6 Penyebab Bayi Meninggal dalam Kandungan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by redaction team, read our quality control guidelance for more info

Meninggal di dalam kandungan (stillbirth) didefinisikan sebagai meninggalnya janin yang terjadi setelah 20 minggu kehamilan. Janin yang meninggal sebelum usia 20 minggu biasanya disebut sebagai keguguran[1, 2, 3].

Pada kasus stillbirth, janin dapat meninggal sebelum atau selama kelahiran. Meninggal dalam kandungan dapat dibedakan menjadi early stillbirth (20-27 minggu), late stillbirth (28-36 minggu), atau term stillbirth (37 minggu atau lebih)[1, 3].

Jika usia kehamilan tidak diketahui dengan pasti, bayi disebut meninggal dalam kandungan jika berat badan mencapai 400 gr atau lebih[4].

Insidensi bayi meninggal dalam kandungan yang dilaporkan berbeda secara signifikans di antara studi dari negara yang berbeda an bergantung pada definisi yang digunakan, tapi secara umum berentang dari 3,1 hingga 6,2/1.000 kelahiran atau 1 dalam 160 persalinan[5].

Ketika bayi terlahir dalam keadaan sudah meninggal, orang tua dan keluarga dapat mengalami kesedihan yang teramat dan waktu sulit selama menghadapi guncangan dan duka. Meski demikian, sering kali penyebab dari bayi meninggal dalam kandungan tidak diketahui[4].

Prevalensi dari bayi meninggal dalam kandungan akibat faktor penyebab yang tidak diketahui mencakup 25-60% dari kasus kematian janin, bergantung pada sistem klasifikasi dan evaluasi pada bayi yang dilahirkan meninggal[5].

Berikut penyebab umum bayi meninggal dalam kandungan:

1. Abnormalitas Kromosom

Abnormalitas kromosom diketahui menyebabkan mayoritas keguguran, tapi masalah kromosom dan cacat lahir tertentu juga dapat meningkatkan risiko bayi meninggal dalam kandungan[1].

Abnormalitas kromosom, terutama yang berkaitan dengan abnormalitas anatomik atau cacat lahir, merupakan penyebab sejumlah besar kasus bayi meninggal dalam kandungan. Menurut National Institute of Health (NIH), sekitar 14% dari bayi meninggal dalam kandungan disebabkan oleh cacat lahir atau kondisi genetik[1].

Penyebab genetik paling umum untuk bayi meninggal dalam kandungan ialah akibat abnormalitas kariotipe, namun banyak kasus bayi meninggal dalam kandungan dengan kariotipe normal mengalami abnormalitas genetik[5].

Selain faktor genetik, cacat lahir juga dapat disebabkan oleh faktor lingkungan, meski penyebab tidak selalu diketahui. Cacat lahir berat atau jamak dapat membuat bayi tidak mampu bertahan hidup. Cacat lahir jarang ditemukan tanpa pemeriksaan menyeluruh pada bayi, termasuk otopsi[2, 3].

2. Intrauterine Growth Restriction (IUGR)

Intrauterine growth restriction merupakan kondisi di mana fetus memiliki ukuran tubuh yang jauh lebih kecil dari yang diharapkan pada usia kehamilan. IUGR dianggap sebagai salah satu penyebab paling umum dari bayi meninggal dalam kandungan[1, 5].

Diduga terjadinya pembatasan pertumbuhan disebabkan oleh disfungsi plasenta yang mana dapat berkaitan dengan berbagai penyakit atau infeksi yang dialami ibu. Pada kasus berat, IUGR dapat mneyebabkan bayi meninggal dalam kandungan[1, 5].

Kondisi kesehatan serta gaya hidup ibu dapat meningkatkan risiko IUGR. Pemeriksaan mengenai masalah ini biasanya dilakukan selama kunjungan rutin ke dokter. Dokter juga akan melakukan pemantauan pada pertumbuhan janin, sehingga memungkinkan untuk memberi bantuan jika janin berisiko mengalami gangguan[1].

3. Masalah pada Plasenta

Plasenta ialah organ yang membatasi uterus ketika seorang ibu mengandung. Bayi di dalam kandungan memperoleh suplai darah, oksigen, dan nutrisi melalui plasenta dan tali pusar[2].

Terjadinya masalah pada plasenta dan tali pusar dapat berdampak merugikan bagi bayi. Masalah pada plasenta, seperti kurangnya aliran darah ke organ, bertanggungjawab atas hampir 25% kasus bayi meninggal dalam kandungan[3, 6].

Masalah plasenta di antaranya ialah solusio plasenta, ketuban pecah dini, vasa previa, korioamnionitis, malformasi vaskuler, dan gangguan tali pusar seperti terlilit atau letak yang abnormal[5].

Solusio plasenta (placental abruption) ialah kondisi di mana plasenta secara tiba-tiba terlepas dari dinding uterus selama kehamilan saat bayi masih di dalam kandungan[1, 3].

Solusio plasenta dapat terjadi akibat kondisi kesehatan ibu hamil, cedera pada perut pada selama kehamilan, atau abnormalitas struktural pada uterus. Risiko mengalami solusio plasenta dapat meningkat akibat faktor gaya hidup seperti merokok atau menggunakan alkohol dan obat-obatan berbahaya[1].

Gejala yang ditimbulkan solusio plasenta meliputi sakit perut, kontraksi, dan pendarahan vagina. Jika ibu hamil mengalami gejala tersebut, sebaiknya segera mencari perawatan medis[1].

4. Infeksi

Infeksi maternal (terjadi pada ibu) termasuk salah satu penyebab paling penting bayi meninggal dalam kandungan. Infeksi merupakan faktor penyebab dalam 13% kasus bayi meninggal dalam kandungan[1, 5].

Infeksi yang terjadi pada minggu ke-24 dan 27 kehamilan dapat menyebabkan kematian bayi. Biasanya berupa infeksi bakteri yang berasal dari vagina dan menyebar ke rahim[2].

Penyebab umum infeksi pada ibu hamil antara lain[5]:

Selain infeksi bakteri, bayi meninggal dalam kandungan dapat dipicu oleh adanya infeksi rubella, herpes, penyakit Lyme, listeriosis, fifth disease, sitomegalovirus, dan toksoplasmosis[2, 3].

Pada negara berkembang, infeksi yang mengancam bayi dapat disebabkan oleh malaria, sifilis dan HIV.

5. Komplikasi saat Kehamilan dan Persalinan

Terjadinya komplikasi menjadi penyebab dari hampir 1/3 kasus bayi meninggal dalam kandungan. Komplikasi dapat berupa adanya masalah pada kehamilan seperti jumlah cairan amniotik rendah[1, 6].

Jumlah cairan amnion yang rendah/tidak mencukupi sering kali terjadi bersamaan dengan malformasi kongenital dari saluran uriner bayi dan pembatasan pertumbuhan bayi. Selain itu, sindrom Potter dengan hipoplasia pulmoner atau abnormalitas kompresi permukaan bayi dalam kandungan dapat terjadi (biasanya pada trimester kedua) dan menyebabkan kematian bayi[7].

Komplikasi kehamilan dan persalinan lebih umum menjadi penyebab bayi meninggal dalam kandungan saat persalinan terjadi sebelum minggu ke-24[3].

Risiko terjadinya komplikasi lebih tinggi pada ibu hamil dengan kondisi berikut[1, 7, 8]:

Berusia Kurang dari 20 Tahun

Ibu yang berusia di bawah 20 tahun memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi kesehatan serius dibandingkan ibu berusia lebih dari 20 tahun.

Ibu berusia kurang dari 20 tahun lebih berisiko mengalami:

  • Kelahiran prematur
  • Memiliki bayi dengan berat badan di bawah normal saat lahir
  • Mengalami hipertensi terinduksi kehamilan
  • Mengalami preeklampsia

Berusia Lebih dari 35 Tahun

Ibu berusia lebih dari 35 tahun juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi selama kehamilan, seperti diabetes gestasional, solusio plasenta, bayi meninggal dalam kandungan, dan placenta previa.

Selain itu, ibu berusia lebih dari 35 tahun lebih berisiko memiliki kondisi kesehatan tertentu. Risiko terjadinya abnormalitas kromosom pada bayi juga meningkat seiring meningkatnya usia maternal.

Melahirkan Secara Prematur

Kelahiran prematur ialah persalinan yang terjadi sebelum usia 37 minggu kehamilan. Ibu yang pernah melahirkan secara prematur sebelumnya berisiko lebih tinggi mengalami kelahiran prematur lagi, sehingga dianjurkan untuk dipantau secara ketat pada interval 2 minggu setelah minggu ke-20 kehamilan.

Kehamilan Beberapa Bayi Sekaligus (Kembar 2 atau Lebih)

Risiko terjadinya komplikasi lebih tinggi karena pada kehamilan ini tersedia ruang yang terbatas dan strain berlebih yang disebabkan oleh beberapa bayi dalam rahim dalam waktu bersamaan.

Bayi lebih berisiko terlahir secara prematur. Selain itu, komplikasi kehamilan seperti tekanan darah tinggi dan diabetes lebih umum dialami pada kehamilan dengan beberapa bayi sekaligus.

Kehamilan Melebihi Waktu Normal

Kehamilan yang berlangsung lebih dari 42 minggu memiliki risiko lebih tinggi mengakibatkan bayi meninggal dalam kandungan. Hal ini diduga disebabkan plasenta yang kehilangan kemampuan untuk mendukung bayi dalam kandungan.

Ibu Mengalami Kecelakaan atau Terluka Selama Kehamilan

Cedera seperti kerusakan pleksus brakialis dapat diakibatkan oleh prosedur seperti forceps atau ekstraktor vakum persalinan tapi sering kali disebabkan oleh tekanan dalam rahim selama proses persalinan atau malposisi yang terjadi selama beberapa minggu terakhir kehamilan.

6. Kondisi Kesehatan Ibu Hamil

Beberapa kondisi kesehatan yang dialami ibu hamil berkaitan dengan peningkatan risiko bayi meninggal dalam kandungan. Kondisi ini dapat merupakan kondisi yang sudah dialami sejak sebelum hamil atau yang baru berkembang selama kehamilan[1].

Dua kondisi kesehatan yang lebih umum timbul pada akhir trimester kedua dan awal trimester ketiga ialah preeklamsia dan tekanan darah tinggi kronis[8].

Berikut beberapa kondisi medis lain yang dapat memicu terjadinya bayi meninggal dalam kandungan[1, 5, 8, 9, 10]:

Gangguan Hipertensi (Tekanan Darah Tinggi)

Hipertensi meningkatkan risiko pembatasan pertumbuhan janin (dengan menurunkan aliran darah uteroplasenta), preeklamsia dan eklamsia, serta dampak merugikan lain bagi ibu dan janin.

  • Hipertensi kronis: sudah dialami sebelum kehamilan atau berkembang sebelum minggu ke-20 kehamilan.
  • Hipertensi gestasional: onset baru tekanan darah sistol dan/atau diastol yang tinggi >140/>90 mmHg tanpa proteinuria dan tanpa gejala preeklamsia.
  • Preeklamsia: tekanan darah tinggi dan pembengkakan yang sering terjadi pada usia akhir kehamilan. Onset hipertensi baru (tekanan darah >140/90 mmHg) disertai proteinuria baru tanpa sebab (>330 mg/24 jam atau rasio protein/kreatinin urin ≥0,3) setelah 20 minggu atau tanda kerusakan organ lain. Ibu hamil yang mengalami preeklamsia memiliki risiko dua kali lebih besar mengalami solusio plasenta atau bayi meninggal dalam kandungan.

Kondisi Autoimun

Penyakit yang disebabkan adanya gangguan pada sistem imun. Kondisi autoimun meliputi lupus dan multiple sclerosis. Ibu hamil dengan kondisi autoimun berisiko memiliki bayi yang terlahir prematur atau meninggal dalam kandungan. Selain itu, beberapa obat yang digunakan untuk mengatasi penyakit autoimun dapat membahayakan bayi yang sedang berkembang.

Gangguan Pembekuan Darah Tertentu

Ibu dengan gangguan pembekuan darah memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi kehamilan, terutama jika ibu memiliki riwayat preeklamsia, keguguran, bekuan darah pada kaki atau paru-paru, atau solusio plasenta.

Salah satu gangguan pembekuan darah ialah trombofilia, kondisi di mana darah memiliki kecenderungan tinggi untuk membeku. Bekuan darah dapat menyumbat pembuluh, sehingga mengganggu aliran darah ke plasenta. Akibatnya bayi dapat mengalami kekurangan nutrisi dan oksigen yang diperlukan untuk perkembangannya.

Diabetes Melitus

Ibu dengan diabetes tipe 1 maupun tipe 2 dapat mengalami komplikasi selama kehamilan. Jika diabetes tidak dikendalikan dengan baik, kemungkinan bayi mengalami cacat lahir serta terjadinya masalah kesehatan pada ibu dapat meningkat.

Ibu yang mengalami diabetes gestasional berisiko lebih tinggi untuk mengembangkan diabetes setelah kehamilan berakhir. Oleh karena itu, dianjurkan untuk melakukan tes diabetes setelah kehamilan berakhir.

Obesitas

Ibu dengan obesitas memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan ibu dengan berat badan normal untuk memiliki bayi dengan cacat lahir tertentu, seperti spina bifida, masalah jantung, hidrosepali, dan bibir sumbing.

Selain itu, ibu hamil obesitas berkemungkinan lebih untuk didiagnosis diabetes gestasional selama kehamilan atau memiliki tekanan darah tinggi.

Penyakit Tiroid

Hipertiroidisme (kelenjar tiroid terlalu aktif) atau hipotiroidisme (kelenjar tiroid kurang aktif) yang tidak dikendalikan dapat mengarah pada gagal jantung atau bayi memiliki berat badan kurang serta cacat lahir.

Kolestasis Kehamilan

Disebut juga sebagai kolestasis intrahepatik kehamilan, yaitu suatu gangguan hati yang meliputi gatal-gatal berat. Umumnya gatal dialami pada bagian telapak tangan atau telapak kaki, tapi pada beberapa kasus dapat terjadi gatal di sekujur tubuh. Gatal paling umum terjadi pada trimester ketiga.

Kolestasis kehamilan dapat mengakibatkan komplikasi pada ibu dan bayi yang dikandung. Ibu dengan kondisi ini berisiko mengalami penurunan kemampuan absorpsi lemak. Kolestasis kehamilan berpotensi mengakibatkan bayi lahir prematur, masalah paru-paru akibat menghirup mekonium, dan kematian bayi sebelum dilahirkan.

Penyakit Ginjal

Ibu hamil dengan penyakit ginjal memiliki risiko lebih tinggi mengalami keguguran. Ibu hamil yang memiliki penyakit ginjal hendaknya bekerjasama dengan dokter selama kehamilan untuk memantau diet dan obat yang dikonsumsi.

Para ahli menduga anemia dan defisiensi nutrisi juga dapat menjadi penyebab bayi meninggal dalam kandungan atau dampak merugikan lain pada kehamilan[5].

Jika ibu hamil mengalami komplikasi akibat adanya kondisi kesehatan tertentu, dokter dapat menganjurkan untuk melakukan tes tambahan dan/atau melakukan persalinan sebelum waktu yang diperkirakan[1].

Pencegahan Bayi Meninggal dalam Kandungan

Sebagian besar penyebab dan faktor risiko tidak dapat dikendalikan, sehingga terjadinya bayi meninggal dalam kandungan tidak dapat dicegah sepenuhnya. Meski demikian, ada beberapa hal dapat dilakukan ibu hamil untuk mengurangi risiko, di antaranya[8]:

  • Memeriksakan diri ke dokter sebelum hamil lagi. Jika calon ibu memiliki faktor risiko, seperti diabetes atau tekanan darah tinggi, sebaiknya bekerjasama dengan dokter untuk mengatasi dan memantau kondisi tersebut selama kehamilan.
  • Menjaga kesehatan dan mengkonsumsi asam folat sebelum hamil.
  • Menghindari rokok, alkohol dan obat-obatan berbahaya. Jika mengalami kesulitan menghentikan konsumsi, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter.
  • Menjaga berat badan sehat, sebisa mungkin hindari berat badan berlebih. Dianjurkan untuk mencapai berat badan sehat sebelum hamil. Jika sudah hamil, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter mengenai opsi diet dan olahraga.
  • Rutin melakukan kunjungan ke dokter kehamilan dan pemeriksaan untuk masalah kesehatan potensial sekaligus melakukan tes ultrasound pada awal kehamilan, yang mana dapat membantu mendeteksi masalah.
  • Menjaga kebersihan diri dan lingkungan, melindungi diri dari infeksi. Menghindari makanan tertentu, termasuk beberapa jenis ikan dan keju. Selain itu, ibu hamil sebaiknya memeriksa kembali untuk memastikan daging yang dikonsumsi sudah dimasak dengan benar-benar matang.
  • Tidur dengan posisi miring selama kehamilan, terutama mulai minggu ke-28. Berbaring telentang memberikan tekanan pada pembuluh darah utama, sehingga dapat mengurangi aliran darah ke rahim dan membatasi suplai oksigen bayi. Studi menunjukkan bahwa tidur dengan posisi miring dapat menurunkan risiko bayi meninggal dalam kandungan hingga 50%.
  • Memantau pergerakan bayi, terutama pada trimester ketiga. Ibu dapat melakukan penghitungan tendangan secara harian, mencoba memahami kondisi normal bagi bayi. Jika terjadi perubahan, sebaiknya segera hubungi dokter.
  • Segera menghubungi dokter jika merasakan sakit perut, gatal, atau pendarahan vagina.
  • Jika usia kehamilan sudah melewati usia normal, sebaiknya mengikuti saran dokter untuk menginduksi persalinan atau menjalani prosedur sesar.
  • Jika penyebab terjadinya bayi meninggal dalam kandungan sebelumnya adalah faktor genetik, maka ibu dapat menemui konselor genetik sebelum hamil lagi.
fbWhatsappTwitterLinkedIn

Add Comment