Depresi Klinis: Gejala – Penyebab dan Pengobatan

√ Scientific Base Pass quality & scientific checked by redaction team, read our quality control guidelance for more info

Tinjauan Medis : dr. Maria Arlene, Sp.Ak
Depresi adalah sebuah gangguan mood yang ditandai dengan perasaan sedih, tidak bertenaga, kehilangan minat yang mengganggu aktivitas kehidupan sehari-hari. Gejala depresi bervariasi dari ringan hingga... berat. Wanita lebih rentan untuk mengalami depresi dibandingkan pria, dan terdapat faktor keturunan yang besar dalam penyakit depresi, dimana orangtua dengan depresi akan lebih besar kemungkinan memiliki anak dengan penyakit yang serupa. Depresi merupakan penyakit yang dapat ditangani. Dokter akan melakukan pemeriksaan yang menyeluruh, termasuk wawancara dan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan darah juga mungkin diperlukan untuk menyingkirkan kemungkinan gangguan lain seperti penyakit tiroid atau defisiensi vitamin. Read more

Apa Itu Depresi Klinis ?

Depresi dapat terjadi dengan tingkat keparahan yang meningkat, mulai dari depresi ringan hingga depresi yang berat dan terus menerus [1].

Depresi Klinis merupakan depresi dengan tingkat keparahan yang lebih berat (serius) atau biasa juga disebut sebagai gangguan depresi mayor [1].

Depresi Klinis ini diketahui berbeda dengan depresi yang disebabkan oleh kehilangan seseorang yang dicintai atau gangguan tiroid [1].

Depresi Klinis ini akan cenderung membuat seseorang memiliki suasana hati yang tertekan secara terus menerus sehingga menurunkan minatnya untuk melakukan aktivitas [2].

Lebih dari itu, Depresi Klinis ini akan memunculkan perasaan bersalah, rendah diri, lemas, gangguan psikomotor dan bahkan pikiran untuk melakukan bunuh diri [2].

Gejala Depresi Klinis

Depresi Klinis secara umum dapat menunjukkan gejala sebagaimana kriteria gejala dalam Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental (DSM-5), yang diterbitkan oleh American Psychiatric Association, termasuk [1]:

  • Perasaan sedih, menangis, hampa atau putus asa
  • Lebih mudah marah, mudah tersinggung atau frustrasi bahkan karena hal-hal kecil
  • Minat melakukan sebagian atau bahkan keseluruhan aktivitas hilang
  • Mengalami insomnia atau terlalu banyak tidur
  • Lebih mudah kelelahan dan kekurangan energi
  • Mengalami penurunan nafsu makan hingga berat badan turun atau sebaliknya
  • Mudah merasa cemas, agitasi atau gelisah
  • Cara berpikir, berbicara atau gerakan tubuh menjadi lebih lambat
  • Merasa rendah diri, gagal atau menyalahkan diri sendiri
  • Lebih sulit berkonsentrasi atau membuat keputusan
  • Mudah lupa atau susah mengingat sesuatu
  • Mulai memiliki pikiran tentang kematian, bunuh diri, upaya bunuh diri yang terjadi secara berulang dan terus menerus
  • Mengalami masalah fisik seperti sakit punggung atau sakit kepala tanpa sebab yang jelas

Selain itu, gejala Depresi Klinis dapat juga berbeda beda bergantung pada usia penderitanya. Mengingat, Depresi Klinis dapat terjadi pada semua golongan usia [3].

Adapun berikut ini merupakan gejala Depresi Klinis berdasarkan usia penderitanya [3]:

  • Gejala Depresi Klinis Pada Anak-Anak Dan Remaja (Usia 6–17)

Anak anak dan remaja yang berada pada rentang usia 6–17 tahun, dapat menunjukkan gejala Depresi Klinis seperti :

  1. Mengalami sakit atau nyeri fisik
  2. Lebih sering khawatir tentang kesehatan atau perasaan tidak enak badan
  3. Mengalami gangguan tidur
  4. Mengalami kesulitan berkonsentrasi
  5. Tidak berminat pada hal yang menyenangkan
  6. Menunjukkan atau merasa sedih atau tertekan
  7. Lebih mudah marah
  8. Lebih suka melakukan hal atau kegiatan yang berisiko
  9. Terlihat sangat berenergi meskipun waktu tidur sangat sedikit
  10. Lebih mudah merasa gugup, takut, atau cemas
  11. Melakukan penghindaran pada suatu kegiatan yang menyebabkan kegugupan
  12. Mendengar suara yang tidak didengar orang lain
  13. Memiliki pemikiran kejadian buruk yang menimpa diri sendiri atau orang lain
  14. Cenderung memiliki pikiran negatif pada orang lain seakan akan orang lain akan melakukan kejahatan
  15. Tidak mudah percaya sehingga lebih sering memeriksa segala sesuatu
  • Gejala Depresi Klinis Pada Orang Dewasa (Usia 18+)

Gejala Depresi Klinis pada orang dewasa yang memiliki usia 18 tahun keatas meliputi:

  1. Berkurangnya minat dalam melakukan aktivitas
  2. Merasa rendah diri, tertekan, atau putus asa
  3. Lebih mudah marah
  4. Waktu tidur lebih sedikit
  5. Lebih mudah mengambil atau melakukan hal yang berisiko
  6. Merasa gugup, cemas, takut, atau gelisah
  7. Lebih mudah panik
  8. Melakukan penghindaran pada situasi yang menyebabkan kecemasan
  9. Merasa sakit atau nyeri secara fisik fisik tanpa penyebab jelas
  10. Merasa orang lain memperdulikan atau tidak menanggapi penyakitnya dengan cukup serius
  11. Punya pertimbangan untuk menyakiti diri sendiri
  12. Berhalusinasi seperti mendengar sesuatu yang sebenarnya tidak ada
  13. Merasa orang lain dapat mendengar dan mengerti isi hatinya atau bahkan sebaliknya
  14. Mengalami gangguan tidur
  15. Lebih mudah lupa
  16. Memiliki pemikiran buruk yang terjadi secara berulang
  17. Menarik diri dari lingkungan atau menyendiri
  18. Merasa bingung tentang diri sendiri
  19. Merasa kehilangan arah dan apa yang harus dilakukan dalam hidupnya
  20. Merasa orang orang semakin menjauh darinya
  21. Mengonsumsi lebih banyak alkohol dari biasanya
  22. Mulai merokok atau lebih sering merokok
  23. Sering mengonsumsi obat obatan tertentu
  24. Demensia atau kondisi neurologis lain

Penyebab Depresi Klinis

Depresi Klinis sebagaimana depresi lain dapat berkembang seiring waktu, atau peristiwa atau kombinasi faktor yang dapat memicunya, termasuk [3]:

  • Genetika

Memiliki anggota keluarga dengan riwayat Depresi Klinis dapat menjadi penyebab seseorang mengembangkan Depresi Klinis.

  • Biologi

Kondisi biologis seperti perubahan struktur otak seiring dengan bertambahnya usia dapat menjadi penyebab seseorang mengembangkan Depresi Klinis.

  • Lingkungan

Trauma atau kehilangan seseorang yang dicintai dapat memicu stres, kecemasan, dan depresi termasuk Depresi Klinis, khususnya jika disertasi adanya faktor genetika dan lainnya.

  • Ketidakseimbangan Kimiawi

Ketidakseimbangan kimiawi di otak diketahui dapat menyebabkan depresi, termasuk Depresi Klinis. Mengingat, selama depresi, kelenjar pituitari otak dan hipotalamus merespons secara berbeda hingga menimbulkan menurunnya aktivitas di lobus frontal otak.

  • Perubahan Hormon

Office on Women’s Health (OWH) mengungkapkan bahwa perubahan hormonal dapat menjadi penyebab Depresi Klinis pada wanita.

Dalam hal ini, perubahan keseimbangan hormon progesteron atau estrogen dapat mempengaruhi kemungkinan terjadinya Depresi Klinis.

  • Penyakit Medis

Kondisi fisik, seperti stroke, serangan jantung, atau kanker diketahui dapat menjadi salah satu penyebab Depresi Klinis. Mengingat, penyakit tersebut memiliki tingkat kematian yang tinggi sehingga dapat menyebabkan perubahan signifikan pada gaya hidup seseorang.

Siapa Yang Berisiko ?

Berikut ini merupakan orang orang yang lebih berisiko mengembangkan Depresi Klinis [3, 4]:

  • Seseorang yang berusia 20-an atau 30-an
  • Seorang wanita
  • Seseorang yang memiliki kepribadian rendah diri, pesimis dan suka mengkritik diri sendiri
  • Seseorang yang pernah mengalami peristiwa traumatis atau stres, seperti pelecehan, kehilangan orang yang dicintai, hubungan yang sulit, atau masalah keuangan
  • Seseorang yang memiliki riwayat keluarga sedarah depresi, gangguan bipolar, alkoholisme atau bunuh diri
  • Seseorang yang memiliki kecenderungan seks yang menyimpang seperti lesbian atau gay
  • Seseorang yang sebelumnya telah mengalami gangguan kesehatan mental lainnya
  • Seseorang pecandu alkohol atau narkoba
  • Seseorang yang memiliki penyakit serius atau kronis seperti kanker, stroke, nyeri kronis, atau penyakit jantung
  • Seseorang yang mengonsumsi obat-obatan tertentu, seperti beberapa obat tekanan darah tinggi atau pil tidur
  • Seorang wanita selama kehamilan dan setelah melahirkan
  • Seorang wanita selama siklus menstruasi
  • Seorang wanita yang menopause

Diagnosa Depresi Klinis

Diagnosis Depresi Klinis diketahui akan dilakukan dengan beberapa cara termasuk [4]:

  • Tes fisik, untuk mengetahui gejala fisik atau gangguan kesehatan yang mendasarinya
  • Tes laboratorium, untuk menguji fungsi tiroid
  • Evaluasi psikiatri, untuk mengetahui gejala, pikiran, perasaan, dan pola perilaku

Pengobatan Depresi Klinis

Pengobatan Depresi Klinis diketahui dapat dilakukan dengan berbagai cara termasuk [3, 4]:

  • Konsumsi  Obat Antidepresan

Untuk mengobati Depresi Klinis, dokter mungkin akan meresepkan obat antidepresan seperti :

  1. SSRI : citalopram (Celexa), escitalopram (Lexapro), fluoxetine (Prozac), paroxetine (Paxil, Pexeva), sertraline (Zoloft) dan vilazodone (Viibryd)
  2. SNRI : seperti duloxetine (Cymbalta), venlafaxine (Effexor XR), desvenlafaxine (Pristiq, Khedezla) dan levomilnacipran (Fetzima)
  3. Antidepresan atipikal : bupropion (Wellbutrin XL, Wellbutrin SR, Aplenzin, Forfivo XL), mirtazapine (Remeron), nefazodone, trazodone dan vortioxetine (Trintellix).
  4. Antidepresan trisiklik: imipramine (Tofranil), nortriptyline (Pamelor), amitriptyline, doxepin, trimipramine (Surmontil), desipramine (Norpramin) dan protriptyline (Vivactil)
  5. MAOIs : tranylcypromine (Parnate), phenelzine (Nardil) dan isocarboxazid (Marplan)
  • Psikoterapi

Psikoterapi merupakan salah satu metode terapi yang efektif untuk mengobati depresi. Berikut ini merupakan beberapa jenis psikoterapi yang umumnya digunakan untuk mengobati depresi :

  1. Konseling, untuk mengatasi masalah tertentu, seperti berkabung
  2. Terapi perilaku kognitif, untuk membantu seseorang memahami bagaimana pemikiran yang memengaruhi perilaku dan suasana hatinya

Psikoterapi ini dapat mengobati depresi dengan rentang waktu yang berbeda beda pada setiap orang, mulai dari beberapa bulan hingga beberapa tahun.

  • Terapi Stimulasi Otak

Terapi stimulasi otak diketahui dapat menjadi salah satu alternatif ketika terapi lain tidak memberikan hasil positif dalam mengobati Depresi Klinis. Adapun terapi stimulasi otak ada beberapa jenis termasuk :

  1. Terapi elektrokonvulsif
  2. Stimulasi magnetik transkranial berulang (rTMS)
  • Perubahan Gaya Hidup Dan Perawatan Rumahan

Depresi Klinis sebagaimana depresi pada umumnya bukan penyakit yang dapat diatasi sendiri tanpa bantuan dari profesiona. Namun, selain mendapatkan bantuan dari ahli mental, perawatan diri sendiri juga diperlukan untuk membantu penyembuhan Depresi Klinis.

Adapun perubahan gaya hidup dan perawatan rumahan yang dapat dilakukan untuk membantu penyembuhan Depresi Klinis antara lain :

  1. Selalu melakukan perawatan dengan disiplin sebagaimana yang disarankan oleh dokter atau ahli mental
  2. Selalu memantapkan hati dan pikiran bahwa kesembuhan butuh proses dan waktu
  3. Selalu mencoba memotivasi diri sendiri
  4. Anggota keluarga memberikan dan menunjukkan kepedulian yang lebih pada penderita Depresi Klinis
  5. Memantau diri sendiri dan selalu jujur kepada dokter atau ahli mental terkait perkembangan atau gejala yang dialami selama proses penyembuhan
  6. Meminta orang terdekat untuk turut serta memantau gejala atau kondisi diri
  7. Mengetahui dengan pasti apa yang menjadi penyebab timbulnya gejala
  8. Tidak mengonsumsi alkohol dan narkoba
  9. Makan makanan yang sehat
  10. Melakukan aktivitas fisik secara lebih aktif
  11. Mengontrol kualitas dan kuantitas tidur
  12. Melakukan olahraga secara rutin
  13. Selalu menyempatkan diri melakukan hal yang disukai setiap hari

Pencegahan Depresi Klinis

Pencegahan terhadap depresi sejauh ini masih belum diketahui secara pasti. Namun, hal hal berikut ini mungkin akan dapat membantu mengurangi risiko terjadinya Depresi Klinis [4]:

  • Secara aktif mengambil langkah-langkah untuk mengendalikan stress
  • Meningkatkan ketahanan diri secara aktif
  • Memupuk rasa kepercayaan diri dan belajar untuk lebih menghargai diri sendiri
  • Mendekat kepada keluarga dan teman, terutama di saat krisis
  • Mencari bantuan orang terdekat jika sedang menghadapi masa sulit
  • Periksakan diri kedokter atau ahli kesehatan mental jika mengalami gejala depresi agar segera mendapat penanganan yang tepat
  • Selalu mempertimbangkan melakukan hal pencegahan kekambuhan gejala dengan perawatan pemeliharaan jangka panjang
fbWhatsappTwitterLinkedIn

Add Comment