sakit adalah di area telinga yang terkadang dapat menjalar hingga leher.

Namun, ada pula yang merasakan nyerinya hingga ke pelipis.

Pada penderita kondisi ini, membuka mulut saja mungkin akan sulit karena rahang terasa terbatas gerakannya lalu akan timbul bunyi ‘klik’ saat dibuka.

Tinjauan
Neuralgia trigeminal idiopatik sebenarnya tidak menampakkan gejala, namun jikapun timbul gejala, rasa nyeri akan dirasakan baik di salah satu atau kedua sisi wajah dengan sensasi menusuk.

Pemeriksaan Neuralgia Trigeminal Idiopatik

Ketika gejala mulai terasa tak nyaman dan bahkan menghambat berbagai aktivitas sehari-hari, maka penting untuk menemui dokter untuk menempuh beberapa pemeriksaan ini :

  • Pemeriksaan Fisik

Dokter pertama-tama biasanya akan memeriksa bagian wajah pasien untuk menemukan gejala yang dikeluhkan [1,5].

Dokter perlu mengetahui lokasi nyeri dan gangguan terjadi pada cabang saraf trigeminal yang mana.

Tes refleks adalah metode diagnosa yang sering digunakan supaya rasa nyeri dapat dikonfirmasi oleh dokter.

  • Pemeriksaan Riwayat Gejala

Dokter akan memberikan sejumlah pertanyaan terkait keluhan yang dialami selama ini.

Sudah berapa lama gejala timbul, seperti apa awal kemunculan gejala, apa saja gejala yang dirasakan, dan juga kemungkinan apa saja kondisi medis yang dimiliki pasien [1,4,6].

  • Tes Pemindaian

Tes pemindaian seperti pemeriksaan MRI adalah tes penunjang yang juga dibutuhkan agar dokter mampu menghasilkan diagnosa yang tepat [1,3,4,5,6].

MRI scan akan dilakukan pada kepala pasien, dapat diterapkan dengan menyuntikkan zat pewarna khusus lebih dulu atau tanpa zat ini.

Jika memakai zat pewarna khusus yang disebut zat kontras, maka dokter akan menyuntikkannya ke pembuluh darah pasien.

Namun pada kasus neuralgia trigeminal idiopatik, seringkali MRI pun tak mampu mendeteksi kelainan pada saraf atau area nyeri pada wajah [1].

Selain MRI, MRA kemungkinan perlu ditempuh pasien supaya hubungan anatomi kompleks antara struktur pembuluh darah dan saraf dapat diketahui melalui hasil gambar yang keluar [3].

Kriteria Diagnosa Neuralgia Trigeminal

Untuk menentukan bahwa seseorang memang menderita neuralgia trigeminal idiopatik dan bukan penyakit lain dengan kemiripan gejala, beberapa kriteria inilah yang dipertimbangkan dokter [1].

  • Tidak terdapat kelainan atau gangguan lain dalam tubuh yang dikaitkan dengan gejala neuralgia trigeminal idiopatik
  • Saat nyeri paroksismal menyerang, penderita merasakannya hingga 2 menit paling lamadan satu hingga beberapa saraf trigeminal terpengaruh.
  • Tidak terdapat bukti klinis mengenai defisit neurologis.
  • Rasa nyeri timbul seperti menusuk, bersifat tajam, namun intens.
Tinjauan
Pemeriksaan neuralgia trigeminal idiopatik umumnya meliputi pemeriksaan fisik, riwayat gejala, dan tes pemindaian.

Pengobatan Neuralgia Trigeminal Idiopatik

Ketika pasien telah positif terdiagnosa neuralgia trigeminal dan penyebabnya pun telah teridentifikasi, maka dokter baru dapat menentukan jenis pengobatan yang tepat.

Kondisi menyeluruh pasien juga turut menjadi bahan pertimbangan dokter dalam memberikan perawatan yang sesuai.

Umumnya, pengobatan bertujuan utama sebagai pereda rasa nyeri dan metode pengobatan terdiri dari pemberian obat hingga langkah operasi bila diperlukan serta memungkinkan.

1. Pemberian Obat

Pemberian obat adalah langkah awal dalam menangani neuralgia trigeminal dengan tujuan utama sebagai pengendali rasa sakit.

Jenis-jenis obat yang umumnya diresepkan oleh dokter adalah :

  • Antikonvulsan

Oxcarbazepine, gabapentin, clonazepam, lamotrigine, carbamazepine, dan phenytoin merupakan jenis antikonvulsan/antikejang yang biasanya diberikan kepada pasien neuralgia trigeminal untuk membuat impuls saraf melambat [1,3,4].

Tujuan lain adalah agar kemampuan saraf dalam mengirim rasa nyeri menuju otak berkurang.

Untuk mendapatkan manfaatnya, pasien perlu menggunakan obat ini seteratur mungkin sesuai dengan anjuran dokter.

Awalnya, dokter akan memberikan obat dalam dosis rendah, namun akan dilakukan peningkatan dosis jika memang dosis rendah tidak menimbulkan efek apapun.

Ada kemungkinan dokter mengganti jenis obat bila memang pasien tidak merasakan manfaatnya bahkan setelah dosis ditingkatkan.

Waspadai beberapa efek samping dari obat antikonvulsan, seperti linglung, tubuh kelelahan tanpa sebab, pusing, dan mual.

  • Antispasmodik

Obat antispasmodik khususnya baclofen sering digunakan sebagai pelemas otot dan sangat efektif bila dikombinasi bersama carbamazepine [1,8].

Namun, efek samping yang berkemungkinan terjadi adalah linglung, cepat lelah, dan mual.

  • Botulinum Toxin

Botox atau botulinum toxin adalah jenis obat yang diberikan dengan cara disuntik [1].

Tujuan pemberian botox adalah sebagai pereda rasa sakit ketika obat oral tidak efektif dalam menjadi pengurang sakit, namun masih sangat jarang dilakukan.

2. Operasi

Gejala yang tidak efektif diredakan dengan penggunaan obat resep dokter maka perlu diatasi dengan operasi.

Prosedur operasi yang dokter akan rekomendasikan antara lain adalah:

Prosedur ini bertujuan utama mengangkat pembuluh darah yang berhubungan dengan saraf trigeminal.

Ada kemungkinan, tujuan utama adalah memindahkan dan bukan mengangkatnya, lalu dokter akan menempatkan sebuah bantalan di antara saraf dan pembuluh darah.

Dekompresi mikrovaskular juga dapat dilakukan memotong pembuluh darah penekan saraf trigeminal, namun langkah ini hanya saat dokter merasa perlu.

Sayangnya, prosedur ini memiliki beberapa risiko, seperti stroke, mati rasa pada wajah, fungsi pendengaran menurun, dan kelumpuhan.

Istilah lain untuk prosedur ini adalah bedah radiasi pisau gamma di mana dokter akan menggunakan radiasi untuk merusak akar saraf trigeminal yang mengalami tekanan.

Dosis radiasi sudah ditentukan oleh dokter, dan setelah itu biasanya rasa sakit akan berkurang.

Ada kemungkinan pasien akan kembali mengalami rasa nyeri, namun tindakan medis ini juga dapat ditempuh lagi bila perlu.

Tindakan bedah ini bertujuan membuat serabut saraf trigeminal rusak sehingga rasa nyerinya akan berkurang.

Tindakan rhizotomy sendiri terdiri dari tiga pilihan metode, yaitu pertama adalah glycerol injection atau menyuntikkan gliserol sterol ke ganglion saraf trigeminal.

Sementara itu, opsi metode rhizotomy kedua adalah balloon compression, di mana melalui selang kateter balon akan dikembangkan pada dasar tulang tengkorak.

Ketiga adalah radiofrequency thermal lesioning, yaitu jarum khusus dimasukkan ke dasar tulang tengkorak bersama dengan aliran listrik mengalirinya agar jaringan serat saraf trigeminal cepat rusak.

Sebagai efek samping dari prosedur ini, pasien perlu mewaspadai kebasnya wajah, memar, hingga perdarahan di bagian wajah yang ditangani.

Selain itu, walau jarang tetap waspadai pula gangguan pendengaran dan mata pada sisi area wajah yang mendapat penanganan.

Tinjauan
Pemberian obat adalah langkah penanganan neuralgia trigeminal di mana bila kurang efektif dan gejala semakin buruk, langkah operasi akan dokter rekomendasikan.

Komplikasi Neuralgia Trigeminal Idiopatik

Komplikasi paling berpotensi terjadi adalah terhambatnya segala bentuk aktivitas harian karena tak dapat melakukannya dengan normal.

Ketika kondisi gejala berkelanjutan tanpa adanya penanganan, maka hal ini mampu berpengaruh pada sisi psikologis pasien, seperti berkembangnya depresi.

Karena rasa nyerinya yang terus-menerus dirasakan, ada kalanya depresi yang muncul kemudian memicu keinginan untuk bunuh diri pada penderitanya [7].

Tinjauan
Ketidakmampuan dalam melakukan segala aktivitas harian secara normal menjadi komplikasi utama, namun bila kondisi gejala berlanjut maka dapat mengembangkan risiko depresi hingga bunuh diri pada penderitanya.
fbWhatsappTwitterLinkedIn

Add Comment