Bolehkah Minum Obat dan Vitamin Bersamaan?

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by redaction team, read our quality control guidelance for more info

Apakah Anda terbiasa minum obat, baik itu yang rutin maupun saat sedang sakit, bersamaan dengan vitamin atau suplemen lainnya?

Pernahkah Anda mempertimbangkan ada tidaknya bahaya dari minum obat dan vitamin dalam waktu bersamaan?

Interaksi Obat dan Vitamin

Vitamin dan mineral berperan penting dalam hampir semua proses dalam tubuh dan harus didapatkan dari makanan atau suplemen, karena tubuh manusia tidak bisa membuatnya sendiri.

Konsumsi vitamin pada umumnya aman dan efektif untuk menjaga kesehatan tubuh. Tetapi, beberapa jenis vitamin berpotensi menimbulkan interaksi obat-obatan tertentu.

Interaksi vitamin dan obat bisa mengubah penyerapan, metabolisme, atau pembuangan obat dari dalam tubuh sehingga mempengaruhi potensinya. Efek obat yang diminum bisa berkurang atau meningkat akibat interaksi ini. [1, 2]

Jenis-Jenis Vitamin dan Pengaruhnya Pada Obat

Vitamin A

Ini adalah vitamin yang larut dalam lemak dan bisa ditemukan dalam berbagai jenis makanan harian, seperti hati, buah-buahan berwarna kuning dan jingga, serta sayur-sayuran seperti wortel dan bayam.

Vitamin A jarang dikonsumsi dalam bentuk suplemen yang berdiri sendiri, tetapi bisa ditemukan dalam multivitamin yang digunakan untuk kesehatan mata, pertumbuhan tulang, serta sistem kekebalan tubuh. [1, 4, 5]

Vitamin A bisa berinteraksi dengan obat-obatan yang mengandung retinoid yang secara kimiawi mirip dengan vitamin A.

Retinoid semacam isotretinois (Accutane) dan acitretin (Soriatane) biasanya diresepkan untuk pengobatan jerawat dan psoriasis. Bila retinoid digunakan bersamaan dengan konsumsi vitamin A, dikhawatirkan akan terjadi keracunan.

Pasien yang sedang menggunakan produk yang mengandung retinoid sebaiknya menghindari konsumsi vitamin A berlebih dan harus waspada bila terjadi gejala-gejala keracunan seperti:

  • Mual
  • Muntah
  • Pusing
  • Pandangan mengabur
  • Koordinasi otot melemah

Vitamin B6

Dikenal juga dengan sebutan pyridoxine, vitamin B6 larut dalam air dan biasanya digunakan untuk mengatasi beberapa jenis anemia. Makanan yang mengandung vitamin ini termasuk daging, gandum utuh, serta beberapa jenis buah dan sayuran.

Vitamin B6 diketahui bisa mengurangi efek obat yang mengandung phenytoin dan levodopa yang digunakan untuk mengatasi kejang serta terapi Parkinson. [1]

Pasien yang sedang minum kedua obat ini harus berhenti dulu minum suplemen vitamin B6 karena dalam dosis kecil pun bisa mengganggu kerja levodopa.

Vitamin E

Vitamin ini larut dalam lemak dan digunakan untuk berbagai keperluan termasuk mengatasi kekurangan vitamin E, atherosclerosis, Alzheimer, serta berbagai jenis kanker. Vitamin E juga umumnya diberikan pada penderita penyakit kardiovaskular. [1, 3]

Tetapi, vitamin E bisa meningkatkan risiko terjadinya perdarahan pada pasien yang sedang minum warfarin, yaitu obat pengencer darah atau koagulan. Risiko ini terutama bila dosis vitamin E yang dikonsumsi cukup besar (>800 IU).

Untuk itu, pasien yang rutin minum warfarin sebaiknya minum vitamin E dalam bentuk multivitamin yang dosisnya lebih rendah dan bukan suplemen yang hanya mengandung vitamin E saja. [1, 2, 3, 4, 5]

Vitamin K

Vitamin K biasanya digunakan untuk membalik angka INR (international normalized ratio) yang terlalu tinggi pada pasien yang minum warfarin.

Bila warfarin dan vitamin K diminum bersamaan, maka aktivitas warfarin akan berkurang dan bisa menyebabkan menurunnya waktu prothrombin dan INR. Ini artinya, pasien berisiko mengalami penggumpalan darah di vena, embolisme paru, serangan jantung atau stroke. [1, 3]

Pasien yang rutin minum warfarin sebaiknya mengambil vitamin K dari sayuran berdaun hijau dan menghindari konsumsi vitamin K dalam bentuk suplemen.

Niacin

Niacin adalah vitamin B kompleks yang digunakan untuk mengatasi kolesterol tinggi serta kekurangan niacin.

Penderita kolesterol tinggi biasanya akan mengonsumsi niacin yang mereka beli sendiri di apotek atau tanpa resep dokter. Padahal, bila suplemen niacin diminum bersamaan dengan statin, yang umumnya diresepkan untuk pasien dengan kolesterol tinggi, bisa meningkatkan risiko melemahnya jaringan otot (myopathy). [1, 2]

Untuk itu, pasien yang rutin meminum statin harus berkonsultasi lebih dulu dengan dokter sebelum membeli atau mengonsumsi suplemen niacin.

Penggunaan niacin bersamaan dengan statin hanya diperbolehkan bila manfaat penurunan lipid-nya lebih tinggi dibandingkan risiko terjadinya kelemahan jaringan otot.

Asam Folat

Sama seperti niacin, asam folat juga merupakan vitamin B kompleks yang digunakan untuk mengatasi dan mencegah kekurangan asam folat pada ibu hamil serta menekan efek racun akibat terapi methotrexate pada pasien rheumatoid arthritis dan psoriasis. [1]

Tetapi, pada pasien kanker, asam folat bisa menurunkan efektivitas methotrexate yang digunakan untuk terapi.
Jadi, aman tidaknya asam folat diminum bersamaan dengan obat tergantung dari jenis penyakit yang diderita serta, tentu saja, rekomendasi dokter.

Tips Minum Vitamin yang Aman

Sebelum mulai mengonsumsi suplemen makanan, seperti vitamin, sebaiknya cari informasi lebih dulu tentang manfaatnya dan apakah Anda benar-benar perlu untuk meminumnya.

Tips berikut perlu diingat oleh mereka yang rutin mengonsumsi obat: [2, 5]

  • Setiap kali mengunjungi dokter, bawa daftar obat dan suplemen yang sedang diminum. Termasuk dosis dan berapa kali sehari Anda meminumnya.
  • Jika berpikir untuk mulai minum vitamin secara rutin, hubungi dokter lebih dulu dan beri tahu suplemen jenis apa yang rencananya akan digunakan untuk memastikan keamanannya bia dikonsumsi bersamaan dengan obat yang setiap hari harus diminum.
  • Beritahu juga pada dokter jika kondisi tubuh Anda berubah, misalnya hamil, menyusui, atau baru saja menderita suatu penyakit atau menjalani pembedahan.
fbWhatsappTwitterLinkedIn

Add Comment