Rinitis Alergi : Penyebab – Gejala dan Pengobatan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by redaction team, read our quality control guidelance for more info

Apa Itu Rinitis Alergi?

Rinitis Alergi
Rinitis Alergi ( img : Mount Elizabeth Hospitals )

Rinitis alergi yang juga disebut dengan hay fever merupakan sebuah kondisi radang di rongga hidung yang diakibatkan oleh reaksi alergi.

Berbagai alergen seperti bulu hewan, debu, atau bahkan serbuk sari dapat memicu radang tersebut maka kondisi rinitis alergi disebabkan oleh reaksi alergi.

Seseorang dengan kondisi ini biasanya akan mengalami hidung tersumbat, bersin, dan hidung gatal.

Tinjauan
Rinitis alergi atau hay fever adalah kondisi peradangan rongga hidung efek dari reaksi alergi.

Fakta Tentang Rinitis Alergi

  1. Rinitis alergi umumnya dialami dari usia anak-anak dan anak laki-laki lebih berpotensi dalam mengidap rinitis alergi [1].
  2. Sekitar seperlima populasi dunia mengidap rinitis alergi dan memiliki penyakit asma dan penderita rinitis alergi yang persisten dan sudah parah jauh lebih mudah terkena asma [1].
  3. Di Indonesia, prevalensi rinitis alergi adalah 1,5-12,4% dan setiap tahunnya diketahui angka kasusnya mengalami peningkatan [2].
  4. Data WHO tahun 2000 menunjukkan bahwa di Eropa Barat dan Amerika Utara prevalensi rinitis alergi menjadi 23-28% dalam 10 tahun terakhir setelah awalnya berada pada persentase sekitar 13-16% [2].
  5. Di Eropa Barat, prevalensi rinitis alergi menunjukkan peningkatan dua kali lipat terutama pada usia anak sekolah [2].
  6. Sementara itu di Amerika Serikat, prevalensi rinitis alergi perennial dan seasonal mengalami peningkatan sampai 14,2% dan risiko paling tinggi terjadi pada usia antara 25-49 tahun dan 18-34 tahun [2].

Penyebab Rinitis Alergi

Rinitis alergi merupakan sebuah kondisi respon sistem imun tubuh yang mengalami kelainan.

Ketika kondisi tubuh normal, zat alergen atau pemicu reaksi alergi sama sekali tak membahayakan bagi sistem imun.

Hanya saja ketika terjadi kelainan di dalam tubuh, sistem imun menganggap zat-zat tersebut berbahaya sehingga reaksi alergi ditimbulkan sebagai upaya melawan zat-zat tidak berbahaya tersebut.

Pada kasus rinitis alergi, alergen yang masuk ke dalam hidung memicu reaksi sehingga penderita mengalami hidung gatal, pilek dan bersin.

Beberapa alergen yang sangat mudah masuk ke hidung dan memicu reaksi sistem kekebalan tubuh antara lain adalah [1,2,3,4] :

  • Lateks
  • Debu
  • Tungau
  • Serbuk sari
  • Serbuk gergaji
  • Bulu hewan
  • Spora jamur
  • Air liur hewan

Faktor Risiko Rinitis Alergi

Siapapun dapat mengalami rinitis alergi, namun seperti halnya beberapa kondisi medis lain, tetap terdapat faktor-faktor yang meningkatkan risiko rinitis alergi.

Faktor-faktor yang dimaksud antara lain adalah [1,2,3,4] :

  • Paparan asap rokok yang terlalu sering.
  • Alergi dan penyakit lain, seperti dermatitis atopik atau asma.
  • Faktor keturunan, di mana seseorang yang memiliki orang tua maupun saudara kandung dengan kondisi rinitis alergi maka hal ini akan menjadikan orang tersebut memiliki kondisi yang sama.

Tak hanya beberapa faktor risiko tersebut, sejumlah faktor lain berikut ini dapat memperburuk kondisi rinitis alergi, seperti [2,3,4,5,6] :

  • Polusi udara
  • Angin
  • Suhu udara rendah
  • Asap rokok
  • Asap dari kayu
  • Parfum
  • Hairspray
  • Lingkungan dengan tingkat kelembaban tinggi
Tinjauan
Kelainan sistem imun dalam merespon zat-zat tidak berbahaya di dalam tubuh adalah sebab utama, namun alergen yang terhirup dapat kemudian memicu radang sehingga gejala-gejala rinitis alergi.

Gejala Rinitis Alergi

Masing-masing penderita rinitis alergi dapat mengalami gejala yang berbeda.

Biasanya, keluhan gejala akan dirasakan setiap usai terpapar alergen dan sejumlah gejala yang perlu dikenali antara lain adalah [1,2,3,4,7] :

  • Sering sakit kepala
  • Pilek
  • Bersin-bersin
  • Hidung tersumbat atau justru berair
  • Tubuh lemas
  • Ruam timbul di permukaan kulit
  • Mulut dan tenggorokan terasa gatal
  • Area bawah mata tampak lebih gelap
  • Bengkak pada mata
  • Mata gatal dan berair
  • Batuk
  • Tubuh sangat mudah lelah
  • Pada rinitis alergi yang sudah tergolong serius, seringkali penderita dapat mengalami gangguan tidur

Gejala pada Anak

Anak-anak pun memiliki risiko tinggi dalam menderita rinitis alergi.

Gejala-gejala yang juga dapat dialami anak saat rinitis alergi menyerang adalah [8] :

  • Telinga sakit
  • Telinga berdenging
  • Telinga tengah mengeluarkan cairan (otitis media)
  • Keluhan yang mirip dengan gejala flu

Para orang tua mungkin mengira bahwa sang anak mengalami gejala flu biasa.

Untuk dapat membedakannya dari rinitis alergi dan agar tidak salah menangani, bawa anak ke dokter dan berkonsultasilah lebih lanjut.

Kelelahan dan sakit kepala cenderung terjadi secara berulang, terutama ketika penderita terpapar alergen secara jangka panjang.

Hanya saja pada kondisi rinitis alergi, demam tidak termasuk di dalam deretan gejala.

Kemungkinan seseorang dapat mengalami gejala sepanjang tahun pun cukup besar, tergantung tingkat keparahan alergi dan seberapa banyak dan sering paparan alergen menyerang.

Kapan sebaiknya memeriksakan diri ke dokter?

Gejala rinitis alergi umumnya bersifat ringan dan bahkan dapat ditangani tanpa harus ke dokter.

Namun pada beberapa orang, gejala dapat bersifat parah dan berat sampai menjadi penghambat rutinitas.

Jika sudah begini, maka harus segera ke dokter untuk memeriksakan diri.

Berikut ini adalah tanda-tanda bahwa penderita gejala perlu segera ke dokter dan mendapatkan penanganan :

  • Gejala tidak kunjung mereda dan justru semakin parah serta menghambat aktivitas sehari-hari.
  • Obat alergi yang dikonsumsi tidak menunjukkan efek apapun bagi kondisi penderita.
  • Obat alergi memicu efek samping yang mengganggu kelangsungan hidup sehari-hari.
  • Terdapat kondisi lain yang dapat membuat rinitis alergi bertambah parah, seperti penyakit polip hidung, asma, dan sinusitis.
Tinjauan
Gejala utama rinitis alergi mirip dengan flu, namun tanpa disertai demam. Sakit kepala, ruam pada kulit, dan bengkak di area mata pun kemungkinan dapat menyertai.

Pemeriksaan Rinitis Alergi

Untuk memastikan bahwa gejala yang dialami pasien adalah rinitis alergi dan untuk menentukan jenis pengobatan yang sesuai bagi pasien, metode-metode diagnosa berikut diterapkan oleh dokter.

Dokter akan mengambil sampel darah pasien dan menganalisanya di laboratorium untuk mengukur kadar respon sistem imun pasien.

Dokter perlu mengetahui seberapa reaksi imun tubuh pasien terhadap alergen tertentu.

Metode ini juga dikenal dengan istilah radioallergosorbent test.

Tes ini bertujuan mengukur kadar antibodi penyebab alergi pada aliran darah pasien.

Dokter biasanya akan meminta pasien menempuh tes ini untuk mengetahui secara langsung bagaimana reaksi alergi yang keluar dari tubuh pasien setelah dihadapkan pada alergen tertentu.

Bila memang pasien memiliki alergi, maka akan muncul bintik-bintik atau benjolan-benjolan kecil berwarna merah pada area kulit yang terpapar alergen.

Perbedaan Antara Rinitis Alergi dan Pilek Biasa

Karena gejala rinitis alergi kerap mengarah pada kondisi penyakit flu atau pilek biasa, banyak orang tua yang tidak menyadari betapa lebih berbahayanya rinitis alergi jika terjadi pada si kecil.

Sulit untuk membedakan bukan berarti tak dapat dibedakan sama sekali.

Berikut ini adalah perbedaan mendasar yang dapat dikenali pada dua kondisi tersebut [9].

  • Rinitis Alergi

Rinitis alergi terjadi dengan ditandai kondisi hidung berair, mata berair, namun tanpa demam sama sekali.

Umumnya, gejala-gejala yang mirip gejala pilek akan timbul segera setelah terpapar alergen dengan durasi yang dapat pendek maupun panjang.

Keluhan gejala akan terus terjadi selama paparan alergen masih berlangsung.

  • Pilek Biasa

Sementara pada kondisi pilek biasa, penderita mengalami hidung berair (cairan lebih kental dengan warna kekuningan yang berasal dari hidung).

Selain itu, pilek biasa juga dapat ditandai dengan tubuh yang pegal-pegal dan seringkali disertai demam ringan.

Kondisi pilek biasa terjadi 1-3 hari setelah terserang virus penyebab pilek [10].

Lama gejala pun bervariasi, namun dapat dialami oleh penderitanya selama 3-7 hari.

Tinjauan
Tes alergi dan skin prick test merupakan dua metode diagnosa yang umumnya digunakan dokter dalam mendiagnosa gejala rinitis alergi.

Pengobatan Rinitis Alergi

Selain menghindari paparan alergen, rinitis alergi dapat ditangani dengan beberapa jenis obat yang pasti akan diresepkan oleh dokter saat memeriksakan diri.

Jenis-jenis obat yang mampu mengobati gejala rinitis alergi antara lain meliputi :

1. Antihistamin

Antihistamin dalam bentuk pil dapat diresepkan oleh dokter, namun ada pula yang dalam bentuk obat tetes mata serta semprotan hidung [1,3,4,8].

Bentuk antihistamin yang diberikan akan disesuaikan dengan kondisi gejala pasien.

Pemberian antihistamin juga bertujuan untuk meredakan gatal, bersin, serta hidung berair, sekaligus melegakan saluran nafas.

Antihistamin dalam bentuk pil yang bisa didapat tanpa resep dokter sekalipun adalah [11] :

Sementara itu, untuk antihistamin dalam bentuk semprotan hidung (biasanya dengan resep dokter) dan mampu meredakan gejala yang berkaitan dengan hidung antara lain [12,13] :

  • Olopatadine
  • Azelastine
  • Ketotifen fumarate (antihistamin dalam bentuk tetes mata yang dapat mengatasi iritasi mata karena efek paparan alergen)

2. Kortikosteroid Semprot

Kortikosteroid semprot khusus untuk hidung akan mengatasi radang yang terjadi di dalam hidung.

Gejala seperti hidung berair dan gatal dapat diredakan menggunakan obat semprot ini sekaligus mencegahnya kembali terjadi.

Beberapa jenis obat kortikosteroid semprotan untuk hidung adalah [14] :

Ketiganya bisa didapat tanpa resep dokter, sementara itu kortikosteroid semprotan yang umumnya dokter resepkan adalah [12,14] :

  • Fluticasone
  • Azelastine
  • Fluticasone dan azelastine yang dikombinasi dengan antihistamin dengan sebuah steroid.

Penggunaan jangka panjang umumnya aman bagi pengguna, namun efek samping yang perlu diwaspadai adalah iritasi pada hidung walau jarang.

3. Kortikosteroid Oral

Kortikosteroid juga terdapat dalam bentuk pil seperti prednisone yang dapat meredakan gejala-gejala rinitis alergi bahkan yang parah sekalipun [17].

Namun penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan sejumlah efek samping, yaitu osteoporosis, katarak, hingga kelemahan otot.

4. Ipratropium Nasal

Obat jenis antikolinergik ini juga kerap diberikan kepada pasien, khususnya pada penderita penyakit paru obstruktif kronis [18].

Meski begitu, penderita asma dan rinitis alergi juga dapat menggunakannya untuk meredakan sekaligus mencegah sesak nafas, batuk hingga mengi.

5. Dekongestan

Pseudoephedrine adalah dekongestan yang dapat diperoleh di apotek dan toko obat terdekat.

Sementara untuk bentuk semprotan hidung, pasien dapat menggunakan oxymetazoline dan phenylephrine hydrochloride.

Semprotan hidung dekongestan tidak dianjurkan untuk digunakan lebih dari 2 atau 3 hari dalam satu waktu karena mampu mengakibatkan perburukan gejala.

Terdapat pula dekongestan oral, hanya saja beberapa efek sampingnya cukup mengganggu, seperti sakit kepala, mudah marah, insomnia, hingga tekanan darah tinggi.

6. Leukotriene Modifier

Aksi zat sistem imun yang menyebabkan gejala alergi (leukotriene) perlu dihambat dan dokter akan meresepkan tablet montelukast sebagai solusinya [19]

Para penderita rinitis alergi yang memiliki asma dapat menggunakan obat ini dan untuk asma ringan obat dalam bentuk semprotan hidung jauh lebih aman.

7. Cromolyn Sodium

Semprotan hidung satu ini adalah jenis obat yang dapat dibeli tanpa resep dokter serta dapat digunakan sehari beberapa kali [20].

Namun untuk bentuk obat tetes matanya, pasien harus mendapatkannya dengan resep dokter.

Selain itu, obat ini juga dikenal aman karena tidak menimbulkan efek samping serius.

8. Tablet di Bawah Lidah

Bentuk terapi lainnya yang dapat dijalani oleh pasien rinitis alergi adalah penggunaan tablet yang diletakkan di bawah lidah.

Pil ini dapat membantu bagi penderita gejala rinitis alergi karena terpapar sedikit alergen.

9. Imunoterapi

Jika obat-obatan yang telah disebutkan sebelumnya tidak terlalu efektif dalam mengatasi gejala rinitis alergi, imunoterapi sangat dianjurkan [1,2].

Terapi dalam bentuk suntik ini penting bagi pasien di mana selama 3-5 tahun pasien perlu mendapatkan suntikan ini secara rutin.

Suntikan imunoterapi berkandungan sedikit alergen di mana tujuan dari pemberiannya adalah untuk membuat tubuh terbiasa dengan alergen pemicu gejala.

Lama-kelamaan tubuh akan semakin kebal terhadap alergen dan kebutuhan akan obat-obatan pun akan berkurang.

Alergi terhadap bulu hewan, serbuk sari dan debu dapat diatasi dengan imunoterapi; bahkan penderita asma juga aman bila memperoleh tindakan perawatan ini.

10. Pencucian Hidung

Tindakan lainnya yang pasien rinitis alergi bisa lakukan adalah irigasi nasal atau pencucian hidung.

Menggunakan larutan garam atau saline, pasien dapat membersihkan alergen dan lendir di dalam hidung.

Tinjauan
Obat kortikosteroid semprot hidung hingga oral, ipratropium nasal, antihistamin, cromolyn sodium, leukotriene modifier, saline untuk mencuci hidung, imunoterapi, dan dekongestan merupakan metode pengobatan umum untuk penderita rinitis alergi selain penderita harus menghindari alergen.

Komplikasi Rinitis Alergi

Rinitis alergi yang tidak segera mendapatkan penanganan dapat menimbulkan sejumlah risiko komplikasi, yaitu seperti [15] :

  • Otitis media
  • Disfungsi tuba eustachius
  • Kelainan palatal
  • Gangguan pada gigi
  • Sleep apnea
  • Sinusitis akut atau kronik

Pencegahan Rinitis Alergi

Pencegahan rinitis alergi terbaik adalah dengan tidak mendekati bentuk alergen apapun.

Beberapa hal lain yang bisa dilakukan sebagai upaya pencegahan adalah [16] :

  • Hindari menyentuh hidung atau menggosok-gosoknya.
  • Gunakan kacamata hitam sekaligus topi yang melindungi wajah khususnya mata agar serbuk sari tidak mudah masuk ke mata.
  • Hindarkan hewan peliharaan dari kamar untuk mengurangi kadar alergen pada ruang tidur.
  • Cucilah tangan menggunakan air dan sabun secara rutin dan benar.
  • Gunakan vakum untuk mengurangi paparan alergen.
  • Tutup jendela saat musim semi, hal ini agar tidak mudah terkena paparan serbuk sari dari tanaman.
  • Gunakan sarung bantal dan sprei anti tungau debu.
  • Cucilah sarung bantal, sarung guling dan sprei menggunakan deterjen dan air panas untuk membuat alergen berkurang.
Tinjauan
Pencegahan rinitis alergi adalah dengan menghindari alergen dan menjaga kebersihan diri serta lingkungan.
fbWhatsappTwitterLinkedIn

Add Comment