Penghambat Interleukin : Manfaat – Cara Kerja, dan Efek Samping

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by redaction team, read our quality control guidelance for more info

Tinjauan Medis : dr. Maria Arlene, Sp.Ak
Penghambat interleukin adalah golongan agen imunosupresan atau obat yang digunakan untuk menghambat interleukin yang merupakan bagian dari sistem imun. Interleukin adalah kelompok sitokin yang disintesis... oleh limfosit, monosit, makrofag, dan sel imun lainnya. Interleukin terutama berperan dalam regulasi sistem imun. Pada kondisi autoimun, sistem imun yang terlalu berlebihan dapat merusak jaringan sehingga digunakan obat untuk menekan sistem imun ini. Contoh kondisi yang dapat menggunakan obat ini adalah asma, dermatitis, penyakit Crohn, ankylosing spondylitis, dan artritis reumatik. Obat ini merupakan golongan obat keras dan tidak dijual bebas, sehingga penggunaannya harus berdasarkan instruksi dan resep dokter. Jangan mengonsumsi obat lebih dari dosis yang dianjurkan. Jika dokter meresepkan obat ini pada Anda, jangan merekomendasikan obat ini kepada orang lain yang mungkin memiliki kondisi yang sama dengan Anda. Selalu informasikan kepada dokter jika Anda memiliki alergi obat, sedang dalam kondisi hamil atau menyusui, riwayat penyakit dan konsumsi obat apa saja yang Anda miliki. Read more

Penyakit autoimun dan peradangan yang menandakan bahwa kekebalan tidak sengaja menyerang sel yang sehat pada tubuh, dan membuat terjadinya peradangan di bagian tubuh yang terkena disebut dengan penyakit reumatoid artritis (RA). Penyakit ini menyerang persendian, pada tangan, pergelangan tangan, juga lutut[1].

Sendi yang mengalami reumatoid artritis, lapisan pada sendi akanmeradang, sehingga membuat jaringan sendi mengalami kerusakan. Keruskan yang terjadi dapat menimbulkan nyeri yang berlangsung lama, kurangnya keseimbangan juga kelainan bentuk atau cacat bentuk[1].

Fungsi Penghambat Interleukin

Penghambat interleukin merupakan agen imunosupresif yang membuat kerja interleukin menjadi terhambat. Sekelompok sitokin yang disintesis oleh limfosit, monosit, makrofag, dan sel tertentu lainnya disebut dengan interleukin. Sitokin yang disintesis oleh limfosit, monosit, makrofag, dan sel tertentu berfungsi terutama dalam pengaturan terhadap sistem kekebalan[2].

Penghambat interleukin digunakan dalam[3]:

  • Pengobatan rheumatoid arthritis
  • Penyakit inflamasi multisistem onset neonatal
  • Terapi imunosupresif pada pasien transplantasi ginjal
  • Mengobati kambuhnya bentuk multiple sclerosis
  • Penggunaan / pengobatan penyakit autoimun, penyakit crohn, sklerosis multipel, psoriasis dan gangguan psoriatis, dan artritis reumatoid
  • Menangani kondisi inflamasi
  • Mengobati Sindrom Demam Berkala seperti Cryopyrin-Associated Periodic Syndromes (CAPS) dan Familial Mediterranean Fever (FMF)
  • Mengobati Systemic Juvenile Idiopathic Arthritis (SJIA) aktif
  • Mengobati Cytokine Release Syndrome (CRS)
  • Mengobati sindrom periodik terkait cryopyrin, gangguan inflamasi herediter langka
  • Menangani psoriasis plak sedang hingga berat
  • Mengobati penyakit Castleman multisentrik (MCD) pada pasien HIV dan HHV-8 negatif

Penyakit yang Diatasi dengan Penghambat Interleukin

Penghambat Interleukin merupakan agen imunosupresif yang membuat kerja interleukin menjadi terhambat, dan diberikan untuk[2]:

  • Spondilitis ankilosa
  • Asma
  • Asma, Perawatan
  • Dermatitis atopik
  • Rinosinusitis Kronis dengan Polip Hidung
  • Penyakit Crohn
  • Sindrom Periodik Terkait Cryopyrin
  • Sindrom Pelepasan Sitokin
  • Eksim
  • Granulomatosis Eosinofilik dengan Polyangiitis
  • Sindroma Autoinflamasi Dingin Keluarga
  • Demam Mediterania keluarga
  • Arteritis Sel Raksasa
  • Sindrom Hipereosinofilik
  • Sindrom Hyperimmunoglobulin D.
  • Artritis idiopatik juvenil
  • Sindrom Muckle Wells
  • Penyakit Multicentric Castleman
  • Sklerosis ganda
  • Neuromyelitis Optica
  • Spondyloarthritis Aksial Non-Radiografi
  • Transplantasi Organ, Profilaksis Penolakan
  • Perikarditis
  • Psoriasis plak
  • Psoriasis
  • Artritis Psoriatis
  • Artritis reumatoid
  • Penyakit Still
  • Tumor Necrosis Factor Receptor Associated Periodic Syndrome
  • Kolitis ulseratif
  • Kolitis Ulseratif, Aktif

Penyakit autoimun dan peradangan yang menandakan bahwa kekebalan tidak sengaja menyerang sel yang sehat pada tubuh, dan membuat terjadinya peradangan di bagian tubuh yang terkena disebut dengan penyakit reumatoid artritis (RA)[1].

Tanda juga gejala yang di dapat dari reumatoid artritis (RA) yaitu nyeri atau pegal juga kekakuan yang muncul di lebih dari satu sendi, termasuk juga bengkak di lebih dari satu sendi, penurunan dalam berat badan, kelelahan, demam, juga kelemahan[1].

Dengan meninjau gejala, melakukan rontgen, melakukan pemeriksaan fisik dan tes laboratorium merupakan diagnosis yang harus dilakukan untuk mengetahui adanya reumatoid artritis (RA). Mendiagnosis penyakit ini lebih awal dalam 6 bulan sejak gejala adalah yang terbaik[1].

Pengobatan yang efektif, berfungsi untuk menekan juga mengendalikan peradangan yang terjadi, juga dapat membantu dalam mengurangi efek dari reumatoid artritis (RA) yang dapat merusak. Juga dengan diagnosis yang lebih awal dapat memperlambat atau menghentikan perkembangan penyakit misalnya saja kerusakan pada persendian[1].

Cara Kerja Penghambat Interleukin

Penghambat interleukin merupakan agen imunosupresif yang membuat kerja interleukin menjadi terhambat. Sekelompok sitokin yang disintesis oleh limfosit, monosit, makrofag, dan sel tertentu lainnya disebut dengan interleukin. Sitokin yang disintesis oleh limfosit, monosit, makrofag, dan sel tertentu berfungsi terutama dalam pengaturan terhadap sistem kekebalan[2].

Tocilizumab sebagai antibodi monoklonal penghambat interleukin 6 yang digunakan dalam pengobatan terhadap kondisi autoimun dan inflamasi. Obat ini mempunyai durasi kerja yang lama, karena hanya diberikan setiap 4 minggu dan mempunyai indeks terapeutik yang luas[6].

Interleukin 6 merupakan sitokin proinflamasi yang dihasilkan oleh sel termasuk sel T, sel B, limfosit, monosit, fibroblas. Interleukin 6 menginduksi protein C-reaktif, serum amiloid A, fibrinogen, haptoglobin, dan α-1-antichymotrypsin dengan cepat sambil membuat produksi fibronektin, albumin, dan transferin mengalami hambatan[6].

Interleukin 6 juga akan membuat produksi antibodi terinduksi, diferensiasi sel T sitotoksik juga terinduksi, dan menghambat regulasi diferensiasi sel T. Tocilizumab akan mengikat reseptor interleukin 6 yang larut dan juga akan terikat oleh membran, dalam mencegah inflamasi yang dimediasi interleukin 6[6].

Penyerapan tocilizumab dengan bioavailabilitas secara subkutan kisaran 80%. Obat ini bervolume distribusi melalui intravena mencapai 6.4L. Pengeluarannya memiliki waktu paruh, secara intravena akan bergantung pada konsentrasi 6,3 hari sampai 13 hari dan secara subkutan hingga 13 hari[7].

Contoh Obat Penghambat Interleukin

Penghambat interleukin tersedia dalam bentuk kit, bubuk, dan larutan. Beberapa jenis obat ini hanya bisa didapatkan dengan resep dokter dan ada yang dihentikan.

Beberapa contoh penghambat interleukin dengan resep dokter dan dihentikan termasuk[2]:

Tocilizumab sebagai penghambat interleukin telah mendapatkan persetujuan oleh FDA pada 8 Januari 2010, yang digunakan dalam mengobati kondisi inflamasi dan autoimun. Dan obat ini juga masih dalam penyelidikan untuk merawat pasien yang sakit parah karena COVID-19[6].

Sarilumab juga telah mendapatkan persetujuan oleh FDA pada Mei 2017, lalu dilanjuti dengan persetujuan oleh UE pada Juni 2017 dalam mengobati reumatoid artritis (RA) sedang hingga parah bersama kombinasi dengan metotreksat. Pemberian obat ini secara subkutan telah terbukti dapat membuat tingkat reaktan fase akut menurun dan gejala reumatoid artritis (RA) klinis mengalami perbaikan[8].

Efek Samping Penghambat Interleukin

Penghambat interleukin dapat menyebabkan beberapa efek samping yang tidak di inginkan. Beberapa efek samping umum dari penghambat interleukin termasuk[4,5]:

  • Hidung tersumbat
  • Bersin
  • Batuk
  • Sakit tenggorokan
  • Mual
  • Sakit perut
  • Diare
  • Mati rasa
  • Perasaan geli
  • Nyeri, bengkak, kemerahan, gatal, hangat, melepuh, berdarah, atau iritasi lain di tempat suntikkan
  • Buang air kecil yang menyakitkan
  • Pusing
  • Sensasi berputar
  • Sakit kepala
  • Penambahan berat badan

Selama pengobatan menggunakan rilonacept dapat menimbulkan infeksi yang serius bahkan fatal. Segera kunjungi dokter bila mengalami tanda seperti demam, menggigil, gejala flu, mudah memar atau berdarah, kehilangan nafsu makan, sariawan juga kelemahan yang tidak biasa[4].

Bila mengalami infeksi yang aktif atau kronis, mempunyai riwayat tuberkulosis atau kolesterol yang tinggi, beri tahu dokter, sebelum memulai pengobatan dengan rilonacept. Sebelum memulai pengobatan dengan obat ini juga, pastikan untuk mengetahui semua vaksin. Karena tidak boleh menerima vaksin “hidup” saat menggunakan rilonacept[4].

Ketika sedang hamil lalu menggunakan canakinumab, akan mempengaruhi jadwal imunisasi atau vaksinasi bayi selama 12 bulan pertama kehidupan. Pastikan dokter mengetahui bahwa bayi telah terpapar obat ini selama dalam kandungan. Juga jangan memberikan ASI kepada bayi saat menjalani pengobatan dengan canakinumab[5].

Sebelum mulai untuk menggunakan tocilizumab, terlebih dahulu ukurlah jumlah neutrofil dan trombosit, lipid, dan LFT, juga selama pengobatan secara teratur. Sebelum terapi juga harus melakukan tes skrining untuk tuberkulosis laten, dan pantau juga tanda serta gejala terhadap gangguan demielinasi sistem saraf pusat[7].

fbWhatsappTwitterLinkedIn

Add Comment